Jumat, 25 September 2026
Breaking News
Nasional

Lima Jurnalis Hilang: Istri Pemandu Kapal Arupadhatu 1 Berharap Pencarian Diperluas

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Lima Jurnalis Hilang: Istri Pemandu Kapal Arupadhatu 1 Berharap Pencarian Diperluas
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

PANDEGLANG, BERITANOW.COM — Evi, istri Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu rombongan jurnalis dalam pelayaran kapal Arupadhatu 1, meminta tim pencari memperluas area penyisiran hingga perairan Lampung dan Enggano. Permintaan itu ia sampaikan usai pemakaman Surakman, salah satu anak buah kapal yang jenazahnya terdampar di Pulau Enggano, Bengkulu.

Ia menuturkan, usulan tersebut sudah diteruskan kepada Basarnas. Menurutnya, wilayah barat Selat Sunda hingga pesisir Bengkulu belum sepenuhnya tersisir, sehingga masih ada peluang menemukan anggota rombongan yang belum kembali.

"Berharap pencarian dilakukan kembali, dilakukan penyisiran, ditelusuri di daerah Lampung, di Krui ke Enggano juga. Harapan mencari ke arah sana," ujarnya di Carita, Pandeglang, Kamis (24/9/2026), seperti dikutip Kompas.com.

Evi menegaskan, apa pun kondisi yang ditemukan nanti, yang terpenting seluruh anggota rombongan dapat dipulangkan. "Apapun yang terjadi keadaannya, yang penting pulang, semuanya yang bertujuh itu," tambahnya.

Identifikasi Jenazah Lewat Uji DNA

Kepastian identitas jenazah yang sebelumnya hanya dikenal sebagai Mr X baru diperoleh setelah Tim Disaster Victim Identification (DVI) merampungkan pemeriksaan DNA. Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menyatakan, hasil uji laboratorium memastikan jenazah tersebut adalah Surakman, ayah kandung dari Yayat.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA seorang mayat Mr X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu teridentifikasi sebagai Surakman atau ayah biologis dari tuan Yayat," kata Hengki di Mapolda Banten, Rabu (23/9/2026).

Warga Pulau Enggano pertama kali menemukan jenazah itu di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, pada Sabtu (12/9/2026). Temuan tersebut bertepatan dengan hari kelima operasi pencarian. Ciri-ciri yang tercatat saat penemuan meliputi tinggi badan sekitar 163 sentimeter dan pakaian berupa celana pendek berwarna hitam. 

Proses verifikasi identitas memakan waktu sekitar sepuluh hari, dengan hasil akhir keluar pada Selasa (22/9/2026) dan dikonfirmasi keesokan harinya.

Arus Samudra Bawa Jenazah Sejauh Ratusan Kilometer

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengapa jenazah dapat terbawa hingga Pulau Enggano. Kepala BMKG Wilayah II Ana Oktavia Setiowati memaparkan, pola arus di sekitar perairan barat Pandeglang bergerak konsisten ke arah barat dengan kecepatan puncak mencapai 1,5 meter per detik.

"Analisis lebih mendalam menunjukkan jika sudah masuk perairan Samudra Hindia, arus laut mengarah ke barat laut, termasuk ke arah perairan Bengkulu," kata Ana, Kamis (24/9/2026).

Jika ditarik garis lurus, jarak antara Pulau Enggano dan titik terakhir kapal terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi mencapai kurang lebih 345 kilometer.

Operasi Khusus Beralih ke Pemantauan Rutin

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii memastikan, pencarian terhadap tujuh orang yang masih belum ditemukan tidak dihentikan. Status operasi khusus memang telah diubah menjadi operasi rutin, tetapi pemantauan di wilayah perairan tetap dilaksanakan.

"Sampai sekarang tetap dilakukan pencarian lanjutan. Karena memang operasi kan dialihkan pada operasi rutin," kata Syafii di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Tim SAR di Bengkulu, lanjut Syafii, diinstruksikan untuk memantau perairan sekitar Pulau Enggano. Selain itu, operasi rutin juga mengandalkan laporan dari kapal-kapal yang melintas serta informasi dari warga pesisir.

Tujuh Orang Masih Belum Ditemukan

Kapal Arupadhatu 1 bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9/2026). Kapal itu mengangkut lima jurnalis dan tiga kru dengan tujuan meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Kelima jurnalis yang ikut dalam pelayaran tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas (Antara Biro Banten), Ari Basuki (Merdeka), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni yang bekerja sebagai jurnalis lepas. Adapun tiga kru kapal terdiri dari Warta selaku kapten, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto yang berperan sebagai pemandu.

Dengan teridentifikasinya Surakman, masih tersisa tujuh orang yang belum ditemukan. Hingga kini, keberadaan bangkai kapal Arupadhatu 1 pun belum diketahui. Kapolda Banten menyatakan pihaknya tidak ingin berspekulasi mengenai posisi kapal tersebut.

"Yang pasti sampai dengan sekarang Arupadatu I tidak ada yang ditemukan. Ya kita samakan sekarang masih hilang," kata Hengki.(*)

Artikel ini disusun dari berbagai sumber. BeritaNow tidak melakukan wawancara independen untuk artikel ini.

Komentar (0)