Iran Sindir Trump Usai Partai Republik Kalah di Pemilu Sela AS
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM - Pemerintah Iran melontarkan kritik sekaligus sindiran terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump setelah Partai Republik mengalami kekalahan dalam pemilihan sela atau midterm election 2026. Kemenangan Partai Demokrat dalam perebutan kursi Kongres dinilai menjadi pukulan politik bagi pemerintahan Trump.
Sejumlah pejabat tinggi Iran bahkan memanfaatkan hasil pemilu tersebut untuk menyampaikan pesan politik kepada Washington. Mereka menilai kekalahan Partai Republik tidak terlepas dari kebijakan pemerintahan Trump, khususnya keputusan melibatkan Amerika Serikat dalam konflik militer dengan Iran.
Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menjadi salah satu pejabat yang secara terbuka menyampaikan sindiran tersebut. Ia menyebut Trump telah menghadapi kekalahan dalam dua bidang sekaligus, yakni peperangan dan persaingan politik di dalam negeri.
Dalam pernyataannya pada Rabu, 4 November 2026, Mohseni Ejei menegaskan bahwa Iran tidak akan berhenti memberikan tekanan apabila Amerika Serikat kembali mengambil tindakan yang dinilai merugikan kepentingan negaranya.
Ia juga menyampaikan bahwa kekalahan yang dialami Trump bukan hanya terjadi di medan konflik, tetapi turut tercermin dari perkembangan politik domestik Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu bentuk respons keras Teheran terhadap hasil pemilihan sela yang berlangsung pada 3 November 2026.
Partai Demokrat Berhasil Menguasai Kongres AS
Hasil pemilihan sela Amerika Serikat 2026 memberikan keuntungan besar bagi Partai Demokrat. Partai yang sebelumnya berada di luar kendali mayoritas Kongres tersebut berhasil merebut kembali posisi dominan di dua lembaga legislatif, yaitu Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives).
Berdasarkan proyeksi hasil pemilu yang diberitakan sejumlah media internasional, Demokrat berhasil mengamankan mayoritas di Senat dengan keunggulan sementara 54 kursi berbanding 44 kursi milik Partai Republik. Sementara itu, di DPR, Demokrat juga berhasil membalikkan peta kekuatan politik melalui perolehan sejumlah kursi tambahan.
Kemenangan tersebut memberikan ruang lebih besar bagi Partai Demokrat untuk mengawasi kebijakan pemerintahan Trump selama dua tahun terakhir masa jabatannya.
Dengan kendali Kongres berada di tangan oposisi, sejumlah agenda pemerintahan berpotensi menghadapi hambatan politik. Demokrat juga memiliki kesempatan lebih luas untuk melakukan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah, termasuk keputusan yang berkaitan dengan hubungan luar negeri dan konflik militer.
Kondisi ini menjadi alasan mengapa hasil pemilu tersebut mendapat perhatian besar dari pemerintah Iran.
Trump Akui Perang Iran Berdampak pada Kekalahan Partainya
Kekalahan Partai Republik turut dikaitkan dengan keputusan Donald Trump menjalankan operasi militer terhadap Iran. Kebijakan tersebut dinilai menimbulkan konsekuensi ekonomi yang dirasakan masyarakat Amerika Serikat.
Salah satu dampak yang menjadi perhatian adalah meningkatnya harga bahan bakar. Konflik yang melibatkan kedua negara turut memengaruhi pasar energi internasional dan menambah tekanan terhadap biaya hidup masyarakat.
Trump sendiri mengakui bahwa perang dengan Iran ikut memberikan pengaruh terhadap hasil buruk yang diperoleh Partai Republik dalam pemilihan sela.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan luar negeri tidak selalu terpisah dari persoalan politik domestik. Keputusan pemerintah dalam menghadapi konflik internasional dapat memengaruhi penilaian masyarakat terhadap kepemimpinan presiden.
Bagi Iran, perkembangan tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa kebijakan militer Washington juga menghadapi konsekuensi politik di dalam negeri.
Ketua Parlemen Iran Sebut Rakyat AS Menolak Perang
Ketua Parlemen Iran sindir Donald Trump , Mohammad Bagher Ghalibaf. Melalui unggahan di media sosial, ia menafsirkan kemenangan Partai Demokrat sebagai gambaran penolakan masyarakat Amerika terhadap konflik bersenjata.
Ghalibaf menyampaikan bahwa pesan penolakan terhadap perang yang muncul dari hasil pemilu tersebut sejalan dengan sikap pemerintah Iran.
Ia juga mengingatkan Washington agar tidak mengabaikan aspirasi masyarakatnya sendiri ketika menentukan kebijakan terhadap negara lain.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana pemerintah Iran berusaha memanfaatkan momentum politik di Amerika Serikat untuk memperkuat narasi penolakannya terhadap kebijakan militer Trump.
Iran Menilai Pengaruh Politik Trump Semakin Melemah
Hasil pemilihan sela AS juga dipandang sebagai tanda berkurangnya kekuatan politik Trump di dalam negeri. Kehilangan kendali atas Kongres membuat presiden dari Partai Republik tersebut harus menghadapi tantangan lebih besar dalam menjalankan agenda pemerintahannya.
Meski demikian, kemenangan Demokrat tidak secara otomatis mengakhiri kewenangan Trump sebagai presiden. Ia tetap memegang kekuasaan eksekutif hingga masa jabatannya berakhir, sementara Kongres memiliki kewenangan legislatif dan pengawasan terhadap pemerintah.
Bagi Teheran, perubahan komposisi politik di Washington menjadi perkembangan yang patut diperhatikan, terutama terkait kemungkinan perubahan pendekatan Amerika Serikat terhadap konflik Iran.
Sejumlah pejabat Iran menyambut hasil pemilu tersebut dengan optimisme, tetapi situasi keamanan kedua negara masih menjadi perhatian. Ketegangan militer dan kemungkinan berlanjutnya serangan tetap menjadi faktor yang dapat memengaruhi hubungan bilateral.
Dengan demikian, kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan sela 2026 bukan hanya menjadi persoalan politik domestik Amerika Serikat. Hasil tersebut juga memunculkan respons dari negara-negara lain, termasuk Iran, yang selama ini berada dalam ketegangan dengan pemerintahan Donald Trump.(*)