Jumat, 16 Oktober 2026
Breaking News
Olahraga

FIFA: Infantino Minta Maaf, Wenger Didorong Maju

Riskal Arief | | 3 mnt baca
FIFA: Infantino Minta Maaf, Wenger Didorong Maju
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

ZURICH, BERITANOW — Presiden FIFA Gianni Infantino meminta maaf kepada anggota Dewan FIFA atas kontroversi rencana FIFA Forward Enterprise (FFE), tetapi pertemuan di Zurich, Kamis (15/10/2026), belum meredakan tekanan terhadap kepemimpinannya. Sejumlah anggota dewan tetap mempertanyakan mengapa mereka tidak dilibatkan sejak awal dalam rencana komersialisasi sebagian hak Piala Dunia tersebut. Kritik juga menguat karena dokumen yang diminta terkait proyek itu belum diserahkan kepada anggota dewan. 

FFE sebelumnya dirancang sebagai entitas komersial yang memungkinkan investor swasta mengambil bagian dalam bisnis yang berkaitan dengan Piala Dunia. Rencana itu akhirnya dibatalkan hanya beberapa hari setelah terungkap ke publik pada Juli 2026 dan mendapat penolakan luas dari kalangan sepak bola internasional. Dalam rapat sekitar tiga setengah jam tersebut, Infantino mengakui kesalahan karena tidak membawa proposal itu lebih dahulu ke Dewan FIFA.

Permintaan maaf tersebut ternyata belum dianggap cukup oleh para pengkritiknya. Ketua FA Inggris Debbie Hewitt, yang juga menjabat Wakil Presiden FIFA, mengatakan sejumlah pertanyaan penting tetap belum mendapat jawaban, termasuk permintaan dokumen terkait FFE. Baginya, persoalan yang sedang dihadapi FIFA bukan hanya kesalahan komunikasi, melainkan keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan organisasi. 

Banyak Pertanyaan Belum Terjawab
Kontroversi FFE bukan satu-satunya perkara yang dibawa ke meja Dewan FIFA. Infantino juga menghadapi pertanyaan mengenai kasus striker Amerika Serikat Folarin Balogun, FIFA Peace Prize, serta mekanisme pendanaan bagi federasi anggota. Kasus-kasus tersebut memperluas perdebatan dari satu keputusan komersial menjadi persoalan mengenai bagaimana kekuasaan dijalankan di tubuh FIFA. 

Dalam kasus Balogun, kritik muncul setelah hukuman kartu merah pemain Amerika Serikat itu ditangguhkan di tengah laporan mengenai intervensi politik dari Washington. FIFA kini mempertimbangkan perubahan aturan agar kontroversi serupa tidak terulang, tetapi perdebatan mengenai proses keputusan sebelumnya belum sepenuhnya hilang. FIFA juga akan mengevaluasi keberlanjutan penghargaan perdamaian yang tahun lalu diberikan kepada Donald Trump. 

Di sisi lain, Dewan FIFA juga membahas peningkatan besar dana pengembangan bagi federasi nasional. Rencana tersebut membuka peluang miliaran dolar tambahan untuk 211 anggota FIFA dalam siklus berikutnya. Bagi Infantino, distribusi dana pengembangan dapat menjadi bukti bahwa kekuatan finansial FIFA tetap memberikan manfaat kepada anggotanya, tetapi bagi para pengkritik, isu pendanaan tidak menghapus pertanyaan mengenai transparansi dan tata kelola. 

Wenger Mulai Disebut sebagai Alternatif
Tekanan terhadap Gianni Infantino kini juga bergerak menuju arena politik menjelang pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027. Sejumlah figur senior sepak bola Eropa mulai mendorong nama mantan manajer Arsenal, Arsene Wenger, sebagai kandidat yang dinilai mampu memberikan alternatif terhadap kepemimpinan Infantino. Wenger sendiri sejak 2019 menjabat sebagai kepala pengembangan sepak bola global FIFA dan sejauh ini belum menyatakan akan maju. 

Pilihan terhadap Wenger memiliki paradoks tersendiri karena ia merupakan bagian dari struktur FIFA saat ini dan bekerja di bawah Infantino. Namun, reputasi globalnya, pengalaman panjang dalam sepak bola, serta penerimaan yang cukup luas di Eropa, Asia, dan Afrika membuat namanya dipandang menarik bagi kelompok yang menginginkan perubahan. Untuk menjadi calon resmi, ia harus memperoleh dukungan sedikitnya lima asosiasi nasional sebelum batas pencalonan 18 November. 

Infantino sendiri masih memiliki basis dukungan kuat, terutama dari federasi di Afrika, Amerika Selatan, dan sejumlah wilayah lain. Karena itu, munculnya nama Wenger belum berarti posisi Presiden FIFA langsung terancam. Namun pertemuan Zurich menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Infantino telah berubah: ia bukan lagi sekadar berusaha menjelaskan satu kebijakan kontroversial, tetapi harus membuktikan bahwa FIFA masih dapat menjalankan kekuasaan dengan transparan dan mempertahankan kepercayaan anggotanya.(*)

Artikel ini disusun BeritaNow dari berbagai sumber.

Komentar (0)