Senin, 26 Oktober 2026
Breaking News
Daerah

Gubernur Kalteng Tanam Pohon, Pemulihan Dimulai

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Gubernur Kalteng Tanam Pohon, Pemulihan Dimulai
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

PALANGKA RAYA, BeritaNow.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mulai mendorong pemulihan kawasan yang mengalami kerusakan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin melakukan penanaman pohon di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan tersebut sekaligus memunculkan persoalan penting mengenai keberlanjutan rehabilitasi lingkungan dan pencegahan kebakaran berulang.

Penanaman berlangsung di sekitar Posko Karhutla Camp Peat, Kecamatan Jabiren Raya, kawasan yang dilaporkan terdampak kebakaran. Berdasarkan keterangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, kegiatan ini merupakan bagian dari rehabilitasi lingkungan dengan melibatkan unsur pemerintah, TNI, komunitas, relawan, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat penanganan karhutla sekaligus mengembalikan kondisi lingkungan yang mengalami kerusakan.

Agustiar menekankan bahwa penanggulangan kebakaran tidak cukup dilakukan melalui pemadaman api. Menurutnya, pemerintah dan masyarakat juga perlu mengambil tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan serta memulihkan kawasan terdampak. Namun, laporan kegiatan tersebut belum merinci jumlah bibit, luas lahan yang ditanami, maupun rencana pemeliharaan setelah penanaman berlangsung.

Karhutla Kalteng Tinggalkan Persoalan Lingkungan
Kegiatan rehabilitasi berlangsung setelah Kalimantan Tengah menghadapi tekanan kebakaran sepanjang musim kemarau 2026. Berdasarkan laporan Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng per 7 September 2026, tercatat 2.698 kejadian kebakaran dengan luas terdampak mencapai 8.139,12 hektare. Angka tersebut menggambarkan kondisi hingga awal September, bukan akumulasi terbaru per 24 Oktober 2026.

Besarnya kawasan yang terdampak memperlihatkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan strategi jangka panjang. Selain merusak tutupan vegetasi, kebakaran dapat mengganggu fungsi ekosistem, menimbulkan pencemaran udara, dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat. Kerusakan lahan gambut juga berpotensi memperburuk emisi karbon serta mengurangi kemampuan lingkungan menyimpan air.

Dampaknya tidak terbatas pada kawasan hutan yang terbakar. Pada September lalu, pemerintah daerah melaporkan penyaluran ratusan ribu liter air bersih kepada masyarakat yang mengalami kesulitan akibat kekeringan. Pemerintah juga mengerahkan ribuan personel gabungan untuk memperkuat penanggulangan kebakaran, memperlihatkan besarnya kebutuhan sumber daya ketika bencana meluas.

Pemulihan Gambut Tidak Cukup dengan Menanam Pohon
Tantangan rehabilitasi kawasan bekas kebakaran terletak pada keberhasilan mengembalikan fungsi ekologis lahan. Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Mitigasi mengembangkan model pemulihan gambut yang memadukan pengelolaan tata air, penanaman vegetasi sesuai karakteristik lahan, serta penguatan peran masyarakat. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan penghijauan perlu menjadi bagian dari pengelolaan ekosistem secara menyeluruh.

Pada ekosistem gambut, kondisi tata air menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko kebakaran berulang. Gambut yang mengalami kekeringan lebih rentan terbakar, sehingga pembasahan kembali dan pengendalian tinggi muka air tanah merupakan bagian penting pemulihan. Pemilihan tanaman juga perlu mempertimbangkan kesesuaian jenis dengan kondisi lingkungan agar rehabilitasi tidak berhenti pada kegiatan penanaman semata.

Karena itu, keberhasilan program penghijauan semestinya diukur melalui tingkat kelangsungan hidup tanaman, luas kawasan yang berhasil dipulihkan, serta perbaikan kondisi ekologis. Informasi mengenai indikator tersebut belum tersedia dalam laporan kegiatan penanaman di Tumbang Nusa. Pemerintah daerah masih perlu menjelaskan apakah rehabilitasi disertai pengelolaan tata air dan pemantauan berkala terhadap kawasan terdampak.

Keselamatan Masyarakat Menjadi Ukuran Keberhasilan
Penanganan karhutla juga berkaitan langsung dengan perlindungan kesehatan masyarakat. Kabut asap dapat mengganggu aktivitas pendidikan, pekerjaan, dan mobilitas penduduk, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Karena itu, keberhasilan pengendalian kebakaran perlu dilihat dari berkurangnya ancaman terhadap kehidupan masyarakat, bukan hanya luas kawasan yang ditanami kembali.

Dalam kegiatan di Tumbang Nusa, pemerintah turut memberikan dukungan logistik bagi petugas, relawan, dan masyarakat terdampak. Bantuan tersebut mencakup makanan, air mineral, obat-obatan, vitamin, masker, serta kebutuhan lainnya. Kegiatan memasak bersama yang melibatkan Bobon Santoso juga menyediakan makanan dalam jumlah besar bagi pihak-pihak yang terlibat dalam penanganan karhutla.

Langkah rehabilitasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menjadi awal penting dalam penanganan kawasan bekas kebakaran. Namun, manfaat jangka panjangnya masih bergantung pada pemeliharaan tanaman, pemulihan kondisi lahan, dan konsistensi pencegahan kebakaran. Tanpa pengawasan berkelanjutan, penghijauan berisiko menjadi kegiatan sesaat yang belum mampu menjawab ancaman karhutla pada musim kemarau berikutnya.(*)

Komentar (0)