Senin, 05 Oktober 2026
Breaking News
Daerah

Maulid di Jaksel Berujung Ricuh, Petasan hingga Dini Hari Picu Protes Warga

Effra S. Husein | | 2 mnt baca
Maulid di Jaksel Berujung Ricuh, Petasan hingga Dini Hari Picu Protes Warga
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Acara Maulid Nabi di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, berujung keributan setelah penggunaan petasan hingga dini hari memicu protes warga. Perselisihan tersebut kini dalam proses mediasi oleh pihak kelurahan.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (3/10/2026) dini hari. Suasana di sekitar lokasi acara memanas setelah warga mempersoalkan suara petasan dan kembang api yang masih terdengar hingga sekitar pukul 01.00 WIB.

Keluhan warga kemudian terekam dalam video yang beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, seorang perempuan menyampaikan keberatan karena suara ledakan mengganggu waktu istirahat warga di sekitar lokasi.

Menurut informasi yang beredar, suara petasan juga membuat sejumlah anak terbangun. Salah seorang warga bahkan menyampaikan bahwa anaknya yang berkebutuhan khusus mengalami kondisi yang terganggu akibat suara keras tersebut.

Situasi kemudian berkembang menjadi adu mulut antara warga dan sejumlah pihak yang berada di lokasi acara. Keributan itu menjadi perhatian setelah videonya tersebar di media sosial.

Kapolsek Kebayoran Lama Kompol Seala Syah Alam membenarkan bahwa pihak kepolisian telah mengetahui persoalan tersebut. Namun, penyelesaian saat ini ditempuh melalui jalur mediasi.

“Sudah, sedang dimediasikan oleh lurah,” kata Seala saat dikonfirmasi pada Senin (5/10/2026).

Persoalan tersebut juga mendapat perhatian Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Ia menilai kegiatan masyarakat tetap perlu memperhatikan kenyamanan warga sekitar, terutama jika berlangsung hingga larut malam.

Pramono mengatakan dirinya mengetahui kejadian tersebut dan meminta jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ikut menangani persoalan yang muncul.

Ia juga menyoroti penggunaan petasan pada waktu istirahat. Menurut Pramono, aktivitas semacam itu perlu memperhatikan kondisi lingkungan dan masyarakat yang terdampak.

“Tidak eloklah bahwa sudah jam 01.00 malam masih membunyikan petasan dan sebagainya,” ujar Pramono, Senin (5/10/2026).

Kasus Maulid di Jaksel tersebut menjadi perhatian karena memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kegiatan keagamaan dan ketertiban lingkungan.

Penyelenggaraan kegiatan masyarakat di kawasan padat penduduk membutuhkan komunikasi dengan warga sekitar, terutama terkait waktu pelaksanaan dan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebisingan.

Hingga Senin, persoalan antara warga dan pihak penyelenggara masih diarahkan untuk diselesaikan melalui mediasi. Belum ada informasi mengenai proses hukum lebih lanjut terkait keributan tersebut.

Komentar (0)