Senin, 19 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Kerusuhan Eropa Meluas, Belgia Ikut Diguncang Bentrokan

Effra S. Husein | | 4 mnt baca
Kerusuhan Eropa Meluas, Belgia Ikut Diguncang Bentrokan
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

BRUSSEL, BERITANOW.COM – Kerusuhan Belgia menambah panjang daftar ketegangan sosial di Eropa. Bentrokan antara demonstran dan polisi terjadi di Brussel pada Sabtu (17/10/2026), ketika aksi protes yang melibatkan kelompok mahasiswa memanas akibat persoalan biaya pendidikan dan kebijakan pemerintah.

Polisi mengerahkan gas air mata dan meriam air untuk mengendalikan situasi. Menurut laporan Reuters, sejumlah demonstran terlibat aksi kekerasan, termasuk melempar benda ke arah petugas dan membalikkan sebuah mobil di pusat kota.

Aksi tersebut berlangsung di tengah gelombang demonstrasi yang juga melanda sejumlah negara Eropa. Namun, protes di Belgia memiliki persoalan tersendiri, terutama menyangkut akses pendidikan tinggi dan kebijakan penghematan anggaran.

Ratusan orang, sebagian besar anak muda, dilaporkan berkumpul di pusat Brussel. Mereka menyuarakan keberatan terhadap meningkatnya biaya pendidikan dan reformasi yang dikhawatirkan membuat perguruan tinggi semakin sulit dijangkau.

Situasi kemudian berubah tegang ketika sebagian peserta demonstrasi terlibat bentrokan dengan aparat keamanan.

Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin mengecam tindakan kekerasan tersebut. Pemerintah menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk memulihkan ketertiban umum.

Mahasiswa Soroti Biaya Pendidikan

Persoalan pendidikan menjadi salah satu pemicu demonstrasi di Belgia. Kelompok mahasiswa menilai kenaikan biaya dan perubahan kebijakan berpotensi menambah beban mereka untuk melanjutkan studi.

Kekhawatiran tersebut muncul ketika sebagian anak muda juga menghadapi tekanan biaya hidup. Pengeluaran untuk pendidikan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari menjadi persoalan yang turut disuarakan dalam rangkaian aksi.

Selain di Brussel, demonstrasi juga berlangsung di Liège, Belgia bagian timur. Mahasiswa di kota tersebut sebelumnya menyampaikan keberatan terkait sistem pendidikan berbahasa Prancis, termasuk persoalan biaya dan akses terhadap bahan pembelajaran.

Meski berlangsung dalam suasana ketegangan, tidak semua peserta demonstrasi terlibat kerusuhan. Karena itu, bentrokan yang dilakukan sebagian kelompok perlu dibedakan dari aksi penyampaian pendapat secara keseluruhan.

Kebijakan Penghematan Memicu Ketegangan

Ketidakpuasan masyarakat Belgia juga berkaitan dengan rencana penghematan anggaran pemerintah.

Pada 9 Oktober 2026, sekitar 30.000 orang mengikuti demonstrasi di Brussel untuk menentang langkah penghematan dan sejumlah rencana reformasi pemerintah. Aksi tersebut melibatkan serikat pekerja dan kelompok masyarakat.

Menurut laporan Euronews, sebagian besar pawai berlangsung damai. Namun, bentrokan terjadi di sejumlah titik ketika kelompok pemuda melempar batu dan petasan ke arah polisi. Aparat merespons dengan gas air mata dan meriam air.

Ketegangan itu memperlihatkan adanya perbedaan antara tuntutan peserta aksi yang menyuarakan persoalan ekonomi dan tindakan kelompok yang terlibat kekerasan.

Serikat pekerja menentang sejumlah kebijakan penghematan karena khawatir langkah tersebut akan menambah beban masyarakat. Sementara itu, mahasiswa menyoroti dampak kebijakan terhadap kualitas pendidikan dan kemampuan keluarga membiayai studi anak-anak mereka.

Rangkaian demonstrasi tersebut berlangsung ketika pemerintah Belgia menghadapi tekanan untuk mengendalikan defisit anggaran dan mencapai kesepakatan mengenai kebijakan fiskal.

Gelombang Protes Menjangkau Sejumlah Negara Eropa

Bentrokan di Belgia berlangsung bersamaan dengan demonstrasi di negara-negara Eropa lainnya, termasuk Prancis dan Italia.

Di Prancis, aksi protes yang sebelumnya berkaitan dengan persoalan pendidikan berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Isu ketimpangan sosial, belanja publik, dan penurunan daya beli turut mewarnai tuntutan masyarakat.

Sementara itu, demonstrasi di Italia juga diwarnai ketegangan di tengah keluhan mengenai biaya hidup dan kondisi ekonomi.

Meski memiliki sejumlah kesamaan, aksi-aksi tersebut tidak dapat serta-merta dianggap sebagai satu gerakan yang terkoordinasi. Setiap negara menghadapi situasi politik, ekonomi, dan sosial yang berbeda.

Di Belgia, persoalan biaya pendidikan dan penolakan terhadap penghematan anggaran menjadi bagian penting dari dinamika demonstrasi.

Perkembangan ini menempatkan pemerintah negara-negara Eropa pada tantangan untuk merespons tuntutan masyarakat sekaligus menjaga keamanan publik.

Situasi di Belgia juga menunjukkan pentingnya membedakan demonstrasi damai dari tindakan kekerasan. Hak menyampaikan pendapat tetap menjadi bagian dari kehidupan demokratis, sedangkan tindakan yang membahayakan orang lain dan merusak fasilitas umum dapat memicu penegakan hukum.

Hingga laporan ini disusun, perkembangan situasi pascabentrokan masih perlu dipantau. Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa kerusuhan di Belgia merupakan bagian dari satu gerakan yang sepenuhnya terorganisasi lintas negara. (*)

Komentar (0)