Rabu, 07 Oktober 2026
Breaking News
Daerah

Jakarta Waspadai Dampak Kemarau Panjang, Risiko Kebakaran Jadi Perhatia

Effra S. Husein | | 3 mnt baca
Jakarta Waspadai Dampak Kemarau Panjang, Risiko Kebakaran Jadi Perhatia
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM— Kemarau panjang Jakarta membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Kondisi cuaca yang lebih kering, ditambah pengaruh fenomena El Niño, dinilai dapat meningkatkan risiko kebakaran apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta seluruh jajaran pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi menghadapi dampak kemarau panjang. Kesiapsiagaan dinilai penting karena kebakaran di wilayah perkotaan dapat berkembang dengan cepat, terutama di kawasan permukiman padat.

Pramono menyampaikan perhatian tersebut dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta 2026 di Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga untuk menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat muncul selama periode kemarau.

Kewaspadaan terhadap kebakaran juga didukung data kejadian di lapangan. Pemprov DKI mencatat sebanyak 457 kejadian kebakaran sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 240 kejadian terjadi pada Agustus.

Data tersebut menunjukkan bahwa ancaman kebakaran tetap perlu mendapat perhatian, terlebih ketika kondisi lingkungan mengalami kekeringan. Faktor kelistrikan menjadi salah satu penyebab yang banyak ditemukan dalam kejadian kebakaran di Jakarta.

Selain persoalan instalasi listrik, aktivitas masyarakat juga perlu menjadi perhatian. Pembakaran sampah secara terbuka, penggunaan api tanpa pengawasan, serta puntung rokok yang dibuang sembarangan berpotensi menjadi sumber api apabila berada di lingkungan yang kering.

Menghadapi kemarau panjang Jakarta, Pemprov DKI sebelumnya telah menyiapkan sumber daya untuk menghadapi berbagai dampak musim kemarau. Sebanyak 1.027 personel lintas instansi dan 29 mobil tangki disiagakan untuk mendukung penanganan kekeringan, kebutuhan air bersih, kebakaran hingga persoalan kualitas udara.

Kesiapsiagaan tersebut melibatkan berbagai unsur, antara lain perangkat Pemprov DKI, TNI, Polri, BNPB, BMKG, PAM Jaya, PMI, relawan dan sejumlah mitra kebencanaan. Kolaborasi diperlukan agar respons terhadap kejadian darurat dapat dilakukan secara cepat.

Pemerintah juga mendorong kesiapan masyarakat di tingkat lingkungan. Ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR), pemeriksaan instalasi listrik secara berkala, serta pengawasan terhadap aktivitas yang menggunakan api menjadi bagian dari upaya pencegahan.

Di tingkat rumah tangga, warga juga diminta tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan. Langkah sederhana tersebut penting karena api yang awalnya kecil dapat dengan mudah menyebar apabila mengenai material kering dan mudah terbakar.

Selain kesiapsiagaan terhadap kebakaran, Pemprov DKI menjalankan berbagai langkah untuk menghadapi dampak kemarau, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca. Pelaksanaannya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan untuk dilakukan modifikasi.

Kondisi kemarau panjang Jakarta pada akhirnya tidak hanya menjadi persoalan pemerintah. Masyarakat memiliki peran penting dalam mengurangi risiko melalui kewaspadaan di lingkungan masing-masing.

Pemprov DKI juga mengingatkan masyarakat untuk segera melaporkan kondisi darurat melalui layanan Jakarta Siaga 112. Pelaporan secara cepat diharapkan dapat memperpendek waktu respons petugas ketika terjadi kebakaran atau keadaan darurat lainnya.

Dengan kondisi cuaca yang masih perlu diwaspadai, pencegahan menjadi bagian penting dalam menghadapi musim kemarau. Kesiapan pemerintah, petugas kebencanaan dan masyarakat diperlukan agar potensi kebakaran dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar. (*)

Komentar (0)