Kamis, 22 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Harga Minyak Dunia Tembus US$112, Konflik Timur Tengah Ancam Pasokan Global

Effra S. Husein | | 2 mnt baca
Harga Minyak Dunia Tembus US$112, Konflik Timur Tengah Ancam Pasokan Global
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW.COM — Harga minyak dunia kembali menguat tajam pada Kamis (22/10/2026), seiring meningkatnya risiko keamanan di Timur Tengah. Serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi memperbesar kekhawatiran pasar mengenai kelancaran pasokan energi internasional. Jika situasi terus memburuk, kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan pasar internasional, sempat naik 3,08 persen menjadi US$112,17 per barel. Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat mencapai US$99,83 per barel. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko geopolitik dalam perdagangan energi global.

Serangan di Arab Saudi Picu Gejolak Pasar

Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi. Salah satu insiden yang menjadi perhatian adalah serangan pesawat nirawak terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco yang dilaporkan menewaskan dua orang.

Situasi keamanan tersebut turut mendorong Amerika Serikat mengambil langkah pencegahan dengan memerintahkan sebagian personel diplomatik dan keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi. Perkembangan ini menambah kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu aktivitas energi di kawasan Teluk.

Pasokan Minyak Global dalam Tekanan

Timur Tengah memiliki posisi strategis dalam perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap fasilitas produksi maupun jalur pelayaran di kawasan tersebut dapat memengaruhi pengiriman minyak mentah ke berbagai negara konsumen.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik yang paling diperhatikan karena berperan penting dalam distribusi energi internasional. Apabila keamanan jalur tersebut memburuk, biaya pengiriman dan asuransi kapal berpotensi meningkat, sementara ketidakpastian pasokan dapat mendorong harga minyak lebih tinggi.

Meski demikian, lonjakan harga tidak selalu berarti produksi minyak langsung mengalami penurunan. Pasar juga bergerak berdasarkan perkiraan risiko dan kemungkinan gangguan pasokan pada masa mendatang.

Indonesia Perlu Waspadai Dampak Kenaikan Harga Minyak

Kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan biaya pengadaan energi Indonesia, terutama apabila berlangsung dalam waktu lama. Dampaknya dapat merambat ke biaya transportasi, distribusi barang, dan kegiatan industri.

Namun, harga minyak internasional tidak otomatis menentukan perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, serta kebijakan pemerintah terkait BBM bersubsidi dan nonsubsidi turut memengaruhi keputusan harga.

Perkembangan konflik Timur Tengah karena itu menjadi faktor penting yang perlu dipantau pemerintah dan pelaku usaha. Selama risiko gangguan pasokan masih tinggi, pasar energi global berpotensi tetap bergejolak.

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan keamanan di kawasan Teluk serta kemungkinan langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan. Arah harga minyak selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh apakah konflik meluas atau jalur distribusi energi kembali lebih aman. (*)

Komentar (0)