Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
DEPOK, BeritaNow.com — Salah satu gerai ritel modern yang selama bertahun-tahun melayani kebutuhan masyarakat Depok kini berhenti beroperasi. Hypermart di Depok Town Square (Detos), Jalan Margonda Raya, dilaporkan menutup kegiatan usahanya mulai Senin (26/10/2026). Kepergian penyewa besar tersebut memunculkan pertanyaan mengenai masa depan pusat perbelanjaan dan perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan.
Menurut laporan nusantara-news.co, aktivitas terakhir gerai berlangsung pada Minggu (25/10/2026). Pengunjung terlihat memenuhi area belanja di lantai Lower Ground (LG) untuk membeli berbagai produk yang mendapat potongan harga menjelang penutupan. Sejumlah rak dilaporkan mulai kosong, sementara antrean pembayaran berlangsung hingga malam hari.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, manajemen Hypermart belum memberikan penjelasan resmi mengenai penyebab penghentian operasional gerai Detos. Belum ada pula informasi terkonfirmasi mengenai rencana penggunaan ruang bekas supermarket tersebut. Karena itu, penutupan satu gerai tidak dapat langsung disimpulkan sebagai bukti bahwa bisnis Hypermart secara nasional sedang mengalami kemunduran.
Ketika Pusat Belanja Kehilangan Penggerak Pengunjung
Kehadiran Hypermart selama ini mempunyai fungsi lebih luas daripada sekadar tempat membeli kebutuhan rumah tangga. Sebagai penyewa utama atau anchor tenant, supermarket berskala besar dapat membantu menarik pengunjung yang kemudian berbelanja di toko lain. Ketika gerai seperti ini berhenti beroperasi, pengelola pusat perbelanjaan menghadapi tantangan mempertahankan arus kunjungan.
Kondisi Detos sebenarnya telah menjadi perhatian sebelum muncul kabar penutupan Hypermart. Pada Mei 2024, detik.com melaporkan sejumlah ruang usaha di pusat perbelanjaan tersebut tidak lagi ditempati penyewa. Meski demikian, laporan dua tahun lalu itu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kondisi yang sama masih berlangsung di seluruh area Detos pada Oktober 2026.
Dampak penutupan terhadap pekerja dan pedagang sekitar juga perlu mendapat perhatian. Penghentian satu gerai dapat memengaruhi pengaturan tenaga kerja, kegiatan pemasok, dan potensi kunjungan ke toko-toko sekitarnya. Namun, belum tersedia data mengenai jumlah pekerja terdampak, kemungkinan pemindahan karyawan, ataupun perubahan omzet pedagang di Detos.
Bisnis Ritel Berubah, Bukan Sekadar Sepi Pembeli
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, sebelumnya menjelaskan bahwa pembukaan dan penutupan gerai merupakan bagian dari evaluasi bisnis ritel. Perusahaan dapat menyesuaikan jaringan toko berdasarkan produktivitas lokasi, perubahan kebutuhan konsumen, dan peluang pasar baru. Karena itu, berhentinya kegiatan satu supermarket tidak otomatis mencerminkan penurunan daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Perubahan perilaku berbelanja juga menjadi tantangan bagi supermarket konvensional. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan, mulai dari minimarket dekat permukiman, layanan pesan antar, hingga perdagangan daring. Menteri Perdagangan Budi Santoso pada Agustus 2026 bahkan menjelaskan bahwa sebagian jaringan ritel mengubah format usaha untuk mengikuti kebutuhan konsumen yang berkembang.
PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), perusahaan pengelola Hypermart, sebelumnya menyatakan bahwa evaluasi gerai mempertimbangkan kinerja toko, biaya operasional, masa sewa, serta potensi lokasi. Dalam laporan tahunan 2024, perusahaan juga mencatat pembukaan dan penutupan sejumlah gerai sebagai bagian dari penyesuaian jaringan bisnis. Namun, belum ada konfirmasi bahwa faktor-faktor tersebut merupakan penyebab khusus penutupan Hypermart Detos.
Masa Depan Detos Menunggu Kepastian
Penutupan Hypermart menghadirkan tantangan bagi pengelola Detos untuk menentukan fungsi ruang usaha yang ditinggalkan. Menghadirkan penyewa pengganti, mengubah konsep perdagangan, atau mengembangkan kegiatan yang menarik kunjungan merupakan beberapa kemungkinan yang dapat dipertimbangkan. Akan tetapi, belum ada pengumuman resmi mengenai pilihan yang akan diambil.
Bagi masyarakat Depok, peristiwa ini juga menandai perubahan salah satu tempat belanja yang telah lama dikenal di kawasan Margonda. Hypermart masih tercatat memiliki sejumlah lokasi lain di Depok, termasuk Pesona Square dan Cimanggis, berdasarkan daftar gerai perusahaan. Namun, daftar resmi MPPA yang diperiksa masih memuat lokasi Detos sehingga pembaruan status setiap gerai perlu dikonfirmasi langsung kepada manajemen.
Kepergian Hypermart dari Detos pada akhirnya menghadirkan pertanyaan yang lebih luas mengenai kemampuan pusat perbelanjaan mempertahankan daya tariknya. Persaingan ritel bukan hanya persoalan harga, tetapi juga lokasi, kemudahan akses, pelayanan, dan pengalaman konsumen. Bagaimana Detos merespons perubahan tersebut akan menentukan arah perkembangan ruang komersial ini pada masa mendatang.(*)