Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
Penulis: Ryo Disastro
Pegiat Literasi Nusantara Centre
Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, dalam usia 73 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir pada pukul 04.16 WIB di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta. Berita tentang kepergiannya segera mengingatkan publik pada satu identitas yang hampir selalu melekat pada dirinya: putra bungsu Presiden Soekarno.
Namun, mungkin sudah waktunya kita melihat Guruh dari sisi yang berbeda. Bukan terutama sebagai anak Soekarno, melainkan sebagai seseorang yang sepanjang hidupnya memilih jalan kebudayaan.
Pertanyaan ini menjadi penting karena kematian seorang seniman besar bukan hanya persoalan kehilangan seorang pribadi. Ia juga menjadi kesempatan bagi sebuah bangsa untuk menilai kembali apa yang pernah dikerjakan seseorang, apa yang diwariskannya, dan apakah warisan tersebut memiliki arti yang melampaui zamannya.
Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan yang mungkin terasa tidak biasa. Apakah Guruh Soekarnoputra dapat dipertimbangkan untuk diusulkan sebagai Pahlawan Nasional? Pertanyaan itu tentu tidak boleh dijawab hanya dengan rasa kehilangan, hubungan darah dengan Bung Karno, popularitas, atau besarnya nama Guruh dalam dunia seni.
Sebaliknya, justru karena gelar Pahlawan Nasional merupakan penghargaan negara, pembahasannya harus ditempatkan pada ukuran yang lebih serius melalui rekam jejak, gagasan, karya, pengabdian, dan dampaknya bagi Indonesia.
Kepahlawanan Tidak Selalu Berlangsung di Medan Perang
Dalam pengertian hukum yang berlaku, Pahlawan Nasional tidak hanya berkaitan dengan seseorang yang gugur dalam perjuangan bersenjata. Permensos Nomor 15 Tahun 2012 tentang Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional, yang kemudian diubah melalui Permensos Nomor 13 Tahun 2018, memuat kemungkinan pemberian gelar kepada seseorang yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan Indonesia.
Kriteria khususnya bahkan mencakup perjuangan dalam bidang lain, gagasan atau pemikiran besar yang menunjang pembangunan bangsa, serta karya besar yang bermanfaat bagi masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Artinya, pintu pembicaraan mengenai kepahlawanan tidak berhenti pada medan perang.
Persoalannya kemudian bukan apakah seorang seniman bisa menjadi Pahlawan Nasional. Sejarah Indonesia sudah memberikan sejumlah preseden. Ismail Marzuki dikenal sebagai komponis yang menghasilkan banyak karya yang berkaitan dengan semangat kebangsaan dan perjuangan. Usmar Ismail kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2021 atas kiprahnya sebagai pelopor perfilman nasional dan internasional.
Tetapi preseden tersebut tidak otomatis menjadikan setiap seniman memenuhi syarat sebagai Pahlawan Nasional. Justru di sinilah pembahasan tentang Guruh menjadi menarik. Kita harus mengajukan pertanyaan tentang apa sebenarnya yang telah diperjuangkan Guruh melalui kebudayaan?
Guruh dan Jalan Kebudayaan
Jika nama Soekarno kita lepaskan sejenak dari dirinya, masihkah kita menemukan sebuah perjalanan yang pantas dibicarakan? Jawabannya dapat ditelusuri dari karya dan organisasi yang dibangunnya.
Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Mahardhika. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat organisasi tersebut sebagai wadah kreativitas seni kaum muda sekaligus ruang eksperimen Guruh.
Di dalamnya, unsur kesenian tradisional Indonesia dipertemukan dengan bentuk-bentuk seni modern, termasuk tari modern Barat. Beberapa tahun kemudian, pada 1979, lahir Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I, dengan Guruh berperan sebagai koreografer, komponis, sekaligus sutradara.
Pada tahun yang sama dengan lahirnya Swara Mahardhika, muncul pula Guruh Gipsy, proyek musikal yang mempertemukan musik modern dengan unsur musik tradisional Nusantara. Karya tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu eksperimen penting dalam perjalanan musik Indonesia.
Yang menarik bukan sekadar jumlah karya yang pernah dibuat Guruh. Yang lebih penting adalah arah kebudayaan yang terus terlihat dalam karya-karyanya. Ia tidak sekadar menggunakan kebudayaan tradisional sebagai ornamen.
Guruh mempertemukan kebudayaan tradisional dengan zaman yang sedang berubah. Tradisi tidak dibiarkan berhenti sebagai benda masa lalu, tetapi dibawa masuk ke panggung modern melalui musik, tari, kostum, koreografi, dan pertunjukan. Dari perspektif ini, karya Guruh dapat dibaca lebih luas.
Indonesia pasca kemerdekaan menghadapi persoalan yang berbeda dari Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan. Jika generasi sebelumnya berhadapan dengan kolonialisme secara langsung, generasi sesudahnya menghadapi tantangan lain, seperti bagaimana sebuah bangsa yang baru merdeka membangun identitasnya sendiri di tengah arus kebudayaan dunia. Perjuangannya berubah. Medannya berubah. Tetapi pertanyaannya tetap sama. Indonesia mau menjadi bangsa seperti apa?
Apakah Kebudayaan Bisa Menjadi Medan Kepahlawanan?
Barangkali inilah pertanyaan yang sesungguhnya lebih penting daripada sekadar apakah Guruh layak mendapatkan gelar tersebut. Sebab jika kepahlawanan hanya dipahami sebagai perjuangan bersenjata atau perlawanan terhadap penjajahan secara langsung, maka ruang kepahlawanan akan berhenti pada konteks sejarah tertentu.
Padahal sebuah bangsa tidak hanya mempertahankan kemerdekaannya dengan senjata. Sebuah bangsa juga mempertahankan dirinya melalui bahasa, kebudayaan, kesenian, pengetahuan, nilai, dan ingatan kolektif. Tanpa semua itu, kemerdekaan politik dapat kehilangan isi karena masyarakatnya perlahan kehilangan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri.
Dalam konteks itulah perjalanan Guruh patut dibicarakan secara serius. Bukan karena ia anak Soekarno. Justru sebaliknya, karena jika kita abaikan nama Soekarno yang melekat padanya, masih terdapat perjalanan kebudayaan yang harus dinilai berdasarkan karya dan dampaknya sendiri.
Tentu, pembuktian tersebut tidak sederhana. Untuk sampai pada kesimpulan mengenai kelayakan sebagai Pahlawan Nasional, perlu dilakukan penelitian historis yang lebih lengkap. Kita harus menginventarisasi karya, mengukur kesinambungan pengabdian, menelusuri gagasan kebudayaannya, mendokumentasikan pengaruhnya terhadap perkembangan seni Indonesia, serta menguji apakah seluruh rekam jejak tersebut memenuhi kriteria yang ditetapkan negara.
Dengan kata lain, gelar tersebut tidak boleh diberikan karena nama besar. Tetapi nama besar juga tidak boleh menjadi alasan untuk menutup pembicaraan sebelum rekam jejaknya diperiksa.
Dari Usulan Menjadi Pengujian Sejarah
Karena itu, gagasan mengusulkan Guruh Soekarnoputra sebagai Pahlawan Nasional sebaiknya tidak dimulai dengan kesimpulan bahwa ia pasti layak. Pembicaraan yang lebih sehat justru dimulai dengan pertanyaan apakah jasa kebudayaan Guruh bisa dibuktikan untuk memenuhi kriteria kepahlawanan nasional? Itu adalah pertanyaan yang dapat diuji secara terbuka oleh sejarawan, budayawan, akademisi, komunitas seni, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan masyarakat luas.
Mekanisme pengusulan pun bukan sesuatu yang tertutup bagi keluarga. Ketentuan yang berlaku memungkinkan orang perseorangan, lembaga negara, kementerian, pemerintah daerah, organisasi, maupun kelompok masyarakat mengajukan usulan.
Prosesnya kemudian melalui pemerintah daerah dan tahapan pengkajian sebelum diteruskan kepada Menteri Sosial dan selanjutnya kepada Presiden melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Dokumen pengusulan juga harus melalui proses pengujian dan publikasi antara lain melalui seminar, diskusi, atau sarasehan.
Empat puluh tahun lebih perjalanan keseniannya memberi bahan yang cukup untuk diteliti. Swara Mahardhika, karya musik, koreografi, pertunjukan, dan berbagai eksperimen kebudayaannya merupakan bagian dari perjalanan seni Indonesia yang tidak mungkin dilepaskan begitu saja dari sejarah perkembangan kebudayaan nasional.
Pembicaraan tentang Guruh sebagai calon Pahlawan Nasional sebaiknya tidak dipahami sebagai permintaan penghargaan kepada seorang anak Bung Karno. Wacana ini seharusnya menjadi ajakan kepada bangsa Indonesia untuk menilai kembali makna kepahlawanan itu sendiri.
Sebab, setelah perang kemerdekaan berakhir, medan perjuangan bangsa tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berpindah tempat. Dari medan perang ke medan kebudayaan. Dan di medan itulah Guruh Soekarnoputra menghabiskan sebagian besar hidupnya. Selamat jalan Mas Guruh.(*)