Senin, 26 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

JRF dan Konser Ye Putar Rp625 Miliar, Siapa Menikmati?

Riskal Arief | | 5 mnt baca
JRF dan Konser Ye Putar Rp625 Miliar, Siapa Menikmati?
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BeritaNow.com — Dua acara berskala internasional yang berlangsung di Jakarta pada akhir pekan lalu disebut menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp625 miliar. Jakarta Running Festival (JRF) 2026 dan konser rapper Kanye West atau Ye tidak hanya menarik ribuan pengunjung, tetapi juga menggerakkan kegiatan perdagangan, perhotelan, dan berbagai layanan pendukung. Namun, angka tersebut masih merupakan perhitungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sehingga perlu dibedakan dari pendapatan bersih yang benar-benar diterima pelaku usaha maupun pemerintah daerah.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyampaikan perhitungan tersebut saat meresmikan Puskesmas Taman Sari, Jakarta Barat, Senin (26/10/2026). Menurut Pramono, JRF memberikan dampak ekonomi sekitar Rp175 miliar, sedangkan konser Ye Live in Jakarta diperkirakan menghasilkan Rp450 miliar. Kedua kegiatan berlangsung pada akhir pekan 24–25 Oktober dan menjadi bagian dari agenda olahraga serta hiburan berskala besar di ibu kota.

Dari konser Ye, penjualan tiket saja dilaporkan mencapai Rp328 miliar. Artinya, terdapat selisih sekitar Rp122 miliar antara nilai tiket dan estimasi keseluruhan dampak ekonomi konser. Pramono mengaitkan dampak tambahan itu dengan aktivitas penonton sebelum dan sesudah pertunjukan, termasuk penggunaan hotel dan belanja di pusat perbelanjaan.

Konser Ye Jadi Penyumbang Terbesar
Dari total Rp625 miliar yang disebut pemerintah daerah, konser Ye menyumbang sekitar 72 persen, sedangkan JRF berkontribusi sekitar 28 persen. Komposisi tersebut menunjukkan besarnya nilai ekonomi yang dikaitkan dengan penyelenggaraan pertunjukan musik internasional. Namun, dominasi angka konser tidak otomatis berarti keuntungan bersihnya lebih besar karena struktur biaya kedua acara berbeda.

Tingginya nilai penjualan tiket memperlihatkan kemampuan konser musisi global menarik pengeluaran konsumen dalam waktu singkat. Selain tiket, pengunjung membutuhkan transportasi, penginapan, makanan, dan layanan lain selama berada di Jakarta. Aktivitas tersebut dapat menciptakan permintaan tambahan bagi berbagai sektor usaha, meskipun besarnya manfaat yang diterima masing-masing sektor belum diumumkan secara terperinci.

Pramono menyatakan masih terdapat kegiatan ekonomi yang belum seluruhnya tercakup dalam perhitungan pemerintah daerah. Ia mencontohkan belanja pengunjung di mal serta aktivitas perhotelan yang berlangsung setelah konser berakhir. Meski demikian, belum tersedia rincian metodologi yang memungkinkan publik menilai apakah seluruh pengeluaran tersebut benar-benar merupakan tambahan aktivitas ekonomi atau pengeluaran yang hanya berpindah dari kegiatan lain.

JRF Membuka Ruang bagi UMKM
Sementara itu, Jakarta Running Festival menghasilkan estimasi dampak ekonomi Rp175 miliar. Ajang olahraga tersebut tidak hanya melibatkan peserta lari, tetapi juga menyelenggarakan race expo yang mempertemukan berbagai merek dan pelaku usaha. Pramono menyebut sebanyak 49 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bersama sekitar 130 merek lokal serta internasional turut berpartisipasi.

Kehadiran UMKM menunjukkan bahwa festival olahraga dapat menjadi sarana pemasaran di luar kompetisi atletik. Pelaku usaha memperoleh kesempatan memperkenalkan produk secara langsung kepada peserta dan pengunjung. Namun, jumlah peserta pameran belum dapat digunakan sebagai ukuran peningkatan omzet tanpa data transaksi dan biaya partisipasi masing-masing usaha.

Sebelum penyelenggaraan JRF, pemerintah daerah memperkirakan perputaran ekonomi kegiatan tersebut dapat melampaui Rp150 miliar. Estimasi Rp175 miliar yang disampaikan setelah acara berarti lebih tinggi daripada proyeksi awal tersebut. Perbandingan ini menunjukkan perubahan hasil perhitungan pemerintah, tetapi belum membuktikan seluruh manfaat ekonomi sudah terealisasi dan diterima pelaku usaha.

Perputaran Uang Belum Tentu Jadi Keuntungan Daerah
Besarnya aktivitas ekonomi dari festival dan konser perlu dibaca secara hati-hati. Nilai penjualan tiket merupakan penerimaan kotor yang masih harus memperhitungkan biaya produksi, honor artis, sewa tempat, pajak, dan berbagai pengeluaran penyelenggara. Sebagian dana juga dapat mengalir kepada pemasok atau perusahaan di luar Jakarta sehingga tidak seluruhnya menjadi nilai tambah ekonomi lokal.

Demikian pula dengan pengeluaran wisatawan di hotel, restoran, dan transportasi. Kegiatan tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan usaha serta membuka kesempatan kerja sementara. Namun, untuk mengetahui manfaat bersihnya, pemerintah perlu membandingkan tambahan transaksi dengan biaya penyelenggaraan, pengamanan, pengaturan lalu lintas, serta kemungkinan gangguan terhadap kegiatan ekonomi lainnya.

Pemprov DKI sebelumnya menyampaikan optimisme bahwa JRF dan konser Ye mampu memberikan dorongan ekonomi yang besar bagi Jakarta. Perhitungan terbaru Rp625 miliar memperkuat gambaran mengenai besarnya aktivitas komersial yang berkaitan dengan kedua acara tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat itu tersebar lebih luas, terutama kepada UMKM, pekerja sektor jasa, dan usaha lokal yang berada di sekitar lokasi kegiatan.

Jakarta Perlu Mengukur Manfaat Jangka Panjang
Penyelenggaraan acara internasional dapat menjadi instrumen pengembangan ekonomi perkotaan apabila diikuti strategi yang terencana. Pemerintah daerah dapat memanfaatkannya untuk memperluas kunjungan wisata, mempromosikan usaha lokal, serta meningkatkan kualitas pelayanan kota. Namun, keberhasilan strategi tersebut membutuhkan data yang dapat menunjukkan tambahan kunjungan, lama tinggal wisatawan, dan pengeluaran mereka.

JRF dan konser Ye memberikan contoh bagaimana kegiatan olahraga serta hiburan berpotensi menggerakkan sektor ekonomi yang berbeda. Festival lari membuka peluang bagi industri olahraga dan usaha pendukung, sedangkan konser musik menarik konsumen dari pasar hiburan dan pariwisata. Keduanya dapat saling melengkapi, tetapi perhitungan manfaatnya harus menghindari pencatatan ganda atas pengeluaran pengunjung yang menghadiri lebih dari satu kegiatan.

Angka Rp625 miliar akhirnya menjadi titik awal untuk menilai kebijakan pengembangan Jakarta sebagai kota penyelenggara acara internasional. Nilai yang lebih penting bukan sekadar besarnya uang yang beredar selama satu akhir pekan, melainkan berapa banyak manfaat yang benar-benar tinggal dalam perekonomian lokal. Transparansi perhitungan dan keterlibatan usaha kecil akan menentukan apakah pertumbuhan industri acara dapat memberikan dampak yang lebih merata bagi warga Jakarta.(*)

Komentar (0)