Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BeritaNow.com – Buku boleh berganti sampul, tetapi sejarah kelam yang diceritakannya tidak serta-merta berubah. Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori kini hadir dengan wajah baru, mengikuti perjalanan kisahnya ke layar lebar. Di balik pembaruan tampilan tersebut, tersimpan cerita tentang aktivis yang menghilang, keluarga yang menunggu, dan pertanyaan mengenai keadilan yang belum seluruhnya terjawab.
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menggelar peluncuran novel Laut Bercerita edisi sampul film melalui diskusi buku di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (7/11/2026). Leila S. Chudori menyampaikan bahwa penerbitan tersebut menjadi bagian dari perjalanan baru novelnya setelah diadaptasi menjadi film panjang. Peristiwa ini dilaporkan ANTARA melalui pemberitaan video yang dipublikasikan pada Sabtu malam.
Menariknya, kisah Laut Bercerita justru semakin menemukan pembaca ketika peristiwa sejarah yang menjadi latarnya terus menjauh dari ingatan generasi muda. Novel yang pertama kali diterbitkan pada 2017 itu mengangkat pengalaman aktivis mahasiswa dan keluarga korban penghilangan paksa menjelang berakhirnya Orde Baru. Hampir satu dekade setelah terbit, ceritanya kini kembali menjangkau masyarakat melalui buku, film, fotografi, dan seni instalasi.
Dari Halaman Buku ke Layar Bioskop
Film Laut Bercerita telah tayang di bioskop Indonesia sejak 29 Oktober 2026. Disutradarai Yosep Anggi Noen, film berdurasi 135 menit itu menghadirkan Reza Rahadian sebagai Biru Laut, seorang mahasiswa yang terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap represi politik. Leila turut menulis skenario bersama sutradara untuk menerjemahkan cerita dalam novel menjadi pengalaman sinematik.
Cerita berpusat pada Biru Laut dan kelompok mahasiswa yang memperjuangkan kebebasan berekspresi pada akhir 1990-an. Perjuangan tersebut membawa mereka menghadapi penangkapan, kekerasan, hingga penghilangan paksa. Ketika sejumlah aktivis tidak kembali, keluarga mereka harus menjalani penantian panjang tanpa kepastian mengenai nasib orang-orang yang dicintai.
Edisi sampul film membuka kesempatan bagi penonton untuk kembali menelusuri kisah tersebut melalui novel aslinya. Buku versi khusus ini bahkan telah diperkenalkan dalam paket pemutaran awal film sebelum acara peluncuran pada November. Dengan demikian, kegiatan di Kemang menjadi bagian dari rangkaian promosi dan pembacaan ulang karya tersebut, bukan pertama kalinya edisi khusus tersedia bagi masyarakat.
Kisah Fiksi, Ingatan Sejarah yang Nyata
Kekuatan Laut Bercerita terletak pada kemampuannya menghadirkan sejarah politik melalui pengalaman manusia. Peristiwa penghilangan paksa tidak hanya diceritakan sebagai persoalan negara dan kekuasaan, tetapi juga melalui kehilangan yang dialami keluarga. Pembaca diajak memahami bagaimana ketidakpastian dapat terus membayangi kehidupan orang-orang yang ditinggalkan.
Meski tokoh Biru Laut merupakan karakter fiksi, latar sejarahnya berkaitan dengan praktik represi terhadap aktivis menjelang Reformasi 1998. Karena itu, novel ini tidak boleh diperlakukan sebagai laporan sejarah yang seluruh tokoh dan peristiwanya benar-benar terjadi. Namun, karya sastra dapat membuka ruang untuk memahami pengalaman korban dan keluarga yang tidak selalu tergambarkan melalui catatan politik formal.
Di sinilah pembaruan sampul dan adaptasi film memperoleh makna lebih luas daripada urusan pemasaran buku. Penonton yang sebelumnya tidak mengenal novel berpeluang tertarik membaca kisah aslinya setelah menyaksikan film. Sebaliknya, pembaca lama dapat menemukan cara pandang berbeda ketika cerita yang mereka bayangkan hadir melalui penampilan para aktor.
Berganti Sampul, Pertanyaan Keadilan Tetap Hidup
Perjalanan Laut Bercerita kini juga meluas ke seni fotografi dan instalasi melalui pameran Dua Lensa Bercerita. Pameran di Dia.Lo.Gue Artspace menampilkan karya Oscar Motuloh dan Anton Ismael yang menafsirkan kembali pengalaman kehilangan, ingatan, dan harapan dalam semesta cerita tersebut. Kegiatan itu berlangsung sejak 31 Oktober dan dijadwalkan berakhir pada 30 November 2026.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana satu karya sastra dapat menjangkau masyarakat melalui berbagai medium. Namun, keberhasilan adaptasi tidak cukup hanya diukur dari popularitas film atau penjualan buku. Nilai sosialnya juga terletak pada kemampuan cerita mengundang percakapan mengenai sejarah, kebebasan, dan hak asasi manusia.
Bagi generasi yang tidak mengalami langsung pergolakan 1998, Laut Bercerita dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal masa lalu Indonesia. Pembaruan sampul memang membuat novel itu tampil lebih dekat dengan penonton film, tetapi persoalan yang diangkatnya jauh lebih besar daripada pergantian desain. Sebab, sampul buku bisa diperbarui kapan saja, sementara pertanyaan keluarga tentang mereka yang dihilangkan tidak dapat diselesaikan hanya dengan menutup halaman terakhir sebuah novel.(*)