Kamis, 22 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Iran Ancam Aset AS, Selat Hormuz Jadi Titik Rawan Perang

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Iran Ancam Aset AS, Selat Hormuz Jadi Titik Rawan Perang
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

TEHERAN, BERITANOW.COM — Iran memperingatkan Amerika Serikat bahwa aset politik Washington dan infrastruktur negara-negara yang terlibat dalam serangan baru terhadap Teheran dapat menjadi sasaran balasan. Ancaman tersebut disampaikan seorang pejabat senior keamanan Iran melalui kantor berita semi-resmi Fars, Rabu (21/10/2026), di tengah meningkatnya ketegangan militer kedua negara. Peringatan itu muncul ketika perselisihan mengenai blokade laut dan pengaturan keamanan Selat Hormuz belum menemukan penyelesaian.

Pejabat Iran yang tidak disebutkan identitasnya itu menyatakan bahwa tindakan balasan dapat dilakukan apabila perang baru mengakibatkan terbunuhnya pejabat Iran atau jatuhnya korban sipil. Ia juga mengklaim Teheran memperkirakan Amerika Serikat dan Israel akan kembali melancarkan serangan. Pernyataan tersebut merupakan ancaman bersyarat, bukan konfirmasi bahwa operasi militer baru telah dimulai.

Menurut pejabat tersebut, Iran memandang blokade ekonomi dan laut Amerika Serikat sebagai kelanjutan konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026. Teheran juga meragukan kesungguhan Washington dalam menawarkan penyelesaian diplomatik. Kondisi ini membuat ketegangan di Selat Hormuz semakin penting karena jalur pelayaran tersebut menjadi salah satu pokok perselisihan dalam negosiasi kedua negara.

Selat Hormuz Menjadi Pusat Perselisihan
Selat Hormuz memiliki arti strategis karena menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan jalur perdagangan internasional. Sebelum perang 2026, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia melewati perairan tersebut. Gangguan keamanan di kawasan ini karena itu tidak hanya memengaruhi Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga negara-negara pengimpor energi.

Iran sebelumnya menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan sejumlah persyaratan kepada Washington. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada 18 Oktober menyatakan bahwa proposal tersebut masih berlaku, termasuk tuntutan penghentian blokade pelabuhan Iran, pencabutan sanksi ekspor minyak, dan berakhirnya permusuhan regional. Namun Amerika Serikat juga menuntut pembahasan pembatasan program nuklir Iran, sehingga perundingan belum menghasilkan kesepakatan.

Perselisihan tersebut memperlihatkan bagaimana Selat Hormuz telah menjadi instrumen tekanan ekonomi sekaligus keamanan. Bagi Iran, pengaturan kembali pelayaran berkaitan dengan tuntutan pencabutan tekanan Amerika Serikat. Sementara bagi Washington dan mitra regionalnya, keamanan jalur tersebut menjadi persoalan perdagangan, pasokan energi, dan stabilitas kawasan.

Infrastruktur Energi hingga Kabel Internet Terancam
Ancaman Iran terhadap infrastruktur memiliki konteks yang lebih luas daripada fasilitas militer. Pada 21 Oktober, seorang pejabat Garda Revolusi Iran juga memperingatkan kemungkinan serangan terhadap kabel komunikasi bawah laut di Selat Hormuz apabila infrastruktur Iran kembali diserang. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur digital turut disebut sebagai sasaran potensial, meskipun belum membuktikan adanya serangan baru terhadap kabel tersebut.

Risiko terhadap infrastruktur kawasan bukan sekadar kemungkinan. Investigasi Reuters pada 15 Oktober menemukan sedikitnya 135 serangan drone dan rudal Iran serta kelompok sekutunya terhadap 84 lokasi infrastruktur di kawasan Teluk sejak perang dimulai. Fasilitas yang terdampak mencakup pelabuhan minyak, instalasi gas, jaringan pipa, dan bandara, dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda.

Serangan terhadap infrastruktur semacam itu dapat menciptakan gangguan ekonomi yang meluas. Kerusakan fasilitas energi berpotensi mengurangi kemampuan produksi dan distribusi, sedangkan ancaman terhadap kabel komunikasi menambah risiko gangguan konektivitas regional. Namun, besarnya dampak terhadap harga minyak dan layanan internet tetap bergantung pada lokasi, tingkat kerusakan, serta kemampuan pemulihan fasilitas.

Perang Baru Berisiko Mengguncang Ekonomi Global
Bagi perekonomian dunia, Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling sensitif dalam konflik Timur Tengah. Gangguan berkepanjangan dapat meningkatkan biaya pengiriman, asuransi maritim, dan distribusi energi internasional. Negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, berpotensi menghadapi tekanan tambahan apabila konflik menyebabkan harga energi kembali meningkat.

Di sisi diplomatik, ancaman terbaru Iran mempersempit ruang kompromi apabila kedua negara tetap mempertahankan persyaratan masing-masing. Tehran menghendaki pelonggaran blokade dan sanksi, sementara Washington menempatkan persoalan program nuklir sebagai bagian penting perundingan. Perbedaan agenda tersebut membuat pembukaan kembali Selat Hormuz berkaitan langsung dengan penyelesaian konflik yang lebih luas.

Situasi ini menjadikan Selat Hormuz lebih dari sekadar jalur pelayaran strategis. Perairan tersebut kini menjadi tempat bertemunya kepentingan militer, perdagangan energi, dan diplomasi Amerika Serikat-Iran. Selama kesepakatan keamanan belum tercapai, setiap ancaman serangan baru berpotensi meningkatkan ketidakpastian bagi negara-negara di kawasan maupun perekonomian global.(*)

Komentar (0)