Karhutla Indonesia, Kabut Asap Meluas hingga Timor-Leste
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – Karhutla Indonesia memicu kekhawatiran terhadap penyebaran kabut asap lintas negara yang berdampak hingga Timor-Leste. Kualitas udara di Singapura juga memburuk, sementara pemerintah Timor-Leste mengambil langkah perlindungan dengan menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka di sekolah.
Situasi di Timor-Leste semakin serius setelah pemerintah negara tersebut memutuskan menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka di seluruh sekolah pada 15–17 Oktober 2026. Kebijakan itu diambil untuk melindungi siswa, guru, dan tenaga kependidikan dari risiko paparan polusi udara.
Menurut laporan kantor berita nasional Timor-Leste, TATOLI, keputusan tersebut diumumkan pada Rabu (14/10/2026). Pemerintah meminta sekolah mengatur pembelajaran dari rumah selama penutupan sementara berlangsung.
Direktorat Nasional Meteorologi dan Geofisika Timor-Leste sebelumnya menyatakan kabut asap yang menyelimuti sebagian besar wilayah negara itu berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di kawasan regional, termasuk Indonesia.
Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta juga menyampaikan solidaritas kepada Indonesia dalam menghadapi bencana kebakaran yang berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Lebih dari 20 Ribu Titik Panas Terdeteksi
Tekanan akibat karhutla di Indonesia terlihat dari peningkatan jumlah titik panas yang terpantau satelit.
Berdasarkan data sistem pemantauan karhutla SiPongi Kementerian Kehutanan yang dilaporkan TATOLI pada 14 Oktober 2026, sebanyak 20.334 titik panas terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia dalam periode 24 jam. Angka tersebut meningkat 9.297 titik dibandingkan periode sebelumnya.
Kalimantan Tengah mencatat jumlah tertinggi dengan 11.166 titik panas. Berikutnya, Sumatera Selatan mencatat 2.404 titik, Kalimantan Selatan 1.156 titik, dan Kalimantan Barat 1.007 titik.
Titik panas juga terdeteksi di Papua Selatan sebanyak 835 titik, Kalimantan Timur 707 titik, serta Sulawesi Tengah 361 titik.
Perlu dicatat, titik panas merupakan indikasi yang terdeteksi melalui pengamatan satelit dan tidak seluruhnya dapat dipastikan sebagai kebakaran aktif. Meski demikian, lonjakan tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan dan pemeriksaan lapangan, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan.
Kebakaran di lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Kondisi ini memungkinkan kebakaran kembali muncul meskipun api di permukaan telah dipadamkan.
Kualitas Udara Singapura Memburuk
Dampak kabut asap juga terlihat di Singapura. Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) melaporkan bahwa pada 14 Oktober 2026, konsentrasi PM2.5 selama satu jam mencapai 139–251 mikrogram per meter kubik di berbagai wilayah.
Pada waktu yang sama, indeks standar pencemar udara atau Pollutant Standards Index (PSI) selama 24 jam berada pada rentang 118–168, yang masuk kategori tidak sehat.
NEA menyebut asap tebal dari kebakaran di Kalimantan bergerak menuju Singapura akibat pengaruh angin yang bertiup dari tenggara. Asap juga terpantau berada di wilayah Sumatra.
Lembaga tersebut memperkirakan kondisi kualitas udara dapat tetap berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bergantung pada perkembangan kebakaran, arah angin, dan kondisi cuaca.
PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan dalam konsentrasi tinggi berisiko mengganggu kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan dan jantung.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengikuti informasi kualitas udara dan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika tingkat pencemaran meningkat.
El Niño Memperburuk Risiko Kebakaran
Kondisi kering yang berkepanjangan turut memperbesar risiko karhutla di Indonesia. Fenomena El Niño memperburuk kekeringan di sejumlah wilayah sehingga vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar.
Selain faktor cuaca, kerusakan ekosistem gambut dan praktik pembukaan lahan dengan pembakaran juga menjadi perhatian dalam penanganan kebakaran.
Pemerintah Indonesia telah mengerahkan personel serta melakukan berbagai upaya pemadaman. Namun, kebakaran di kawasan gambut membutuhkan penanganan intensif karena bara dapat bertahan di bawah tanah dan menghasilkan asap dalam waktu lama.
Penyebaran asap hingga negara tetangga memperlihatkan bahwa penanganan karhutla bukan hanya persoalan domestik. Dampaknya dapat meluas ke kesehatan masyarakat, kegiatan pendidikan, transportasi, dan aktivitas ekonomi lintas negara.
Situasi ini juga menegaskan pentingnya kerja sama regional untuk mencegah kebakaran, memperkuat pemantauan titik panas, serta memastikan sumber pencemaran ditangani secara efektif.
Dengan sekolah-sekolah di Timor-Leste menghentikan sementara pembelajaran tatap muka dan kualitas udara Singapura memburuk, pengendalian karhutla di Indonesia menjadi semakin mendesak. (*)