Harga Minyak Dunia Anjlok! Brent Turun 16 Persen, Konflik Timur Tengah Jadi Sorotan
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM - Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan sepanjang pekan ini. Minyak mentah Brent sebagai acuan global tercatat melemah lebih dari 16 persen, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan hampir 13 persen. Pergerakan tersebut dipengaruhi perubahan situasi geopolitik, harapan meredanya konflik Timur Tengah, serta kekhawatiran terhadap melemahnya permintaan energi global.
Pelemahan harga minyak terjadi setelah hasil pemilihan paruh waktu atau midterm election di Amerika Serikat memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan perubahan dinamika hubungan geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Perkembangan tersebut membuat investor mulai memperhitungkan peluang meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Jika situasi keamanan membaik, ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut berpotensi kembali meningkat sehingga dapat menambah ketersediaan pasokan di pasar internasional.
Harga Minyak Brent dan WTI Kompak Melemah
Berdasarkan data Refinitiv yang dikutip pada perdagangan Jumat, 7 November 2026, harga minyak mentah Brent berada di posisi US$98,15 per barel. Nilai tersebut menunjukkan penurunan sebesar 16,57 persen selama sepekan.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat sebesar US$90,72 per barel. Komoditas energi acuan Amerika Serikat tersebut mengalami koreksi hingga 12,88 persen dalam periode yang sama.
Penurunan kedua acuan minyak tersebut memperlihatkan perubahan sentimen yang cukup besar di pasar energi dunia. Sebelumnya, ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga karena investor mengantisipasi kemungkinan terganggunya distribusi minyak.
Namun, munculnya harapan terhadap penurunan ketegangan membuat sebagian pelaku pasar mulai mengurangi perkiraan risiko yang sebelumnya dimasukkan ke dalam harga minyak.
Premi Risiko Perang Mulai Berkurang
Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai pelemahan harga minyak mencerminkan berkurangnya tambahan nilai akibat risiko peperangan yang sebelumnya menopang perdagangan energi.
Menurut Flynn, pasar mulai menunjukkan adanya pelonggaran premi risiko perang. Pernyataan tersebut dikutip dari Refinitiv pada Sabtu, 7 November 2026.
Dalam perdagangan komoditas, premi risiko perang merupakan tambahan harga yang muncul akibat kekhawatiran terhadap konflik bersenjata yang berpotensi menghambat produksi maupun pengiriman minyak mentah.
Kawasan Timur Tengah memiliki peran penting dalam perdagangan energi internasional. Oleh sebab itu, setiap perkembangan konflik di wilayah tersebut dapat memengaruhi keputusan investor dan pergerakan harga minyak dunia.
Apabila ketegangan antara negara-negara yang terlibat konflik mengalami penurunan, kekhawatiran mengenai gangguan pasokan juga berpotensi berkurang.
Harga Minyak Sempat Turun 8 Persen dalam Sehari
Tekanan terhadap komoditas energi sebenarnya sudah terlihat sejak perdagangan Rabu. Pada hari tersebut, harga minyak mentah mengalami penurunan sekitar 8 persen dalam satu sesi perdagangan.
Koreksi tajam itu membawa harga minyak ke posisi terendah dalam kurun waktu dua bulan terakhir.
Selain perkembangan politik Amerika Serikat, pasar keuangan global juga dipengaruhi berbagai sentimen ekonomi lainnya. Salah satunya adalah meningkatnya kekhawatiran mengenai kemungkinan penerapan regulasi yang lebih ketat terhadap industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Sentimen tersebut turut memberikan tekanan terhadap saham perusahaan teknologi di Amerika Serikat. Aksi jual yang terjadi pada perdagangan Kamis memperlihatkan bahwa investor sedang mencermati berbagai risiko, mulai dari kebijakan ekonomi hingga prospek pertumbuhan bisnis global.
Serangan Kapal Tanker Kembali Memicu Kekhawatiran
Meskipun harga minyak mengalami penurunan, risiko keamanan di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya menghilang.
Pasar sempat mendapatkan dorongan kenaikan setelah muncul laporan mengenai meningkatnya serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.
Peristiwa tersebut kembali menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan jalur pelayaran yang menjadi salah satu rute penting pengiriman energi dunia.
Seorang manajer perusahaan pelayaran asal Yunani menyebutkan bahwa seorang awak kapal meninggal dunia akibat ledakan yang terjadi pada 5 November 2026 di sebuah kapal tanker pengangkut produk minyak di kawasan Teluk. Ledakan tersebut diduga berkaitan dengan serangan rudal.
Informasi dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga memperlihatkan bahwa ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut masih menjadi perhatian serius.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ekspektasi pasar terhadap meredanya konflik mulai meningkat, risiko terhadap kelancaran distribusi minyak masih tetap ada.
Kelebihan Pasokan Menambah Tekanan Harga Minyak
Faktor lain yang turut memengaruhi pergerakan harga minyak adalah perubahan keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Sejumlah indikator mulai memperlihatkan potensi kelebihan pasokan di tengah melemahnya kebutuhan minyak. Kondisi tersebut membuat pasar semakin memperhitungkan kemungkinan tersedianya minyak mentah dalam jumlah lebih besar dibandingkan permintaan.
Salah satu indikasinya terlihat dari premi harga spot minyak mentah acuan Timur Tengah yang kembali mendekati tingkat sebelum konflik berlangsung.
Apabila produksi dan distribusi minyak meningkat sementara permintaan belum menunjukkan pemulihan yang kuat, tekanan terhadap harga berpotensi berlanjut.
Situasi tersebut menjadi tantangan bagi negara-negara produsen minyak karena peningkatan persediaan dapat memicu persaingan harga di pasar internasional.
Prospek Harga Minyak Dunia Masih Dipengaruhi Geopolitik
Pergerakan harga minyak dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan masih dipengaruhi oleh perkembangan konflik Timur Tengah, keamanan jalur pelayaran, serta kondisi permintaan energi global.
Di satu sisi, peluang meredanya konflik dan meningkatnya ketersediaan pasokan dapat menjadi faktor yang menekan harga. Namun, ancaman serangan terhadap kapal tanker dan ketidakpastian keamanan Selat Hormuz masih berpotensi memunculkan kenaikan harga sewaktu-waktu.
Dengan demikian, penurunan harga minyak Brent dan WTI belum tentu menandakan berakhirnya gejolak pasar energi dunia.
Investor dan pelaku industri masih perlu mencermati perkembangan geopolitik serta data pasokan dan konsumsi minyak untuk memperkirakan arah perdagangan berikutnya.(*)