Jumat, 16 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Kerusuhan Mauritius Memanas, 120 Orang Ditangkap

Effra S. Husein | | 3 mnt baca
Kerusuhan Mauritius Memanas, 120 Orang Ditangkap
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

MAURITIUS, BERITANOW.COM — Kerusuhan Mauritius meningkat di tengah keresahan masyarakat akibat krisis air bersih dan tekanan biaya hidup. Pemerintah memperketat pengamanan setelah demonstrasi berkembang menjadi bentrokan, aksi perusakan, dan penangkapan terhadap puluhan orang.

Laporan yang dikutip dari Associated Press (AP) pada 15 Oktober 2026 menyebutkan, sedikitnya 120 orang telah ditangkap dalam rangkaian penindakan terhadap aksi kerusuhan. Jumlah tersebut terdiri atas 94 orang yang ditangkap hingga Selasa dan 26 orang lainnya pada Rabu malam.

Pemerintah Mauritius meningkatkan pengerahan aparat keamanan untuk mengendalikan situasi. Pembatasan aktivitas malam hari juga diberlakukan di sejumlah kawasan terdampak guna mencegah bentrokan susulan.

Kerusuhan Mauritius menjadi perhatian karena berlangsung di tengah persoalan kebutuhan dasar masyarakat yang belum terselesaikan. Selain ketersediaan air bersih, kenaikan biaya hidup turut memperbesar ketidakpuasan warga terhadap kondisi ekonomi.

Krisis Air Bersih Memicu Kemarahan Warga

Terbatasnya pasokan air bersih menjadi salah satu pemicu utama demonstrasi. Sejumlah warga menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika persediaan air di waduk mengalami penurunan.

Data yang dikutip dalam laporan AP menunjukkan, kapasitas waduk di Mauritius pada 8 Oktober 2026 tercatat 57,1 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan 87,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Waduk Mare aux Vacoas, salah satu sumber air penting bagi negara kepulauan tersebut, dilaporkan hanya terisi sekitar 35,7 persen dari kapasitasnya.

Pemerintah berupaya mengatasi kekurangan pasokan melalui sejumlah langkah darurat, termasuk pengeboran sumber air dan distribusi air menggunakan mobil tangki. Namun, persoalan tersebut masih menjadi sumber keresahan masyarakat.

Tekanan ekonomi memperburuk situasi. Inflasi tahunan Mauritius dilaporkan mencapai 4,1 persen pada September 2026, meningkat dibandingkan 3,4 persen pada bulan yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut membuat persoalan air bersih tidak lagi sekadar menyangkut layanan publik, tetapi juga berkaitan dengan meningkatnya beban pengeluaran rumah tangga.

Insiden Penembakan Memperkeruh Situasi

Ketegangan meningkat setelah seorang perempuan berusia 27 tahun dilaporkan mengalami luka tembak dalam insiden yang melibatkan polisi di Camp Levieux, kawasan dekat Port Louis.

Peristiwa itu memicu kemarahan masyarakat ketika demonstrasi sedang berlangsung. Penanganan aparat dalam insiden tersebut kemudian menjadi perhatian publik.

Menurut laporan yang dirujuk AP, polisi yang diduga melepaskan tembakan ditahan untuk menjalani pemeriksaan. Tiga anggota polisi lainnya juga dilaporkan diskors karena dugaan tidak memberikan pertolongan kepada korban.

Penyelidikan diperlukan untuk mengungkap kronologi kejadian serta memastikan pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat.

Di sejumlah lokasi, kerusuhan diwarnai pembakaran ban, pemblokiran jalan, dan perusakan fasilitas. Bentrokan dengan aparat turut menambah ketegangan sehingga pemerintah memperkuat operasi pengamanan.

Pemerintah Berlakukan Pembatasan Malam

Perdana Menteri Mauritius Navin Ramgoolam menghadapi tekanan untuk memulihkan keamanan sekaligus menangani persoalan yang melatarbelakangi protes.

Pemerintah memberlakukan jam malam di sejumlah wilayah terdampak dan memperkuat pengawasan terhadap aktivitas masyarakat pada malam hari. Aparat juga dikerahkan untuk mencegah kerusuhan meluas.

Dampaknya turut dirasakan sektor pendidikan. Kegiatan sekolah dilaporkan diliburkan pada Kamis dan Jumat karena pertimbangan keamanan. Sejumlah ujian juga ditunda, sementara pelaksanaan ujian internasional tertentu tetap dijadwalkan berlangsung.

Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada juga dilaporkan mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga negaranya yang berada di Mauritius.

Pembatasan tersebut menunjukkan bahwa dampak kerusuhan tidak hanya menyangkut keamanan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas pendidikan, mobilitas masyarakat, dan kegiatan ekonomi.

Stabilitas Ekonomi Mauritius Jadi Perhatian

Mauritius merupakan negara kepulauan di Samudra Hindia yang mengandalkan sektor pariwisata dan jasa keuangan sebagai bagian penting dari perekonomiannya.

Ketidakstabilan keamanan berpotensi memengaruhi kepercayaan wisatawan dan aktivitas bisnis apabila situasi berlangsung berkepanjangan.

Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk memulihkan ketertiban tanpa mengabaikan tuntutan masyarakat mengenai ketersediaan air bersih dan tekanan biaya hidup.

Penanganan krisis air, keterjangkauan kebutuhan sehari-hari, serta transparansi penyelidikan insiden penembakan menjadi sejumlah persoalan yang perlu ditangani untuk meredakan ketegangan.

Perkembangan berikutnya akan menentukan apakah langkah pengamanan dan kebijakan pemerintah mampu menghentikan kerusuhan Mauritius sekaligus memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap penanganan masalah publik (*)

Komentar (0)