Museum Tembok Besar China Dibuka, Wisata Sejarah Semakin Menarik
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
BEIJING, BERITANOW.COM — Museum Tembok Besar China di kawasan Badaling, Beijing, kembali menerima pengunjung setelah menjalani renovasi selama lebih dari tiga tahun. Museum yang mulai dibuka untuk umum pada Sabtu (24/10/2026) tersebut menghadirkan lebih dari 700 koleksi benda bersejarah, ruang pamer modern, serta pengalaman wisata yang menghubungkan sejarah dengan pemandangan langsung Tembok Besar. Pembukaan kembali ini menjadi bagian dari upaya China memperkuat pelestarian warisan budaya sekaligus meningkatkan kualitas wisata sejarah.
Berlokasi di Distrik Yanqing, museum tersebut pertama kali beroperasi pada 1994 sebelum ditutup pada April 2022 untuk menjalani pembaruan. Pekerjaan konstruksi dimulai pada Desember 2023 dan dinyatakan selesai melalui pemeriksaan bersama pada Juni 2026. Pembaruan tidak hanya dilakukan pada fasilitas pameran, tetapi juga desain bangunan agar lebih menyatu dengan lanskap pegunungan Badaling.
Museum kini memiliki luas bangunan sekitar 16.000 meter persegi yang mencakup ruang pameran, pendidikan, pelayanan pengunjung, penyimpanan koleksi, dan penelitian. Pameran utamanya menghadirkan lebih dari 700 benda atau kelompok artefak yang berasal dari koleksi museum sendiri maupun pinjaman lembaga lain di China. Sebanyak 24 museum turut berkontribusi dalam penyediaan koleksi, termasuk sepuluh benda yang dikategorikan sebagai artefak budaya tingkat satu.
Sejarah Dua Milenium dalam Satu Museum
Tembok Besar China merupakan salah satu peninggalan sejarah paling dikenal di dunia. Pembangunannya berlangsung melalui berbagai periode pemerintahan selama lebih dari dua ribu tahun, dengan fungsi utama yang berkaitan dengan pertahanan wilayah dan pengawasan perbatasan. Namun, keberadaannya juga mencerminkan hubungan politik, perdagangan, serta interaksi masyarakat yang berkembang di sepanjang kawasan perbatasan China.
Melalui pameran permanen, museum memperkenalkan perjalanan pembangunan Tembok Besar beserta perubahan perannya dari masa ke masa. Pengunjung dapat mempelajari perkembangan teknik konstruksi, fungsi pertahanan, serta hubungan antarkelompok masyarakat di sekitar jalur benteng tersebut. Pendekatan ini memperluas pemahaman bahwa Tembok Besar tidak semata-mata merupakan bangunan militer, tetapi juga bagian dari sejarah sosial dan kebudayaan.
Pameran juga menampilkan perkembangan metode pelestarian, mulai dari tindakan penyelamatan bangunan bersejarah hingga konservasi yang lebih sistematis. Informasi tersebut memberi kesempatan kepada pengunjung memahami tantangan menjaga struktur kuno yang tersebar di berbagai wilayah. Dengan demikian, museum berfungsi bukan hanya sebagai tempat menyimpan artefak, tetapi juga sebagai pusat edukasi mengenai pentingnya perlindungan warisan budaya.
Bangunan Dirancang Menyatu dengan Pegunungan
Salah satu perubahan paling menonjol terdapat pada pendekatan arsitektur museum. Dalam proses renovasi, ketinggian bangunan dikurangi dari sekitar 16 meter menjadi sembilan meter agar tidak mendominasi lanskap Tembok Besar. Desainnya mengambil inspirasi dari bentuk tembok, gerbang pertahanan, dan garis pegunungan di kawasan Badaling.
Pada lantai dua, pengunjung dapat memasuki ruang yang dikenal sebagai Great Wall Hall atau Aula Tembok Besar. Ruangan tersebut dilengkapi dinding kaca berukuran besar yang memungkinkan pengunjung memandang langsung bentangan Tembok Besar Badaling. Konsep ini menggabungkan pengalaman melihat koleksi sejarah dengan pengamatan terhadap situs aslinya.
Museum juga menghadirkan karya seni berupa patung, instalasi, serta lukisan yang terinspirasi dari Tembok Besar. Kehadiran karya kontemporer tersebut memberikan pendekatan berbeda dalam memperkenalkan warisan sejarah kepada masyarakat. Pengunjung tidak hanya memperoleh informasi melalui dokumen dan artefak, tetapi juga melalui pengalaman visual yang menghubungkan masa lalu dengan ekspresi seni modern.
Wisata Sejarah Dibuka Gratis, Pengunjung Dibatasi
Pembukaan kembali museum menghadirkan fasilitas edukasi yang dapat diakses masyarakat tanpa biaya tiket masuk. Selama masa uji operasional, museum menerapkan batas kunjungan maksimal 4.000 orang setiap hari tanpa kewajiban reservasi terlebih dahulu. Kebijakan tersebut memungkinkan wisatawan mengunjungi museum secara langsung, sepanjang kapasitas harian belum terpenuhi.
Museum beroperasi pukul 09.00 hingga 17.00 waktu setempat, dengan penerimaan pengunjung terakhir pada pukul 16.30. Fasilitas tersebut tutup setiap Selasa, kecuali apabila terdapat ketentuan khusus pada hari libur nasional. Pengunjung diwajibkan membawa dokumen identitas yang sah, sedangkan anak berusia 14 tahun ke bawah harus didampingi orang dewasa.
Pengelola juga menyediakan layanan penjelasan koleksi secara gratis pada pukul 10.00 dan 14.00 setiap hari operasional. Pada masa libur nasional, sesi tambahan dijadwalkan pukul 12.00. Fasilitas tersebut dapat membantu pengunjung memahami konteks sejarah koleksi tanpa hanya mengandalkan informasi tertulis di ruang pameran.
Pelestarian Budaya Menjadi Daya Tarik Pariwisata
Pembukaan kembali museum memperkuat hubungan antara pelestarian warisan budaya dan pengembangan pariwisata. Kawasan Badaling telah lama menjadi salah satu tujuan utama wisatawan yang ingin mengunjungi Tembok Besar China. Kehadiran museum yang diperbarui memberikan pilihan kegiatan edukatif bagi wisatawan selain berjalan menyusuri benteng bersejarah.
Dari sisi ekonomi, fasilitas wisata yang lebih beragam berpotensi mendorong pengunjung menghabiskan waktu lebih lama di kawasan Badaling. Kondisi tersebut dapat membuka peluang bagi kegiatan perdagangan, transportasi, dan pelayanan wisata setempat. Namun, belum terdapat data yang membuktikan peningkatan jumlah wisatawan atau pendapatan kawasan setelah museum kembali dibuka.
Bagi pengelolaan situs bersejarah, renovasi ini juga memperlihatkan pentingnya menyeimbangkan kebutuhan pengunjung dan pelestarian lingkungan. Bangunan yang dirancang mengikuti karakter lanskap dapat membantu mengurangi dominasi visual fasilitas modern terhadap situs kuno. Pendekatan tersebut menjadi relevan bagi berbagai negara, termasuk Indonesia, yang menghadapi tantangan serupa dalam mengembangkan pariwisata di sekitar kawasan cagar budaya.
Museum Tembok Besar China kini tidak sekadar menawarkan koleksi baru, tetapi juga cara berbeda untuk memahami perjalanan panjang salah satu peninggalan sejarah dunia. Kombinasi artefak, pendidikan, arsitektur, dan pemandangan langsung Badaling menempatkan museum sebagai bagian dari pengalaman wisata sejarah yang lebih lengkap. Keberhasilan pengembangannya dalam jangka panjang akan bergantung pada kualitas pengelolaan koleksi, akses masyarakat, serta konsistensi perlindungan situs Tembok Besar.(*)