Senin, 26 Oktober 2026
Breaking News
Ekonomi & Bisnis

IHSG 26 Oktober 2026: Dibuka Hijau, Ditutup Merah

Riskal Arief | | 3 mnt baca
IHSG 26 Oktober 2026: Dibuka Hijau, Ditutup Merah
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM – Sesi perdagangan IHSG 26 Oktober 2026 berakhir melemah setelah penguatan pada pembukaan tidak bertahan hingga penutupan. IHSG turun 66,16 poin atau 1,22 persen ke level 5.373,09 pada perdagangan Senin.

IHSG dibuka menguat 3,04 poin atau 0,06 persen ke level 5.442,30. Indeks sempat mencapai posisi tertinggi 5.453,65 sebelum tekanan jual membuatnya berbalik ke zona merah. 

Tekanan semakin kuat menjelang pukul 10.00 WIB hingga IHSG menyentuh level terendah 5.349,75. Pelemahan tersebut menunjukkan investor masih berhati-hati setelah gejolak pasar pada pekan sebelumnya. 

Tekanan dari Saham Komoditas dan Perbankan
Saham komoditas dan perbankan menjadi pemberat utama IHSG pada sesi perdagangan hari ini. Pelemahan pada saham berbobot besar membuat indeks sulit mempertahankan level 5.400. 

Saham WIFI, MDKA, dan MBMA tercatat sebagai top losers LQ45. Penurunan pada saham-saham tersebut memperlebar tekanan terhadap indeks sepanjang sesi. 

Pada sesi pertama, investor asing mencatat penjualan bersih Rp1,14 triliun. Nilai jual investor asing mencapai Rp2,69 triliun, sementara pembelian hanya Rp1,55 triliun. 

Tekanan arus keluar dana asing memperbesar risiko pelemahan rupiah. Kondisi tersebut juga membatasi ruang pemulihan bagi saham berkapitalisasi besar dan saham yang banyak dimiliki investor global. 

Aktivitas Pasar Cukup Tinggi
Volume transaksi mencapai 285,61 juta lot dengan nilai transaksi Rp12,61 triliun. Frekuensi perdagangan mencapai 1.143.355 kali, menunjukkan aktivitas pasar tetap ramai meski arah indeks melemah. 

Sebanyak 161 saham menguat, 520 saham melemah, dan 112 saham stagnan. Komposisi tersebut menegaskan tekanan jual lebih dominan dibandingkan minat beli. 

Pada awal sesi, 222 saham sempat menguat, 100 saham melemah, dan 641 saham stagnan. Namun, tekanan jual kemudian meluas dan membuat mayoritas saham berbalik ke zona merah. 

Pergerakan pasar yang berubah cepat menunjukkan investor masih berada dalam mode defensif. Aksi ambil untung dan pengurangan risiko tampak menjadi pilihan utama menjelang penutupan. 

Sentimen Global dan Rupiah
Rupiah pada pagi hari bergerak di kisaran Rp18.065 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar menambah tekanan pada saham dengan kewajiban dolar serta perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor. 

Investor juga memantau harga minyak dan koreksi harga emas. Fluktuasi komoditas tersebut dapat memengaruhi inflasi global serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat. 

Arah kebijakan Federal Reserve tetap menjadi faktor penting bagi pasar Indonesia. Perubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi rupiah, arus modal asing, dan daya tarik Surat Berharga Negara. 

Sentimen negatif dari Wall Street dan bursa Asia juga perlu diwaspadai. Jika pasar global kembali tertekan, IHSG berpotensi menghadapi tekanan lanjutan pada perdagangan berikutnya. 

Indikator yang Harus Diperhatikan
Investor perlu memantau pergerakan rupiah, harga minyak, dan arus dana asing sebagai indikator utama. Ketiga faktor tersebut akan menentukan apakah IHSG mampu pulih atau terus tertekan. 

Level 5.400 menjadi area penting untuk dipertahankan. Jika IHSG berhasil kembali berada di atas level tersebut, peluang penguatan menuju 5.500 masih terbuka. 

Saham perbankan, energi, komoditas, dan saham berbobot besar kemungkinan tetap menjadi penentu arah IHSG. Pergerakan kelompok tersebut akan sangat memengaruhi pergerakan indeks secara keseluruhan.(*)

Artikel ini bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan profil risiko dan analisis masing-masing investor.

Komentar (0)