Kamis, 05 November 2026
Breaking News
Internasional

Kim Yo-jong Beri Sinyal Tolak Dialog dengan AS

Tajusa, M. | | 4 mnt baca
Kim Yo-jong Beri Sinyal Tolak Dialog dengan AS
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

PYONGYANG, BERITANOW.COM – Hubungan diplomatik antara Korea Utara dan Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan ketegangan. Pemerintah Pyongyang mengisyaratkan belum bersedia membuka kembali jalur komunikasi dengan Washington. Sikap tersebut disampaikan Kim Yo-jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, yang menilai dialog dengan AS belum menjadi pilihan yang diperlukan saat ini.

Pernyataan tersebut sekaligus memperkecil kemungkinan berlangsungnya pertemuan antara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menjadi harapan dalam upaya memperbaiki hubungan kedua negara.

Dikutip dari Channel News Asia, Kamis (4/11/2026), Kim Yo-jong menegaskan bahwa pemerintah Korea Utara tidak memiliki alasan untuk melakukan perundingan dengan negara yang selama ini dianggap mempertahankan sikap bermusuhan terhadap Pyongyang.

Sementara itu, Donald Trump diketahui beberapa kali menyampaikan keinginannya untuk kembali berkomunikasi dengan Kim Jong-un. Namun, sinyal penolakan dari pihak Korea Utara menunjukkan bahwa upaya membuka kembali hubungan kedua negara masih menghadapi hambatan.

Tuduhan FBI Memperkeruh Hubungan Korea Utara dan AS
Pernyataan Kim Yo-jong muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menuding Korea Utara terlibat dalam aksi pencurian aset kripto bernilai lebih dari US$6 miliar dari platform perdagangan mata uang digital Binance.

Tuduhan tersebut menjadi salah satu persoalan terbaru yang memperburuk hubungan Washington dan Pyongyang. Kim Yo-jong sebelumnya juga mengecam pernyataan pihak Amerika Serikat tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk provokasi politik.

Menurut Kim, tuduhan yang disampaikan Washington memperlihatkan bahwa kebijakan Amerika Serikat terhadap Korea Utara belum mengalami perubahan berarti. Kondisi tersebut dinilai tidak menciptakan lingkungan yang mendukung berlangsungnya pembicaraan diplomatik.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Korea Utara tidak ingin terlibat dalam dialog dengan pihak yang dianggap tidak dapat dipercaya selama pendekatan konfrontatif masih dipertahankan.

Kim Yo-jong Sebut Dialog Belum Tentu Menguntungkan Pyongyang
Dalam pernyataannya yang disampaikan melalui kantor berita pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), Kim Yo-jong menekankan bahwa dialog bukan satu-satunya jalan untuk mewujudkan perdamaian.

Menurutnya, keputusan untuk melakukan perundingan harus mempertimbangkan kepentingan nasional Korea Utara. Oleh karena itu, membuka komunikasi dengan Amerika Serikat tidak otomatis menjadi langkah yang menguntungkan bagi negaranya.

Kim juga menyoroti sejumlah kebijakan Washington yang dianggap merugikan kepentingan Pyongyang. Beberapa di antaranya adalah latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan, tuduhan keterlibatan Korea Utara dalam peretasan, serta tekanan internasional agar negara tersebut menghentikan program pengembangan senjata nuklir.

Berbagai persoalan itu disebut memperkuat pandangan Korea Utara bahwa pendekatan Amerika Serikat terhadap negaranya masih bersifat konfrontatif.

Selain menutup peluang dialog, Kim Yo-jong turut memberikan sinyal bahwa Korea Utara dapat mengambil langkah tertentu sebagai respons terhadap kebijakan Amerika Serikat.

Ia memperingatkan bahwa meningkatnya tekanan dan tindakan yang dianggap bermusuhan dari Washington berpotensi diikuti dengan respons yang lebih tegas dari Pyongyang.

Pernyataan tersebut menimbulkan perhatian karena memperlihatkan bahwa pemerintah Korea Utara tidak hanya mempertahankan penolakannya terhadap dialog, tetapi juga membuka kemungkinan mengambil langkah balasan.

Meski demikian, Kim Yo-jong tidak mengungkapkan secara spesifik tindakan apa yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah Korea Utara. Belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai bentuk respons yang mungkin dilakukan maupun waktu pelaksanaannya.

Peluang Pertemuan Kim Jong-un dan Donald Trump Semakin Sulit
Sikap terbaru Pyongyang menjadi tantangan bagi upaya Donald Trump untuk kembali membangun komunikasi dengan Kim Jong-un.

Sebelumnya, harapan mengenai kemungkinan pertemuan kedua pemimpin tersebut sempat mencuat. Namun, pernyataan Kim Yo-jong memperlihatkan bahwa Korea Utara masih memiliki sejumlah keberatan terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Situasi ini menunjukkan bahwa hubungan kedua negara masih dibayangi persoalan keamanan, program nuklir, aktivitas militer, dan saling tuding terkait berbagai tindakan yang dianggap merugikan.

Untuk saat ini, belum terdapat kepastian kapan komunikasi diplomatik antara Washington dan Pyongyang dapat kembali dibuka. Sikap Korea Utara yang disampaikan Kim Yo-jong juga menjadi indikasi bahwa perbaikan hubungan kedua negara membutuhkan perubahan pendekatan yang lebih mendasar.

Perkembangan selanjutnya akan menjadi perhatian internasional, terutama terkait kemungkinan meningkatnya ketegangan di kawasan Semenanjung Korea.(*)

Komentar (0)