Rabu, 04 November 2026
Breaking News
Nasional

Helikopter Jatuh di Seruyan, Misi Pemadaman Berduka

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Helikopter Jatuh di Seruyan, Misi Pemadaman Berduka
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

SERUYAN, BeritaNow.com — Mereka berangkat untuk memadamkan api yang mengancam hutan Kalimantan Tengah. Namun, misi penyelamatan lingkungan itu justru berakhir dengan tragedi. Sebuah helikopter milik TNI Angkatan Darat jatuh di perairan Kabupaten Seruyan, Rabu (4/11/2026), menyebabkan dua awak meninggal dunia dan seorang lainnya masih dalam pencarian hingga malam hari.

Helikopter jatuh di Seruyan ketika menjalankan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting. Pesawat jenis Mi-17V5 bernomor registrasi HA-5235 itu membawa delapan personel. Lima orang berhasil diselamatkan dan mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah Kuala Pembuang, sementara tim gabungan terus mencari satu awak yang belum ditemukan.

Berangkat Memadamkan Api, Berakhir di Perairan
Helikopter dari Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) tersebut lepas landas dari Kuala Pembuang sekitar pukul 09.55 WIB. Tujuannya adalah wilayah Telaga Pulang, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang menjadi sasaran operasi pemadaman karhutla. Penerbangan itu merupakan bagian dari upaya mengatasi kebakaran melalui metode water bombing atau pengeboman air.

Sekitar pukul 11.18 WIB, pesawat mengalami masalah ketika mengambil air di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh. Helikopter kemudian jatuh ke perairan sehingga seluruh awak harus dievakuasi. Keterangan awal aparat menyebut adanya gangguan saat penerbangan, tetapi penyebab pasti kecelakaan masih memerlukan penyelidikan teknis.

Kecelakaan tersebut langsung memicu operasi penyelamatan melalui jalur udara dan perairan. Personel TNI AD bersama unsur terkait dikerahkan menuju lokasi kejadian. Tim penyelamat menghadapi tugas mendesak untuk menemukan seluruh awak sekaligus memberikan pertolongan kepada korban yang berhasil dievakuasi.

Delapan Awak, Dua Nyawa Tak Terselamatkan
Informasi awal TNI AD pada Rabu sore menyebut satu personel meninggal dunia, lima selamat, dan dua lainnya masih dievakuasi. Namun, perkembangan terbaru pada malam hari memastikan jumlah korban meninggal bertambah menjadi dua orang. Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin menyatakan seorang awak lainnya masih dalam pencarian.

Zainul bersama Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran dan Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan mendatangi wilayah kejadian. Mereka juga mengunjungi RSUD Kuala Pembuang untuk mengetahui kondisi personel yang menjalani perawatan. Pemerintah daerah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan berharap pencarian awak yang belum ditemukan segera membuahkan hasil.

Basarnas sebelumnya mengerahkan enam penyelam dari Kantor SAR Palangka Raya untuk mendukung evakuasi. Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso menyatakan personel penyelam khusus di Jakarta juga disiagakan apabila diperlukan. Keterlibatan tim penyelam menunjukkan operasi penyelamatan tidak hanya mengandalkan pemantauan udara, tetapi juga pencarian langsung di perairan.

Di Balik Karhutla, Ada Nyawa Petugas yang Dipertaruhkan
Tragedi ini memperlihatkan risiko yang dihadapi personel ketika menjalankan operasi pemadaman kebakaran dari udara. Pengambilan air dan penerbangan menuju titik kebakaran membutuhkan koordinasi serta pengendalian pesawat yang cermat. Namun, belum ada hasil pemeriksaan yang dapat memastikan apakah faktor teknis, lingkungan, atau penyebab lain berperan dalam kecelakaan ini.

Peristiwa tersebut juga mengingatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan hutan dan gangguan kesehatan akibat asap. Penanggulangannya melibatkan petugas yang bekerja di lapangan maupun di udara dengan risiko keselamatan nyata. Setiap operasi membutuhkan dukungan peralatan, prosedur keamanan, dan kesiapan penyelamatan yang memadai.

Bagi keluarga awak helikopter, kabar kecelakaan ini membawa kehilangan dan ketidakpastian. Dua keluarga harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang berangkat menjalankan tugas tidak kembali dengan selamat. Sementara itu, keluarga seorang awak yang masih dicari menunggu kabar dari tim penyelamat.

Penyelidikan penyebab kecelakaan menjadi penting untuk mencegah tragedi serupa dalam operasi berikutnya. Namun, perhatian paling mendesak tetap tertuju pada pencarian korban dan pemulihan personel yang selamat. Di tengah upaya menyelamatkan hutan dari kebakaran, keselamatan orang-orang yang mempertaruhkan nyawa untuk memadamkannya tidak boleh menjadi urusan nomor dua.(*)

Komentar (0)