Selasa, 27 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Lebih dari 60 Warga Tewas dalam Serangan di Ethiopia

Riskal Arief | | 5 mnt baca
Lebih dari 60 Warga Tewas dalam Serangan di Ethiopia
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

ADDIS ABABA, BeritaNow.com — Lebih dari 60 warga Kristen Ortodoks dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan bersenjata di wilayah Oromia, Ethiopia, pada 20 dan 24 Oktober 2026. Gereja Ortodoks Tewahedo Ethiopia menyampaikan bahwa serangan tersebut juga menyebabkan puluhan orang terluka dan sejumlah rumah terbakar. Pemerintah daerah menyatakan akan mengambil tindakan terhadap pihak yang bertanggung jawab, tetapi identitas pelaku belum dapat dipastikan melalui penyelidikan independen.

Dalam pernyataan yang dirilis Senin (26/10/2026), Sinode Suci Gereja Ortodoks Tewahedo Ethiopia melaporkan sedikitnya 60 jemaat meninggal dunia dan 20 orang mengalami luka berat. Sebanyak 14 korban disebut tewas di Gora Silingo, Distrik Merti, pada 20 Oktober, sementara 46 korban lainnya meninggal dalam serangan di Tereta Chole dan Birbo, Distrik Shirka, empat hari kemudian. Kedua distrik tersebut berada di Zona Arsi, wilayah administratif Oromia.

Laporan BBC yang diterbitkan pada 26 Oktober menyebut jumlah korban melebihi 60 orang berdasarkan keterangan pejabat gereja. Seorang warga yang kehilangan ayahnya yang berusia 75 tahun menggambarkan serangan tersebut sebagai penyergapan mendadak ketika para penyerang mengepung penduduk dari berbagai arah. Kesaksian itu memberikan gambaran situasi yang dialami warga, tetapi belum cukup untuk memastikan jumlah penyerang maupun pola operasi kelompok bersenjata.

Rumah Terbakar, Warga Meninggalkan Permukiman
Menurut pernyataan Gereja Ortodoks Tewahedo Ethiopia, sekitar 20 rumah hangus dalam rangkaian serangan tersebut. Sejumlah warga kemudian meninggalkan tempat tinggal mereka karena mengkhawatirkan serangan lanjutan. Belum tersedia pendataan independen mengenai jumlah keluarga yang mengungsi atau luas kerusakan bangunan.

Saksi mata yang diwawancarai BBC Amharic menyebut lima anak termasuk di antara korban meninggal. Seorang pejabat gereja menggambarkan peristiwa di Distrik Shirka sebagai pembunuhan massal dan mengatakan aparat keamanan telah tiba di lokasi, tetapi tidak berhasil menghentikan serangan. Keterangan tersebut merupakan kesaksian narasumber yang masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kronologi dan respons aparat.

Pengungsian mendadak menimbulkan kebutuhan perlindungan bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Warga memerlukan akses terhadap makanan, air bersih, pelayanan kesehatan, dan lokasi pengungsian yang aman. Namun, informasi mengenai distribusi bantuan kemanusiaan atau kondisi terkini korban luka belum tersedia secara memadai dalam laporan yang diperiksa.

Pemerintah Sebut Kelompok Bersenjata, Pelaku Belum Dipastikan
Pemerintah regional Oromia menyatakan akan menindak pihak yang terlibat dalam kekerasan tersebut. Seorang pejabat daerah menuding koalisi pemberontak baru bernama Alliance for Survival, yang disebut mencakup Oromo Liberation Army (OLA), sebagai pihak yang bertanggung jawab. Tuduhan tersebut belum dibuktikan melalui hasil penyelidikan yang dipublikasikan.

OLA belum memberikan tanggapan khusus mengenai serangan terbaru ketika laporan BBC diterbitkan. Kelompok tersebut sebelumnya membantah tuduhan keterlibatan dalam sejumlah serangan terhadap warga sipil di Oromia. Karena itu, hubungan antara pelaku serangan terbaru dan organisasi bersenjata tertentu belum dapat dinyatakan sebagai fakta yang telah dipastikan.

Gereja Ortodoks Tewahedo sendiri tidak menyebut nama pelaku dalam pernyataan resminya. Sinode meminta pemerintah federal dan otoritas keamanan daerah memastikan perlindungan penduduk serta membawa pihak yang bertanggung jawab ke proses hukum. Seruan tersebut juga menekankan pentingnya menjaga keselamatan masyarakat tanpa memperuncing ketegangan antarkelompok.

Kekerasan di Arsi Telah Berulang
Serangan Oktober bukan peristiwa kekerasan pertama yang dilaporkan di Zona Arsi. Pada Maret 2026, Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia atau Ethiopian Human Rights Commission (EHRC) meminta pemerintah federal dan regional mengambil tindakan setelah serangkaian serangan menyebabkan korban jiwa, kerusakan properti, dan pengungsian. Lembaga tersebut menyatakan situasi keamanan di sejumlah distrik Arsi kembali memburuk sejak Oktober 2025.

Laporan EHRC sebelumnya menyebut beberapa daerah terdampak, termasuk Shirka, Merti, Guna, Aseko, dan Onkolo Wabe. Organisasi itu juga mengingatkan bahwa korban kekerasan tidak hanya menghadapi ancaman fisik, tetapi mengalami gangguan kehidupan sehari-hari dan kehilangan tempat tinggal. Temuan tersebut merupakan konteks kekerasan sebelum Oktober 2026, bukan verifikasi langsung terhadap jumlah korban serangan terbaru.

Dalam laporan yang dikutip BBC, organisasi nonpemerintah Ethiopian Human Rights Council menyebut 458 orang meninggal akibat serangan di kawasan tersebut selama empat tahun sebelumnya. Organisasi itu menggambarkan adanya pola kekerasan terhadap sejumlah komunitas, termasuk penganut Kristen Ortodoks. Angka historis tersebut perlu dibedakan dari jumlah korban yang dilaporkan pada 20 dan 24 Oktober.

Dimensi Etnis dan Agama Memerlukan Penyelidikan
Oromia merupakan wilayah dengan keragaman etnis dan agama serta memiliki sejarah konflik antara kelompok bersenjata dan aparat pemerintah. Sebagian penduduk mengaitkan kekerasan yang mereka alami dengan identitas etnis maupun agama. Akan tetapi, penilaian mengenai motif setiap serangan memerlukan bukti yang lebih kuat daripada identitas korban semata.

Laporan BBC menyebut peristiwa kekerasan sebelumnya juga pernah menimpa komunitas Muslim di kawasan tersebut. Fakta itu menunjukkan pentingnya membedakan konflik bersenjata, perselisihan politik, serta dugaan kekerasan bermotif agama. Menyimpulkan seluruh kekerasan di Oromia sebagai konflik antarumat beragama berisiko mengabaikan persoalan keamanan yang lebih kompleks.

Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia sebelumnya mendesak perlindungan warga sipil melalui langkah yang berkelanjutan. Organisasi tersebut menyoroti pentingnya mencegah pembunuhan, penculikan, pengungsian, dan perusakan harta benda. Tanggung jawab penyelidikan atas serangan terbaru kini berada pada lembaga berwenang yang harus menentukan pelaku berdasarkan bukti.

Bagi keluarga korban, kebutuhan paling mendesak adalah keselamatan, perawatan medis, dan kepastian mengenai anggota keluarga yang hilang atau meninggal. Penyelidikan independen diperlukan untuk memastikan jumlah korban, mengidentifikasi pelaku, serta menilai respons aparat keamanan. Hingga hasil penyelidikan tersedia, rangkaian serangan di Arsi harus dilaporkan berdasarkan fakta terkonfirmasi dan kesaksian yang sumbernya jelas, tanpa menyimpulkan kesalahan pihak tertentu.(*)

Komentar (0)