Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
TANGERANG, BERITANOW — Osteoporosis kerap berkembang tanpa gejala yang jelas sampai seseorang mengalami patah tulang. Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi dr. Wijaya Johanes Chendra mengingatkan risiko tersebut semakin penting diperhatikan pada usia di atas 50 tahun, ketika kepadatan tulang mulai menurun dan tulang menjadi lebih rapuh. Kondisi ini dapat berdampak serius karena patah tulang pada usia lanjut sering berkaitan dengan penurunan kemandirian dan kualitas hidup.
Lokasi patah tulang yang paling sering terdampak osteoporosis adalah panggul atau paha atas, tulang belakang, dan pergelangan tangan. Fraktur panggul termasuk komplikasi paling berat karena dapat berujung pada kecacatan jangka panjang, sedangkan fraktur tulang belakang sering tidak terdiagnosis meski dapat menyebabkan nyeri kronis, perubahan postur, dan penurunan tinggi badan. WHO juga mencatat bahwa fragility fracture pada orang lanjut usia banyak berkaitan dengan kerapuhan tulang dan dapat terjadi hanya akibat benturan ringan atau jatuh dari posisi berdiri.
Masalahnya, osteoporosis sering baru diketahui setelah komplikasi muncul. Itulah sebabnya pemeriksaan kesehatan tulang sejak dini menjadi penting, terutama bagi orang dengan faktor risiko seperti usia lanjut, menopause, riwayat patah tulang, kurang aktivitas fisik, kekurangan vitamin D dan kalsium, atau penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang. Penilaian risiko dan pemeriksaan kepadatan tulang dapat membantu dokter menentukan apakah seseorang membutuhkan intervensi lebih lanjut.
Pemeriksaan Jangan Menunggu Tulang Patah
Osteoporosis adalah kondisi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga struktur tulang menjadi lebih rapuh. Proses ini dapat berlangsung perlahan selama bertahun-tahun tanpa tanda yang mudah dikenali. Karena itu, menunggu munculnya nyeri atau patah tulang justru dapat membuat penanganan datang terlambat.
Pemeriksaan kepadatan mineral tulang atau bone mineral density menjadi salah satu cara untuk menilai kesehatan tulang. WHO menyebut pengukuran kepadatan tulang dapat digunakan bersama faktor risiko klinis untuk memperkirakan kemungkinan seseorang mengalami patah tulang dalam beberapa tahun ke depan. Di tingkat klinis, pemeriksaan semacam ini membantu dokter menentukan apakah seseorang hanya membutuhkan perubahan gaya hidup atau perlu terapi khusus.
Pesan pentingnya bukan semua orang harus menjalani pemeriksaan yang sama pada usia tertentu. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan berdasarkan faktor risiko, riwayat kesehatan, dan penilaian dokter. Namun bagi kelompok usia di atas 50 tahun, terutama perempuan pascamenopause, perhatian terhadap kesehatan tulang sebaiknya mulai menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin.
Gaya Hidup Tetap Menjadi Pertahanan Utama
Pencegahan osteoporosis tidak hanya bergantung pada obat. Aktivitas fisik yang memberi beban pada tulang, seperti berjalan, naik tangga, dan latihan beban, dapat membantu menjaga kekuatan tulang sekaligus memperkuat otot dan keseimbangan tubuh. Hal ini penting karena mengurangi risiko jatuh sama pentingnya dengan memperbaiki kualitas tulang itu sendiri.
Asupan vitamin D dan kalsium juga berperan dalam menjaga kepadatan tulang. Kementerian Kesehatan mencatat aktivitas fisik, kecukupan vitamin D dan kalsium, usia, serta perubahan hormon sebagai faktor yang memengaruhi kesehatan tulang. Pada perempuan, penurunan estrogen setelah menopause dapat mempercepat berkurangnya massa tulang.
Namun latihan pada pasien osteoporosis tidak boleh dilakukan sembarangan. Intensitas dan jenis olahraga perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh karena tulang yang sudah rapuh memiliki risiko patah lebih tinggi. Karena itu, konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan tetap penting, terutama bagi orang yang pernah mengalami patah tulang atau memiliki keluhan pada tulang dan sendi.
Kesehatan tulang sebaiknya tidak baru menjadi perhatian ketika seseorang sulit berjalan atau mengalami patah tulang. Tulang yang tampak baik dari luar belum tentu memiliki kepadatan yang cukup kuat di dalam. Pemeriksaan dini, evaluasi faktor risiko, aktivitas fisik, dan pola makan yang baik memberi peluang lebih besar untuk menjaga kemandirian hingga usia lanjut.(*)