Macron Bantah Klaim Trump soal Perdamaian Gaza: “Seharusnya Membuat Kita Malu”
Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
NEW YORK, BERITANOW.COM – Presiden Prancis Emmanuel Macron mempertanyakan klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut perdamaian di Gaza telah berhasil dicapai. Macron menilai kondisi di lapangan belum menunjukkan perubahan yang berarti, terutama dalam persoalan kemanusiaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron ketika berpidato dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 22 September 2026. Pidato itu menjadi salah satu penampilan terakhirnya di forum PBB sebelum masa jabatannya sebagai presiden Prancis berakhir pada 2027.
Macron menyoroti bahwa deklarasi perdamaian tidak cukup jika bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Gaza masih menghadapi persoalan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak antara pernyataan diplomatik dan kenyataan yang terjadi di lapangan.
Dalam pidatonya, Macron juga mengingatkan kembali soal pengakuan terhadap Palestina yang dilakukan sejumlah negara. Ia menilai pengakuan sebuah negara tidak boleh hanya dipandang sebagai simbol, tetapi harus diikuti tindakan nyata untuk memperbaiki kondisi masyarakat Palestina.
Macron kemudian menanggapi pernyataan Trump yang sebelumnya menggambarkan rencana perdamaian Gaza sebagai sebuah pencapaian diplomatik. Presiden Prancis tersebut mempertanyakan makna perdamaian apabila akses kemanusiaan ke Gaza belum kembali berjalan.
Ia mengatakan masyarakat internasional tidak seharusnya hanya menyaksikan situasi tersebut tanpa mengambil tindakan lebih lanjut.
Pernyataan Macron disampaikan beberapa jam setelah Trump menggunakan podium Sidang Umum PBB untuk memaparkan pandangannya mengenai rencana perdamaian Gaza. Perbedaan penekanan kedua pemimpin tersebut terlihat terutama dalam melihat ukuran keberhasilan sebuah proses perdamaian.
Selain Gaza, Macron turut membahas kondisi di Tepi Barat. Ia menyoroti berbagai tindakan yang menurutnya semakin menghambat upaya membangun penyelesaian berdasarkan penghormatan terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Macron juga menekankan bahwa persoalan Tepi Barat tidak dapat semata-mata dikaitkan dengan Hamas karena kelompok tersebut tidak menjalankan aktivitasnya di wilayah tersebut. Menurut Macron, perkembangan di lapangan justru semakin memperumit upaya mewujudkan solusi politik bagi konflik Israel-Palestina.
Sikap Macron tersebut sejalan dengan posisi Prancis yang dalam beberapa waktu terakhir terus mendorong solusi dua negara serta langkah internasional untuk mempertahankan prospek berdirinya negara Palestina berdampingan dengan Israel. Pemerintah Prancis bersama Inggris dan Kanada sebelumnya juga menyatakan bahwa perkembangan permukiman dan kekerasan di Tepi Barat menjadi ancaman terhadap prospek solusi dua negara.
Dengan demikian, perdebatan mengenai Macron dan Trump soal Gaza kembali menunjukkan adanya perbedaan pandangan mengenai bagaimana keberhasilan proses perdamaian harus diukur, terutama terkait penghentian konflik dan pemulihan akses kemanusiaan.