Sabtu, 03 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Mesir-Ethiopia Saling Usir Diplomat, Ketegangan Sungai Nil Meningkat

Effra S. Husein | | 2 mnt baca
Mesir-Ethiopia Saling Usir Diplomat, Ketegangan Sungai Nil Meningkat
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM — Hubungan Mesir dan Ethiopia kembali mengalami ketegangan diplomatik. Kedua negara saling menyatakan diplomat dari pihak lawan sebagai persona non grata dan memerintahkan mereka meninggalkan wilayah masing-masing dalam waktu 48 jam.

Langkah tersebut bermula ketika pemerintah Ethiopia menyatakan diplomat Mesir Ahmed Moharam Ahmed Soliman sebagai persona non grata pada 1 Oktober 2026. Kementerian Luar Negeri Ethiopia menyebut keputusan itu dilakukan berdasarkan Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik, tanpa menjelaskan secara terbuka alasan spesifik di balik pengusiran tersebut.

Mesir kemudian mengambil langkah timbal balik. Kairo menyatakan seorang konselor Kedutaan Ethiopia sebagai persona non grata dan memberikan waktu 48 jam untuk meninggalkan Mesir. Pemerintah Mesir menyebut tindakan tersebut sebagai penerapan prinsip resiprositas setelah keputusan Ethiopia terhadap diplomat Mesir.

Pertukaran pengusiran diplomat terjadi ketika hubungan kedua negara memang telah lama diwarnai perbedaan kepentingan mengenai Sungai Nil.

Salah satu titik utama perselisihan adalah pembangunan dan pengoperasian Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) di Sungai Nil Biru. Ethiopia memandang proyek bendungan tersebut sebagai bagian dari kebutuhan pembangunan dan pembangkit listrik. Sementara itu, Mesir berkepentingan mempertahankan akses terhadap pasokan air Sungai Nil yang menjadi sumber penting bagi kehidupan dan perekonomian negaranya.

Perundingan mengenai aturan pengoperasian GERD telah berlangsung selama bertahun-tahun, tetapi belum menghasilkan kesepakatan yang diterima seluruh pihak. Sengketa tersebut membuat isu pengelolaan air Nil tetap menjadi salah satu persoalan diplomatik paling sensitif antara Kairo dan Addis Ababa.

Meski demikian, pengusiran diplomat terbaru belum secara resmi dinyatakan Ethiopia sebagai akibat langsung dari sengketa GERD. Perkembangan itu justru muncul bersamaan dengan memburuknya situasi keamanan di kawasan Tanduk Afrika.

Pada saat yang hampir bersamaan, Ethiopia juga menutup kedutaannya di Eritrea dan mengusir 10 diplomat Eritrea. Eritrea merespons dengan menyatakan pemutusan hubungan diplomatik dengan Ethiopia. Addis Ababa menuduh Eritrea, Sudan, dan Mesir mendukung aliansi oposisi yang dipimpin kelompok Tigray People's Liberation Front (TPLF). Ketiga negara yang dituduh membantah keterlibatan tersebut.

Situasi itu membuat ketegangan Ethiopia-Mesir berlangsung dalam konteks regional yang lebih luas. Konflik internal Ethiopia, hubungan dengan Eritrea, serta kepentingan negara-negara di sekitar Laut Merah dan Sungai Nil saling beririsan.

Komisi Uni Afrika kemudian menyerukan Ethiopia, Eritrea, dan Mesir menahan diri serta menghindari tindakan atau pernyataan yang dapat memperburuk ketegangan. Uni Afrika juga mendorong penyelesaian perbedaan melalui jalur diplomasi dan dialog.

Dengan demikian, saling usir diplomat antara Mesir dan Ethiopia menjadi sinyal memburuknya hubungan bilateral. Namun, sejauh informasi resmi yang tersedia, belum ada keputusan mengenai pemutusan hubungan diplomatik antara Kairo dan Addis Ababa. (*)

Komentar (0)