Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
CARACAS, BeritaNow.com — Kepulangan tokoh oposisi Venezuela, María Corina Machado, setelah hampir setahun berada di pengasingan membuka babak baru dalam pergulatan politik negara Amerika Selatan tersebut. Peraih Nobel Perdamaian 2025 itu kembali ke negaranya pada Minggu (25/10/2026), ketika pemerintahan sementara masih menghadapi desakan penyelenggaraan pemilihan umum. Kehadirannya kembali memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang akan menentukan arah transisi politik Venezuela setelah penangkapan mantan Presiden Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat.
Machado mengumumkan kepulangannya melalui media sosial sebelum muncul di Negara Bagian Lara, Venezuela bagian tengah-barat. Foto dan rekaman yang disebarkan timnya memperlihatkan ia menyapa pendukung dan mengunjungi sebuah gereja. Kantor berita AFP juga menyaksikan ribuan pendukung menyambutnya di sepanjang perjalanan menuju Caracas.
Kepulangan tersebut terjadi sekitar sembilan bulan setelah pasukan Amerika Serikat menangkap Maduro dalam operasi militer pada Januari 2026. Sejak saat itu, Venezuela dipimpin Presiden sementara Delcy Rodríguez, mantan wakil presiden pada pemerintahan Maduro. Meskipun pergantian kekuasaan telah terjadi, jadwal pemilihan presiden baru belum ditetapkan.
Dari Pengasingan Menuju Panggung Politik
Machado meninggalkan Venezuela secara diam-diam pada Desember 2025 untuk menerima Nobel Perdamaian di Norwegia. Sebelumnya, ia menghadapi pembatasan politik dan sempat bersembunyi akibat tekanan pemerintah Maduro terhadap kelompok oposisi. Setelah berada di luar negeri, Machado tetap menjalankan aktivitas politik dan berupaya kembali ke Venezuela melalui sejumlah jalur.
Menurut timnya, upaya kepulangan beberapa kali gagal karena hambatan masuk ke wilayah Venezuela. Reuters melaporkan Machado akhirnya menempuh perjalanan dari Panama melalui Kolombia sebelum memasuki negaranya lewat jalur darat. Namun, rincian pengaturan keamanan perjalanan tersebut belum seluruhnya dikonfirmasi secara terbuka oleh pemerintah yang terlibat.
Kembalinya Machado disambut Edmundo González, tokoh oposisi yang mengikuti pemilihan presiden 2024 setelah Machado dilarang mencalonkan diri. González, yang masih berada di luar negeri, menyatakan keinginannya segera bergabung dengan Machado di Venezuela. Kehadiran keduanya berpotensi memperkuat konsolidasi kelompok oposisi yang selama ini menuntut perubahan sistem politik melalui pemilihan umum.
Maduro Ditangkap, Demokrasi Belum Pulih
Penangkapan Maduro oleh Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 mengubah konfigurasi kekuasaan Venezuela secara drastis. Namun, perubahan tersebut tidak langsung menghasilkan pemerintahan baru melalui pemilihan umum. Washington justru menjalin hubungan kerja dengan pemerintahan sementara Rodríguez, termasuk dalam pengembangan sektor minyak dan kegiatan investasi.
Keputusan Amerika Serikat bekerja sama dengan Rodríguez menimbulkan ketegangan dengan sebagian kelompok oposisi yang dipimpin Machado. Selama ini, Machado merupakan salah satu tokoh yang mendukung tekanan internasional terhadap Maduro dan menyambut tindakan Amerika Serikat. Akan tetapi, gerakannya belum dilibatkan secara langsung dalam perundingan politik yang berlangsung antara pemerintah sementara dan sebagian kelompok oposisi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku tidak mengetahui rencana kepulangan Machado ketika dimintai tanggapan wartawan. Ia juga kembali menunjukkan dukungan terhadap Rodríguez sebagai pemimpin pemerintahan sementara. Situasi ini memperlihatkan perbedaan kepentingan antara kelompok oposisi yang menginginkan percepatan pemilu dan pemerintahan Amerika Serikat yang menekankan stabilisasi ekonomi terlebih dahulu.
Pemilu Menjadi Ujian Transisi Politik
Salah satu agenda utama Machado setelah kembali adalah mendorong pemilihan presiden yang bebas dan dapat diverifikasi. Kelompoknya telah mempersiapkan langkah untuk memperluas pendaftaran pemilih, termasuk warga Venezuela yang tinggal di luar negeri. Reuters melaporkan gerakan Vente Venezuela mengembangkan aplikasi untuk mengumpulkan informasi calon pemilih diaspora sebagai persiapan apabila sistem pemilu diperbarui.
Sementara itu, pemerintah sementara dan sebagian oposisi telah melakukan pembicaraan mengenai perubahan lembaga negara, termasuk pengadilan tertinggi dan badan penyelenggara pemilu. Namun, perundingan tersebut belum menghasilkan tanggal pasti pemilihan presiden. Machado sebelumnya menginginkan pemilu berlangsung paling lambat Juli 2027, tetapi waktu tersebut masih merupakan tuntutan politik, bukan jadwal resmi negara.
Persoalan berikutnya menyangkut legitimasi pemerintahan hasil transisi. Penyelenggaraan pemilu memerlukan lembaga yang dipercaya, jaminan partisipasi politik, kebebasan berkampanye, dan penghitungan suara yang dapat diawasi. Tanpa langkah tersebut, pergantian kepemimpinan berisiko tidak menyelesaikan sengketa politik yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Kepentingan Rakyat di Tengah Perebutan Pengaruh
Bagi masyarakat Venezuela, masa transisi tidak hanya menyangkut siapa yang memimpin pemerintahan. Pemulihan ekonomi, layanan publik, keselamatan warga, dan jaminan kebebasan politik merupakan persoalan yang langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari. Kembalinya Machado dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam perdebatan masa depan negara, tetapi belum dengan sendirinya mengubah kondisi tersebut.
Machado juga berencana menemui keluarga tahanan politik dan korban gempa bumi yang melanda Venezuela pada Juni 2026. Langkah itu memperlihatkan upayanya menghubungkan agenda politik dengan persoalan sosial dan kemanusiaan. Meski demikian, hasil konkret dari kunjungan maupun dukungan yang dapat disalurkan belum dapat dipastikan.
Kepulangan Machado akhirnya memperjelas bahwa masa depan Venezuela belum selesai ditentukan oleh penangkapan Maduro. Kini terdapat persaingan kepentingan antara pemerintahan sementara, berbagai kelompok oposisi, dan Amerika Serikat yang memiliki pengaruh besar terhadap proses transisi. Bagi warga Venezuela, ukuran perubahan yang lebih mendasar adalah tersedianya kesempatan menentukan pemerintahan melalui pemilihan yang kredibel serta membaiknya kondisi kehidupan mereka.(*)