Senin, 28 September 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

Market Indonesia 28 September 2026 Dibuka Tertekan, IHSG dan Rupiah Melemah

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Market Indonesia 28 September 2026 Dibuka Tertekan, IHSG dan Rupiah Melemah
Bagikan:

Dapatkan Update Berita Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Market Indonesia 28 September 2026 memulai perdagangan dengan tekanan. IHSG melemah pada awal sesi, sementara rupiah kembali turun terhadap dolar Amerika Serikat di tengah kenaikan harga minyak dan sentimen geopolitik.

IHSG dibuka turun sekitar 32,14 poin atau 0,51 persen ke level 6.209,74. Pada awal perdagangan, indeks bergerak dalam rentang 6.180–6.209, menunjukkan tekanan jual masih kuat sejak sesi pembukaan.

Tidak lama setelah perdagangan berjalan, penurunan IHSG semakin dalam. Pada pukul 09.16 WIB, indeks tercatat turun 0,85 persen ke level 6.188,50.

Harga Minyak Menekan Rupiah

Rupiah spot dibuka melemah 0,21 persen ke level Rp17.940 per dolar AS. Posisi tersebut lebih lemah dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya di sekitar Rp17.903 per dolar AS.

Tekanan rupiah sejalan dengan pelemahan sebagian besar mata uang Asia. Harga minyak mentah Brent naik ke sekitar US$105 per barel karena belum ada perkembangan berarti terkait penyelesaian konflik Amerika Serikat dan Iran.

Situasi tersebut membuat investor kembali mencermati risiko inflasi dan biaya energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya impor energi dapat meningkat dan memberi tekanan tambahan terhadap neraca perdagangan, inflasi, serta nilai tukar negara pengimpor.

Bagi perusahaan, rupiah yang melemah dapat meningkatkan biaya bahan baku dan kewajiban dalam dolar AS. Namun, emiten berorientasi ekspor dapat memperoleh dukungan dari penerimaan valuta asing, bergantung pada struktur biaya dan kontrak bisnis masing-masing.

Kebijakan Saham Rp1 Mulai Berlaku

Pembukaan pasar Senin hari ini juga bertepatan dengan mulai berlakunya kebijakan BEI yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1.

Perubahan ini membuat sejumlah saham berharga rendah dapat diperdagangkan di bawah level sebelumnya. Namun, kebijakan tersebut tidak otomatis menjadi penyebab tunggal pelemahan IHSG karena arah indeks juga dipengaruhi kondisi global, rupiah, dan aksi jual pada saham berkapitalisasi besar.

Saham GOTO dan DADA langsung menyentuh batas Auto Rejection Bawah atau ARB setelah perdagangan dibuka. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa saham berharga rendah dapat menghadapi volatilitas tinggi ketika batas harga minimum baru mulai diterapkan.

Investor perlu membedakan antara harga nominal dan nilai perusahaan. Saham berharga Rp1 belum tentu murah, karena penilaian tetap harus melihat fundamental, jumlah saham beredar, kapitalisasi pasar, utang, kinerja keuangan, serta likuiditas.

Saham Unggulan Ikut Tertekan

Pada awal perdagangan, sejumlah saham blue chips ikut melemah. BBCA, TLKM, dan PACK tercatat berada di antara saham yang mengalami tekanan pada pembukaan.

Penurunan saham berkapitalisasi besar dapat memperberat IHSG karena bobotnya terhadap indeks cukup besar. Jika tekanan meluas ke sektor perbankan, energi, dan telekomunikasi, peluang pemulihan indeks pada sesi pertama dapat semakin terbatas.

Di pasar regional, pergerakan juga tidak seragam. Indeks saham Asia MSCI melemah tipis, Kospi Korea Selatan turun 1,4 persen setelah pasar kembali dibuka, sedangkan saham Jepang bergerak menguat.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa investor global masih memilih aset secara selektif. Pasar menimbang prospek teknologi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi tetap waspada terhadap minyak, konflik geopolitik, dan yield obligasi.

Investor Menunggu Arah Pasar

Market Indonesia memasuki pekan ini dengan beberapa isu penting secara bersamaan. Selain penerapan harga minimum saham Rp1, investor juga memantau rupiah, arus dana asing, harga minyak, serta respons pasar terhadap perkembangan global.

IHSG perlu kembali menembus area 6.200 untuk mengurangi tekanan teknikal jangka pendek. Jika indeks gagal bertahan dan tekanan jual berlanjut, area 6.100–6.170 dapat menjadi zona berikutnya yang diperhatikan pelaku pasar.

Sebaliknya, penguatan rupiah dan meredanya tekanan saham blue chips dapat membuka ruang rebound menuju area 6.300–6.330. Namun, peluang tersebut masih memerlukan dukungan volume transaksi dan perbaikan sentimen investor.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)