Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
WASHINGTON, BERITANOW — Karier Katie Zacharia sebagai sekretaris pers Gedung Putih berakhir nyaris sebelum benar-benar dimulai. Hanya lima hari setelah resmi menjalankan tugas, ia dicopot dari jabatan yang menempatkannya sebagai wajah utama komunikasi pemerintahan Donald Trump. Kepergiannya terjadi setelah briefing perdana yang menuai kritik dan pertanyaan beruntun mengenai cara ia menggambarkan latar belakang hukumnya.
Situasinya menjadi ironis karena sekretaris pers seharusnya mengendalikan arus informasi dari Gedung Putih kepada publik. Dalam kasus Zacharia, fokus justru berbalik kepada dirinya sendiri. Alih-alih agenda pemerintahan, media selama beberapa hari mempertanyakan apakah ia pernah lulus ujian pengacara dan bagaimana pengalamannya bekerja di China seharusnya dipahami.
Dari Briefing ke Pertanyaan soal Kredensial
Masalah membesar setelah briefing pertamanya pada Selasa, 13 Oktober. Pertemuan dengan media berlangsung sekitar 14 menit dan hanya memuat tiga pertanyaan, sementara penampilannya dinilai belum meyakinkan oleh sejumlah pengamat dan bahkan memicu diskusi di internal Gedung Putih. Setelah itu, perhatian dengan cepat bergeser kepada rekam jejak hukum Zacharia.
Zacharia merupakan lulusan Pepperdine University School of Law pada 2011 dan memang pernah bekerja di lingkungan hukum di China. Namun, ia kemudian mengakui tidak pernah lulus California bar exam (ujian untuk jadi pengacara di California) dan tidak mengulang ujian tersebut. Persoalan menjadi lebih rumit karena sebelumnya ia beberapa kali menyebut dirinya sebagai “lawyer” atau “attorney”, sementara warga negara asing tidak dapat begitu saja memperoleh lisensi praktik hukum China seperti pengacara lokal.
Ketika ditanya negara bagian mana tempat ia lulus bar exam, Zacharia sempat menjawab dengan merujuk pada kepindahannya ke China. Ia kemudian menjelaskan kepada The New York Times bahwa pertanyaan tersebut tidak terdengar jelas akibat suara Marine One dan ia mengira ditanya tentang keberadaannya setelah sekolah hukum. Penjelasan itu tidak segera menghentikan kontroversi, dan dalam wawancara berikutnya ia mengakui secara langsung bahwa dirinya memang tidak lulus ujian tersebut.
Trump Meminta Ia Memikirkan Ulang
Pada Jumat, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia telah menyarankan Zacharia mempertimbangkan kembali posisinya. Presiden menyebut Zacharia sebagai orang baik dan menilai pemberitaan terhadapnya sangat keras. Tidak lama setelah pernyataan itu, sejumlah laporan mengonfirmasi bahwa Zacharia telah keluar dari jabatan sekretaris pers.
Kepergian tersebut membuat masa tugas Zacharia menjadi salah satu yang terpendek dalam sejarah modern jabatan sekretaris pers Gedung Putih. Bahkan masa kerjanya lebih singkat dibanding Anthony Scaramucci, yang terkenal hanya bertahan 11 hari sebagai direktur komunikasi Gedung Putih pada masa pemerintahan Trump pertama. Perbandingan itu dengan cepat menjadi bahan pembicaraan di media Amerika.
Namun, persoalan di balik kasus Katie Zacharia lebih besar daripada panjang pendek masa jabatan. Seorang juru bicara pemerintah membutuhkan kredibilitas karena tugas utamanya adalah meminta publik dan media mempercayai informasi yang disampaikannya. Ketika kredibilitas personal justru menjadi berita utama, kemampuan untuk menjalankan fungsi komunikasi itu ikut tergerus.
Kasus Zacharia pada akhirnya menunjukkan betapa sempitnya ruang untuk melakukan kesalahan di podium Gedung Putih. Lima hari cukup untuk mengubah seseorang dari pembawa pesan menjadi pusat pesan itu sendiri. Bagi pemerintahan Trump, pergantian tersebut juga berarti mesin komunikasi harus kembali mencari wajah baru hanya beberapa pekan sebelum pemilu paruh waktu.(*)
Informasi ini dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.