Rabu, 28 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Netanyahu Terjepit, Suara Arab Jadi Kunci Menang Pemilu Israel

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Netanyahu Terjepit, Suara Arab Jadi Kunci Menang Pemilu Israel
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

YERUSALEM, BeritaNow.com — Pemilihan umum Israel menghadirkan kejutan politik yang tidak sepenuhnya menguntungkan dua tokoh utama dalam persaingan kekuasaan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan penantangnya, Gadi Eisenkot, sama-sama menghadapi kesulitan membentuk pemerintahan setelah proyeksi kursi parlemen menunjukkan tidak satu pun kubu meraih mayoritas. Di tengah kebuntuan itu, partai-partai yang mewakili warga Arab Israel justru muncul sebagai kekuatan yang berpotensi menentukan siapa yang dapat memimpin negara tersebut.

Pemilu berlangsung pada Selasa (27/10/2026), dengan penghitungan suara berlanjut hingga Rabu. Hasil jajak pendapat seusai pemungutan suara (exit poll) dari sejumlah stasiun televisi Israel menunjukkan kubu Netanyahu dan kubu oposisi masing-masing memperoleh sekitar 50–52 kursi. Padahal, pemerintahan memerlukan dukungan mayoritas sedikitnya 61 dari total 120 kursi Knesset atau parlemen Israel.

Situasi tersebut menciptakan ironi politik bagi Netanyahu maupun Eisenkot. Keduanya berusaha meyakinkan pemilih bahwa mereka mampu memimpin Israel menghadapi berbagai persoalan keamanan, tetapi hasil sementara justru memperlihatkan ketergantungan terhadap kekuatan politik lain. Partai-partai Arab yang selama kampanye menjadi sasaran perdebatan kini diproyeksikan memiliki posisi tawar penting dalam pembentukan pemerintahan.

Pemenang Pemilu Belum Tentu Menjadi PM
Partai Likud yang dipimpin Netanyahu diperkirakan tetap menjadi partai terbesar dengan sekitar 27 kursi menurut sejumlah proyeksi yang diperbarui. Sementara itu, Yashar yang dipimpin Eisenkot diproyeksikan memperoleh sekitar 20–22 kursi. Namun, keunggulan satu partai tidak otomatis menjamin bahwa pemimpinnya akan kembali menjabat perdana menteri.

Sistem parlementer Israel mengharuskan partai-partai membangun koalisi untuk membentuk pemerintahan. Presiden Isaac Herzog nantinya akan berkonsultasi dengan perwakilan partai sebelum menunjuk tokoh yang dinilai mempunyai peluang membentuk koalisi. Dengan demikian, kemampuan menggalang dukungan politik dapat menjadi faktor penentu setelah penghitungan suara selesai.

Eisenkot menyambut hasil awal sebagai keinginan masyarakat terhadap perubahan pemerintahan. Sebaliknya, Netanyahu menonjolkan posisi Likud sebagai partai terbesar dan menyerukan terbentuknya pemerintahan berhaluan kanan. Kedua pernyataan tersebut merupakan klaim politik masing-masing pemimpin, bukan penetapan hasil akhir pemilu.

Partai Arab Mendadak Memegang Kartu Penting
Kejutan lain berasal dari peningkatan dukungan terhadap partai-partai Arab. Gabungan Joint List dan Ra'am diproyeksikan memperoleh sekitar 17–19 kursi, jauh lebih besar dibandingkan kekuatan gabungan mereka di parlemen sebelumnya. Jika proyeksi tersebut bertahan dalam hasil resmi, kelompok ini dapat menjadi faktor penting dalam menentukan susunan pemerintahan.

Namun, persoalannya tidak sesederhana menambahkan kursi partai Arab ke salah satu kubu. Sebagian pemimpin oposisi sebelumnya menolak kemungkinan membentuk pemerintahan bersama partai-partai tersebut. Penolakan itu membuat Eisenkot menghadapi dilema antara mempertahankan posisi politik selama kampanye dan mencari dukungan yang dibutuhkan untuk memerintah.

Pemimpin Ra'am, Mansour Abbas, menyatakan harapan agar hasil pemilu memungkinkan oposisi memperoleh dukungan parlemen yang cukup untuk membentuk pemerintahan. Meski demikian, dukungan dari luar koalisi, abstain dalam pemungutan suara tertentu, dan keikutsertaan resmi dalam kabinet merupakan pilihan politik yang berbeda. Belum ada kesepakatan yang memastikan partai-partai Arab akan mendukung pemerintahan tertentu.

Kampanye Keras, Hasilnya Justru Kebuntuan
Pemilu kali ini berlangsung dalam suasana politik yang dipengaruhi perang Gaza, persoalan keamanan nasional, serta ketegangan mengenai kebijakan pemerintahan Netanyahu. Isu wajib militer bagi kelompok Yahudi ultra-Ortodoks juga menjadi perdebatan dalam kampanye. Bagi sebagian pemilih, pemungutan suara menjadi kesempatan menilai kepemimpinan Netanyahu sejak serangan Hamas pada Oktober 2023.

Ketegangan semakin terlihat ketika sejumlah politikus dari partai Arab menuduh Netanyahu menggunakan pernyataan yang menyudutkan pemilih Arab untuk meningkatkan dukungan terhadap Likud. Netanyahu sebelumnya mengeluarkan sejumlah pernyataan yang mengaitkan mobilisasi pemilih Arab dengan ancaman terhadap kubu politiknya. Tuduhan mengenai tujuan pernyataan tersebut tetap harus dipahami sebagai bagian dari perselisihan politik selama kampanye, bukan kesimpulan mengenai motif pribadi.

Partisipasi pemilih tercatat tinggi dalam pemilu ini. Associated Press dan laporan lain menyebut angka partisipasi mencapai sekitar 77,7 persen, dengan peningkatan dukungan pemilih di sejumlah komunitas Arab. Tingginya partisipasi itu memperkuat perhatian terhadap hasil pemilu, tetapi belum menyelesaikan persoalan siapa yang mampu membentuk pemerintahan.

Israel Bisa Menghadapi Negosiasi Panjang
Apabila hasil resmi tetap menunjukkan tidak ada kubu yang mempunyai mayoritas, Israel berpotensi memasuki perundingan koalisi yang panjang. Partai-partai dapat mempertimbangkan kerja sama baru, dukungan terhadap pemerintahan minoritas, atau kesepakatan berbagi kekuasaan. Namun, setiap pilihan menghadapi hambatan karena perbedaan posisi politik yang telah disampaikan selama kampanye.

Kebuntuan bukan pengalaman baru bagi Israel. Negara tersebut pernah menyelenggarakan lima pemilu dalam kurun sekitar tiga setengah tahun sebelum November 2022 karena kesulitan membentuk pemerintahan yang stabil. Apabila perundingan kali ini kembali gagal, kemungkinan pemilu ulang dapat muncul melalui proses konstitusional.

Sampai pemerintahan baru terbentuk, Netanyahu tetap menjalankan tugas sebagai perdana menteri dalam pemerintahan sementara. Situasi tersebut membuat hasil politik tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang unggul pada malam pemungutan suara. Di tengah persaingan dua tokoh utama, partai-partai Arab kini mempunyai kesempatan memengaruhi pembicaraan politik yang dapat menentukan arah pemerintahan Israel berikutnya.(*)

Komentar (0)