Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
Coba perhatiin feed Instagram atau TikTok kamu belakangan ini. Di antara foto OOTD dan review skincare, pasti ada aja unggahan segelas minuman hijau pekat dengan foam lembut di atasnya. Ya, matcha. Minuman yang dulu identik sama kedai teh Jepang tradisional, sekarang malah jadi "kepribadian" anak muda, khususnya Gen Z. Tapi kenapa sih matcha bisa se-hits ini?
Bukan cuma soal rasa, tapi juga soal tampilan
Alasan paling gampang kelihatan biasanya adalah matcha itu photogenic banget. Warna hijaunya yang khas bikin dia gampang menonjol di feed, apalagi dipadu susu oat atau foam yang creamy.
Buat generasi yang tumbuh besar bareng media sosial, minuman yang enak difoto itu nilai plus besar, bahkan kadang jadi alasan utama orang nyobain sesuatu. Tapi ini juga yang bikin beberapa orang mempertanyakan apakah Gen Z beneran suka rasa matcha, atau cuma suka gimana matcha keliatan di kamera?
Artikel di The Nod Mag menceritakan pengalaman orang yang awalnya cuma ikut-ikutan ke acara "matcha tasting" karena penasaran sama vibe-nya, terus lama-lama baru beneran jatuh cinta sama rasanya. Jadi estetika sering jadi pintu masuk, bukan alasan satu-satunya.
Efeknya beda dari kopi, dan ini yang bikin nagih
Nah, ini bagian yang lebih serius. Matcha itu mengandung kafein sekaligus L-theanine, sejenis asam amino yang bikin efek tenang tapi tetap fokus. Kombinasi ini yang bikin banyak orang bilang matcha kasih energi yang "smooth", nggak bikin deg-degan atau langsung ngedrop kayak abis ngopi.
Klaim ini juga didukung riset ilmiah. Menurut tinjauan yang dimuat di jurnal Antioxidants (dikutip lewat PMC, National Institutes of Health), senyawa bioaktif utama matcha, yaitu katekin (terutama EGCG), L-theanine, dan kafein, punya efek yang saling melengkapi. L-theanine berperan pada fungsi neuroprotektif dan kognitif lewat pengaruhnya ke neurotransmiter, sementara kafein meningkatkan kewaspadaan lewat mekanisme di sistem saraf pusat. Efek gabungan keduanya inilah yang diduga bikin matcha punya efek "calm-alert" yang beda dari kopi biasa.
Penelitian lain yang dimuat di jurnal Food Research International bahkan menguji langsung efek matcha dalam bentuk minuman dan snack bar terhadap mood dan performa kognitif partisipan. Meski studi soal efek matcha secara spesifik (bukan cuma ekstrak teh hijau) masih belum sebanyak studi kopi, arah temuannya konsisten: kombinasi kafein dan L-theanine bisa membantu fokus tanpa efek gelisah berlebihan.
Gaya hidup sehat yang kekinian
Selain rasa dan efeknya, matcha juga pas banget sama semangat Gen Z soal kesehatan yang nggak ribet. Generasi ini dikenal suka rutinitas wellness yang simpel tapi berasa, bukan yang mahal dan njelimet.
Nyeduh matcha, ngocok pakai chasen (kuas bambu), terus diminum pelan-pelan, itu jadi semacam ritual kecil yang bikin pagi hari berasa lebih tenang. Nggak heran kalau matcha sering disandingkan sama gaya hidup "slow living" yang belakangan makin digemari anak muda Indonesia juga.
Di Indonesia sendiri, tren minuman kekinian dengan bahan yang punya "nilai gaya hidup sehat" memang lagi naik daun. Menurut catatan detikJabar, matcha makin diminati bukan cuma karena rasanya beda dari minuman manis biasa, tapi juga karena warnanya yang estetik bikin konten jadi makin menarik, dan variasinya kini merambah dari latte sampai dessert seperti cake dan croffle.
Jadi, balik ke pertanyaan "kenapa Gen Z suka matcha?" Jawabannya ternyata nggak cuma satu. Ada faktor visual yang bikin gampang dibagikan, ada efek tenang-tapi-fokus yang didukung riset ilmiah, dan ada semangat gaya hidup sehat yang jadi identitas generasi ini.
Kombinasi ketiganya bikin matcha bukan sekadar minuman musiman, tapi udah jadi semacam simbol kecil dari cara Gen Z menjalani hidup: santai, sadar kesehatan, tapi tetap estetik.(*)