Kapal Kargo Thailand Diserang Saat Melintas Selat Hormuz

Sebuah kapal kargo milik Thailand diserang di Selat Hormuz pada Rabu, 11 Maret 2026. Kapal tersebut bukan kapal perang maupun milik negara yang terlibat konflik. Kapal itu merupakan kapal dagang milik perusahaan pelayaran Thailand, Precious Shipping Plc, yang sedang melakukan perjalanan dari Uni Emirat Arab menuju India. Namun kapal tersebut tetap menjadi sasaran tembakan Garda Revolusi Islam Iran. Dua proyektil menghantam bagian lambung kapal, memicu kebakaran di ruang mesin, dan menyebabkan tiga awak kapal hingga kini masih belum ditemukan.

Insiden ini dinilai bukan sekadar kecelakaan di laut. Peristiwa tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Selat Hormuz kini tidak lagi sepenuhnya aman untuk dilalui. Serangan ini terjadi pada hari ke-12 sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Dampaknya kini mulai dirasakan oleh negara-negara yang sebenarnya tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut.

Kapal yang diserang bernama Mayuree Naree, sebuah kapal bulk carrier dengan bobot sekitar 30.000 ton dan panjang 178 meter. Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Khalifa di Uni Emirat Arab pada Rabu pagi dengan tujuan Pelabuhan Kandla di Gujarat, India. Rute pelayaran tersebut memang melewati Selat Hormuz yang selama ini dikenal sebagai jalur penting bagi perdagangan energi dunia.

Sekitar pukul 11.10 waktu Thailand, kapal tersebut diserang. Dua proyektil menghantam bagian buritan kapal di atas garis air. Ledakan pertama langsung memicu kebakaran di ruang mesin sehingga kondisi kapal dengan cepat menjadi tidak terkendali. Para awak kapal akhirnya memutuskan meninggalkan kapal menggunakan sekoci penyelamat.

Namun tiga awak kapal tidak sempat ikut menyelamatkan diri. Mereka diduga masih berada di ruang mesin saat kebakaran terjadi ketika proses evakuasi berlangsung. Hingga saat ini, ketiganya masih dinyatakan hilang dan proses pencarian terus dilakukan.

Tidak lama setelah kejadian, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memberikan pernyataan resmi. Melalui kantor berita ISNA, IRGC mengakui bahwa pihaknya yang menembaki kapal Mayuree Naree. Mereka juga mengaku melakukan serangan terhadap kapal lain pada hari yang sama, yakni kapal Express Rome berbendera Liberia yang diklaim Iran sebagai milik Israel.

IRGC menyatakan bahwa kedua kapal tersebut telah mengabaikan peringatan dari pasukan angkatan laut Iran dan mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izin.

Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, juga menegaskan hal tersebut melalui unggahan di platform X. Ia menyatakan bahwa setiap kapal yang hendak melintasi Selat Hormuz harus terlebih dahulu memperoleh izin dari Iran.

Pernyataan tersebut dinilai sebagai peringatan terbuka bagi kapal-kapal internasional. Kapal mana pun yang melintas tanpa persetujuan Teheran disebut berpotensi menghadapi risiko serupa dengan yang dialami Mayuree Naree.

Sementara itu, Angkatan Laut Kerajaan Thailand menyebut kapal tersebut diserang tidak lama setelah meninggalkan Pelabuhan Khalifa. Namun mereka menegaskan bahwa penyebab pasti dan rincian serangan masih dalam proses penyelidikan.

Pemerintah Thailand melalui Kementerian Luar Negeri dan Angkatan Laut segera melakukan koordinasi dengan otoritas di Oman dan Bahrain. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Uni Emirat Arab serta lembaga maritim internasional untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan para awak kapal yang hilang.

Loading

Be the first to comment

Leave a Reply