Luas kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus bertambah hingga mencapai 173 hektare pada Jumat (7/8/2026).
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan luas area yang terbakar terus bertambah berdasarkan pembaruan data di lapangan.
“Penanganan ini terus dikonfirmasi. Dulu dari 44 menjadi 51, sampai tadi pagi 173 hektare,” kata Khofifah saat meninjau lokasi kebakaran, Jumat (7/8/2026).
Dia mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah berkoordinasi dengan BNPB sejak hari kedua kebakaran, Selasa (4/8/2026). Pemprov juga telah mengajukan permohonan bantuan helikopter yang mampu melakukan water bombing hingga 1.000 liter air.
“Nah, tadi pagi baru sampai dari Kalimantan Tengah. Kalimantan Tengah itu saya mengikuti kemarin dari Palangka Raya ke Pangkalan Bun, kemudian ke Juanda, kemudian ke ABD Saleh. Hari ini sudah bisa melakukan penguatan dari upaya untuk pemadaman,” ujarnya.
Selain helikopter, pemadaman juga dilakukan menggunakan drone untuk pembasahan awal dengan kapasitas air sekitar 100—150 liter.
“Kepala BNPB sudah ke sini dua hari lalu. Hari ini satu armadanya, helikopter water bombing, sudah melaksanakan tugas. Tetapi izin dari ABD Saleh memang sampai setengah lima,” ujarnya.
Khofifah mengakui proses pemadaman masih menghadapi kendala berupa angin kencang yang membuat helikopter tidak selalu dapat beroperasi.
“Insyaallah besok pagi akan datang lagi helikopter bantuan dari BNPB. Sekarang ada di Banjarmasin, besok Banjarmasin ke Lanud Abd Saleh. Kalau ada dua armada, mohon doa semua anginnya landai-landai sehingga dua-duanya bisa memaksimalkan melakukan water bombing,” ujarnya.
Dia menjelaskan, dibandingkan saat kebakaran pada 2023, proses pengisian air kini lebih efisien karena helikopter dapat mengambil air dari Ranu Pani yang lokasinya lebih dekat dibandingkan Kaliandra maupun Batu.
“Jadi mudah-mudahan besok anginnya landai, kemudian mengambil airnya dari Ranu Pani, dua helikopter water bombing bisa maksimal. Mudah-mudahan bisa segera padam, semua tinggal tiga titik,” ujarnya.
Khofifah berharap kebakaran dapat dipadamkan secepatnya dengan tambahan armada tersebut.
“Besok insya Allah kalau satu lagi datang, mudah-mudahan bisa tuntas besok,” ujarnya.
Dia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam proses pemadaman.
“Jadi ya, Kawan-kawan, kita menyampaikan terima kasih relawannya banyak sekali. Manggala Agni, relawan-relawan pecinta hutan, dan pecinta pegunungan di sekitaran Bromo ini semua punya peran yang luar biasa. Dari TNI/Polri juga mengerahkan pasukannya. Jadi support mereka mudah-mudahan mempercepat semua proses cepat teratasi,” kata Khofifah.
Sementara itu, Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menduga kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, bukan faktor alam.
Menurut dia, titik awal api berada di jalur tradisional yang menghubungkan Desa Ngadas dan Ranu Pani sehingga diduga berasal dari aktivitas warga yang menyalakan api untuk menghangatkan badan.
“Nah, kemungkinan kadang-kadang yang melintas itu kalau pas tengah-tengah dingin juga kemudian bikin perapian, mungkin lupa atau seperti apa. Dengan cuaca seperti ini, itu menjadi pemicu kebakaran. Seperti itu yang kita duga sampai saat ini,” ucapnya.
Meski demikian, pihaknya belum melakukan pendalaman lebih lanjut terkait penyebab pasti kebakaran karena masih memprioritaskan proses pemadaman.
“Apakah ada kesengajaan, sebenarnya itu tidak disengaja kalau menurut kami. Karena tadi, ada yang ingin untuk apa, menghangatkan badan, jadi bukan karena membakar untuk menjadi seperti ini ya, tetapi faktor ketidak sengajaan saja kalau dari dugaan kami sementara ini.”
Kebakaran tersebut juga mulai berdampak pada sektor pariwisata. Berdasarkan laporan pelaku usaha wisata di kawasan Malang, sekitar 25% wisatawan membatalkan kunjungan meski akses menuju Bromo masih dapat dilakukan melalui Pasuruan maupun Cemoro Lawang.
“Dari komunikasi kami dengan para pelaku wisata di daerah Malang, terutama di penginapan, memang beberapa pengunjung yang sudah melakukan pemesanan kemudian melakukan pembatalan, meskipun disarankan kalau masih ingin berkunjung bisa melingkar dari Pasuruan maupun Cemoro Lawang, tapi sepertinya beberapa pengunjung kemudian lebih memilih untuk membatalkannya. Jumlahnya 25% kalau catatan kita,” ujarnya.
Dia menegaskan jalur Malang baru akan dibuka kembali setelah proses pemadaman selesai. Adapun terkait satwa liar, Rudijanta mengatakan dampaknya relatif terbatas karena lokasi kebakaran didominasi kawasan tebing, meski sejumlah vegetasi endemik tetap berpotensi terdampak.
Sumber: surabaya.bisnis.com

