Hampir 400 Orang Terdampak MBG di Cirebon, Pengelola Dapur Disanksi
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
CIREBON, BERITANOW.COM — Keracunan MBG di Cirebon menjadi sorotan setelah 413 orang dilaporkan terdampak dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis. Menyusul insiden tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mencopot kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga 5 dan menghentikan sementara operasional dapur terkait. Pemeriksaan terhadap makanan, bahan baku, dan prosedur pengolahan masih diperlukan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Pengolahan Bahan Makanan Jadi Sorotan
Pemeriksaan awal BGN menemukan persoalan dalam mekanisme pengadaan dan pengolahan bahan makanan di dapur penyedia MBG tersebut. Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon, Yulian Septa Pratama, menyampaikan bahwa pengelola diketahui membeli telur puyuh dari pihak luar untuk kemudian diproses kembali. Praktik itu menjadi salah satu temuan pemeriksaan karena petunjuk teknis program mengatur agar proses pengolahan makanan dilakukan sesuai ketentuan operasional SPPG.
Menu sup telur puyuh termasuk makanan yang banyak dikeluhkan penerima manfaat setelah mengalami gangguan kesehatan. Keluhan yang dilaporkan antara lain mual, muntah, pusing, dan diare, sementara sebagian korban harus mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan. Meski demikian, telur puyuh belum dapat dinyatakan sebagai penyebab pasti sebelum hasil pemeriksaan laboratorium selesai.
Sampel Makanan Diuji, Dapur Berhenti Beroperasi
Untuk menelusuri sumber masalah, petugas mengambil sampel makanan dan air untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan juga mencakup kondisi dapur, tata kelola operasional, serta pelaksanaan prosedur pengolahan makanan. Hasil investigasi akan menjadi pertimbangan dalam menentukan sanksi lanjutan, termasuk kemungkinan penutupan permanen apabila pelanggaran yang memenuhi ketentuan terbukti.
Di sisi lain, BGN menyatakan biaya pengobatan korban akan ditanggung melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Masyarakat yang masih mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG diimbau segera mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan. Penanganan medis terhadap korban menjadi prioritas selama proses investigasi berlangsung.
Insiden Cirebon menjadi pengingat bahwa penyediaan makanan bergizi bagi siswa harus disertai pengawasan keamanan pangan yang ketat. Pengadaan bahan baku, proses memasak, kebersihan dapur, hingga distribusi makanan perlu memenuhi standar yang berlaku. Transparansi hasil pemeriksaan dan tindak lanjut yang terukur diperlukan agar keselamatan penerima manfaat tetap menjadi prioritas utama program MBG. (*)