Rabu, 04 November 2026
Breaking News
Daerah

Miris! Kampung Zombie di Jakarta Timur Ditinggal Warga, Banjir Tak Kunjung Usai

Effra S. Husein | | 3 mnt baca
Miris! Kampung Zombie di Jakarta Timur Ditinggal Warga, Banjir Tak Kunjung Usai
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Kampung Zombie Cililitan di Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, menjadi gambaran nyata bagaimana banjir menahun dapat mengubah kehidupan sebuah permukiman. Puluhan rumah kini kosong dan terbengkalai setelah penghuninya memilih meninggalkan kawasan tersebut akibat banjir yang terus berulang.

Kawasan yang dikenal sebagai Kampung Nanggar Al-Hikmah itu berada di bantaran anak Kali Ciliwung. Suasana yang dahulu ramai kini berubah lengang. Sejumlah bangunan tampak rusak, dinding mengelupas, atap runtuh, sementara sebagian rumah dipenuhi lumpur dan tanaman liar.

Berdasarkan kondisi terbaru yang dilaporkan pada Selasa (3/11/2026), sekitar 23 kepala keluarga (KK) telah meninggalkan permukiman tersebut. Dari total sekitar 43 KK yang tercatat, sebagian lainnya masih memilih bertahan meskipun harus menghadapi ancaman banjir setiap tahunnya.

Ketua RT 06/RW 07, Nurhidayat, mengungkapkan bahwa sebagian warga sebenarnya ingin pindah ke tempat yang lebih aman. Namun, persoalan biaya menjadi kendala utama.

"Yang sudah pindah sekitar 23 KK. Sisanya ya hidup seadanya di sini soalnya sewa di luar mahal," ujar Nurhidayat saat ditemui, Selasa (3/11/2026).

Banjir Berulang, Rumah Tak Lagi Nyaman Dihuni

Persoalan banjir di Kampung Zombie bukan kejadian baru. Kawasan tersebut sudah mengalami banjir sejak 1996. Seiring waktu, intensitas dan dampaknya semakin berat hingga membuat warga kehilangan kenyamanan untuk tinggal.

Banjir besar pada 2009 dan 2014 bahkan dilaporkan mencapai sekitar tujuh meter di sejumlah titik. Kondisi tersebut menjadi salah satu pemicu warga mulai meninggalkan rumah mereka secara bertahap.

Tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, banjir juga menyebabkan kerusakan bangunan dan membuat rumah-rumah sulit dijual maupun disewakan.

Akibatnya, sebagian pemilik rumah memilih membiarkan bangunannya kosong. Sementara warga yang masih bertahan harus menyesuaikan kehidupan dengan kondisi lingkungan yang jauh dari ideal.

Bertahan Bukan Berarti Tak Ingin Pindah

Di balik rumah-rumah kosong dan suasana yang menyerupai kawasan terbengkalai, masih ada warga yang mempertahankan tempat tinggalnya.

Bagi mereka, meninggalkan kampung bukan perkara mudah. Membeli rumah baru membutuhkan biaya besar, sedangkan menyewa tempat tinggal di kawasan lain juga memerlukan penghasilan tetap.

Situasi tersebut membuat sebagian warga seolah terjebak dalam pilihan sulit: tetap tinggal dengan ancaman banjir atau pindah tanpa kepastian kemampuan ekonomi.

Kondisi Kampung Zombie sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan banjir tidak semata-mata berkaitan dengan genangan air. Ada persoalan sosial, ekonomi, dan keberlanjutan tempat tinggal yang ikut terdampak.

Menanti Solusi Pemerintah

Kondisi Kampung Zombie Cililitan membutuhkan perhatian serius dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Penanganan banjir perlu disertai langkah perlindungan terhadap warga yang masih bertahan di kawasan tersebut.

Normalisasi aliran kali, perbaikan infrastruktur pengendalian banjir, hingga opsi relokasi yang layak dan manusiawi dapat menjadi bagian dari solusi.

Relokasi, jika diperlukan, juga harus mempertimbangkan kemampuan ekonomi warga agar mereka tidak kehilangan tempat tinggal tanpa mendapatkan alternatif yang terjangkau.

Kampung Zombie bukan sekadar permukiman yang ditinggalkan penghuninya. Kawasan ini menjadi pengingat bahwa di tengah pembangunan Jakarta, masih ada warga yang harus berjuang mempertahankan rumahnya dari ancaman banjir yang terus berulang. (*)

Komentar (0)