Harga Emas Dunia Menguat Terbatas, Proyeksi Pekan Ini Rp2,42–Rp2,68 Juta per Gram
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.COM — Harga emas dunia bergerak menguat terbatas pada perdagangan awal pekan, Senin (5/10/2026), setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lemah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada Oktober. Namun, penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi membatasi laju kenaikan logam mulia tersebut.
Harga emas spot naik 0,4 persen menjadi 4.158,17 dolar AS per troy ounce pada pukul 09.00 WIB. Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember naik 0,6 persen menjadi 4.186,40 dolar AS per troy ounce.
Ekspektasi The Fed Memudar
Data pada Jumat (2/10/2026) menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melambat lebih dari perkiraan pada September. Jumlah pekerjaan nonpertanian untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi turun secara signifikan. Kondisi itu menurunkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober menjadi hanya 22 persen, turun dari 64 persen sepekan sebelumnya.
"Data pasar tenaga kerja yang lebih lemah telah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober, yang memberikan dukungan terhadap emas," ujar Analis Utama Pasar KCM Trade, Tim Waterer, seperti dikutip Kompas.com.
Meski demikian, pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember sebesar 87 persen. The Fed bulan lalu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00 persen, kenaikan pertama dalam tiga tahun.
Proyeksi Harga Pekan Ini
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dan logam mulia bergerak fluktuatif dan cenderung menurun pada pekan ini. Menurutnya, pergerakan komoditas safe haven tersebut berada di kisaran Rp2,42 juta hingga Rp2,68 juta per gram.
"Harga logam mulia kemungkinan besar ditransaksikan dalam range-nya di Rp2,42—Rp2,68 juta per gram. Fluktuasinya cukup tajam, harus berhati-hati bagi masyarakat," kata Ibrahim, seperti dikutip Republika.
Harga logam mulia pada akhir pekan lalu ditutup pada posisi Rp2,57 juta per gram. Jika mengalami koreksi, level support pertama berada di Rp2,55 juta per gram, dengan support kedua Rp2,42 juta per gram. Sementara jika menguat, resisten pertama berada di Rp2,59 juta per gram dan resisten kedua Rp2,68 juta per gram.
Untuk harga emas dunia, Ibrahim memperkirakan level support pertama di 4.087 dolar AS per troy ounce dan support kedua di 4.033 dolar AS. Adapun resisten pertama berada di 4.197 dolar AS dan resisten kedua 4.255 dolar AS per troy ounce.
Faktor Geopolitik dan Energi
Ibrahim menjelaskan bahwa ketegangan konflik di Timur Tengah masih memengaruhi pergerakan harga emas, terutama melalui dampaknya terhadap harga minyak. Situasi di Selat Hormuz dan konflik Yaman Houthi dengan Arab Saudi menjadi perhatian pasar.
"Ketegangan di Timur Tengah, terutama di Selat Al Mandeb kemungkinan semakin melebar dan memanas. Dan ini yang membuat harga minyak kemungkinan menuju ke atas level 100 dolar AS per barel," tuturnya.
Analis KCM Trade, Tim Waterer, menambahkan bahwa volatilitas harga emas kemungkinan tetap tinggi selama harga minyak, imbal hasil obligasi, dan ekspektasi The Fed masih berfluktuasi. Perkembangan geopolitik akan terus memengaruhi emas melalui dampaknya terhadap harga minyak dan prospek inflasi secara luas.
Proyeksi Bank-Bank Dunia
Sejumlah bank besar telah menyesuaikan proyeksi harga emas mereka. HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga emas 2026 menjadi 4.490 dolar AS per troy ounce dari sebelumnya 4.560 dolar AS. Proyeksi 2027 juga diturunkan menjadi 4.825 dolar AS dari 4.925 dolar AS.
Bank of America (BofA) memberikan skenario yang lebih berat. Bank tersebut memperkirakan emas bisa turun menuju 3.750 dolar AS pada kuartal keempat 2026, dengan risiko penurunan lebih lanjut jika harga minyak melonjak hingga 150 dolar AS per barel.
Namun, sejumlah bank lain masih melihat peluang emas menembus 5.000 dolar AS. Goldman Sachs memproyeksikan harga 4.900 dolar AS pada akhir 2026, sementara UBS memperkirakan sekitar 4.600 dolar AS pada Desember sebelum naik menuju 5.000 dolar AS pada Maret 2027. Deutsche Bank juga memasang target 5.000 dolar AS.
Imbauan bagi Masyarakat
Ibrahim mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian logam mulia di tengah fluktuasi yang tajam. Menurutnya, momen yang tepat untuk membeli perlu diperhatikan dengan cermat.
"Kalau ingin membeli logam mulia, harus melihat saat yang tepat untuk melakukan pembelian," ujarnya.(*)
Informasi ini dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.