Senin, 28 September 2026
Breaking News
Internasional

Iran Tunggu Jawaban Resmi AS soal Selat Hormuz, Oman Desak Solusi Politik

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Iran Tunggu Jawaban Resmi AS soal Selat Hormuz, Oman Desak Solusi Politik
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

TEHERAN, BERITANOW.COM — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pihaknya masih menunggu tanggapan resmi dari Amerika Serikat terkait proposal pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran mengaku tidak menggubris penolakan terbuka Presiden AS Donald Trump karena belum menerima sikap resmi melalui jalur mediator.

Pernyataan itu disampaikan Araghchi pada Minggu (27/9/2026), seperti dikutip Anadolu. Ia menegaskan bahwa keputusan Teheran akan bergantung pada posisi akhir yang disampaikan Washington melalui perantara.

Menunggu Sikap Resmi Washington
Araghchi menjelaskan bahwa syarat-syarat Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut telah disampaikan dalam serangkaian pertemuan di New York. Syarat itu kemudian diteruskan oleh para mediator kepada pihak AS.

"Kami telah mendengar reaksi pertama dari Presiden AS, tetapi belum ada hal resmi yang disampaikan kepada kami melalui mediator," ujar Araghchi. "Kami menunggu posisi akhir disampaikan melalui mediator, dan kami akan mengambil keputusan berdasarkan hal tersebut."

Ia menekankan bahwa kemajuan apa pun untuk membuka kembali selat maupun melangkah ke tahap perundingan selanjutnya tetap bergantung pada pemenuhan tuntutan Iran. Menurutnya, syarat-syarat yang diajukan Teheran sudah jelas dan tidak lebih dari apa yang tercantum dalam Nota Kesepahaman AS-Iran yang ditandatangani pada Juni lalu.

Trump Tolak Proposal Iran
Sebelumnya, Trump menolak usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ia menyebut proposal terbaru dari Teheran "tidak dapat diterima" dan menilai Iran tengah mengalami kerugian besar.

"Saya menolak usulan mereka. Mereka ingin membuat kesepakatan untuk segera membuka selat itu karena mereka sedang mengalami kerugian besar," kata Trump, seperti dikutip CNN.

Iran disebut mengajukan tawaran baru kepada Washington yang mencakup pembukaan kembali jalur perairan vital dan dimulainya lagi perundingan antara kedua negara. Sebagai imbalan, AS diminta memenuhi sejumlah tuntutan lama.

Nota Kesepahaman yang ditandatangani pada Juni lalu memuat ketentuan mengenai pelonggaran sanksi, pencairan aset yang dibekukan, serta penghentian operasi militer, termasuk di Lebanon. Namun, kesepakatan itu gagal tak lama kemudian di tengah kembali meletusnya pertempuran.

Oman Desak Penyelesaian Politik
Di New York, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyampaikan komitmen negaranya untuk menjaga kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Ia mendesak Iran dan AS menyelesaikan perselisihan melalui jalur politik yang langgeng.

Dalam pidatonya pada Sidang ke-81 Majelis Umum PBB, Albusaidi mengatakan konflik akibat serangan AS-Israel terhadap Iran mengancam keamanan kawasan. Menurutnya, konflik tersebut juga mengganggu pelayaran dan perdagangan yang melalui jalur strategis itu, serta berdampak pada keamanan energi, harga, dan kepercayaan terhadap sistem internasional.

Albusaidi menyatakan Oman berkomitmen melindungi navigasi melalui Selat Hormuz sesuai dengan hukum internasional dan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Ia mengajak seluruh pihak bekerja sama dengan Muscat untuk memastikan jalur pelayaran melalui titik strategis tersebut tetap terbuka, dengan menghormati kepentingan negara-negara yang bergantung pada jalur itu.

Solidaritas dan Isu Yaman
Menteri luar negeri Oman itu juga mendesak Teheran dan Washington menyelesaikan perselisihan yang masih ada serta mengupayakan kesepahaman politik yang dapat memberikan jalan keluar jangka panjang dari krisis. Ia menyampaikan solidaritas Oman kepada negara-negara tetangga atas langkah yang mereka ambil untuk melindungi keamanan, kedaulatan, dan integritas wilayah masing-masing.

Terkait Yaman, Albusaidi kembali menegaskan dukungan Oman terhadap penyelesaian politik yang mempertahankan persatuan, stabilitas, dan integritas wilayah negara tersebut. Ia menyerukan pihak-pihak terkait bekerja menuju kesepakatan yang melindungi kedaulatan Yaman serta hubungan negara itu dengan negara-negara tetangganya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah AS mengenai apakah tanggapan formal akan disampaikan melalui mediator. Situasi di Selat Hormuz masih menjadi perhatian internasional mengingat perannya sebagai jalur pelayaran dan energi utama dunia.(*)

Informasi ini dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.

Komentar (0)