Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM – IHSG dan rupiah 24 September 2026 sama-sama berada di bawah tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan menutup perdagangan Kamis dengan penurunan, sementara rupiah melemah hingga mendekati Rp17.900 per dolar Amerika Serikat.
IHSG berakhir turun 40,31 poin atau 0,63 persen ke level 6.334,61. Pelemahan terjadi setelah indeks sempat dibuka di level 6.364,98 dan bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan.
Koreksi ini membuat IHSG belum mampu melanjutkan penguatan 1,56 persen yang terjadi pada Rabu. Tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar dan aksi jual investor asing kembali membatasi ruang kenaikan indeks.
Saham Big Caps Masih Tertekan
Pada sesi pertama, IHSG sempat jatuh lebih dalam hingga 1,06 persen ke level 6.307,11. Dalam sesi tersebut, investor asing mencatat penjualan bersih sekitar Rp987,09 miliar di seluruh pasar.
Aksi jual asing terkonsentrasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham BMRI tercatat menjadi salah satu yang paling banyak dilepas, diikuti BBRI dan BBCA. Tekanan juga terjadi pada saham pertambangan dan energi, termasuk BUMI serta DSSA.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati terhadap aset berisiko di Indonesia. Arus dana asing perlu dicermati karena saham perbankan dan komoditas memiliki bobot besar terhadap pergerakan IHSG.
Di sisi sektoral, bahan baku menjadi kelompok yang mengalami tekanan paling besar dalam data perdagangan hari ini. Sektor kesehatan dan keuangan juga melemah pada awal sesi. Sebaliknya, saham barang konsumen siklikal serta transportasi sempat mencatat penguatan terbatas.
Rupiah Ditutup Rp17.916 per Dolar AS
Tekanan pasar tidak hanya terlihat di bursa saham. Rupiah juga melemah pada penutupan perdagangan Kamis.
Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.916 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil obligasi AS, dan lonjakan harga minyak dunia.
Pada awal perdagangan, rupiah dibuka sekitar Rp17.864–Rp17.871 per dolar AS. Pergerakan sepanjang hari menunjukkan tekanan nilai tukar semakin besar menjelang penutupan.
Pelemahan rupiah dapat memengaruhi persepsi investor karena meningkatkan risiko bagi emiten yang memiliki utang atau biaya operasional dalam dolar AS. Namun, sebagian perusahaan berorientasi ekspor dapat memperoleh keuntungan dari pendapatan dolar yang lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.
Bank Indonesia sebelumnya mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Keputusan itu diambil dalam rangka menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal, meski pasar masih menanti efektivitas langkah stabilisasi yang dilakukan bank sentral.
Prediksi IHSG Jumat
Untuk perdagangan Jumat (25/9/2026), IHSG diperkirakan masih bergerak hati-hati. Area 6.300 menjadi support penting karena indeks beberapa kali mendekati level tersebut dalam dua hari terakhir.
Jika IHSG mampu bertahan di atas 6.300 dan aksi jual asing mereda, indeks berpeluang melakukan pemulihan terbatas menuju area 6.370–6.400. Penguatan tersebut akan lebih meyakinkan apabila didukung kenaikan saham perbankan dan transaksi yang membaik.
Sebaliknya, jika rupiah terus melemah dan investor asing kembali menjual saham berkapitalisasi besar, IHSG berisiko menembus support 6.300. Dalam kondisi itu, pasar dapat menguji area 6.250–6.280.
Investor akan mencermati perkembangan dolar AS, harga minyak, bursa global, serta arah rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat. Pergerakan saham perbankan, energi, dan komoditas juga akan menjadi indikator penting arah indeks.(*)
Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.