Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA,.com – Ketika perang bisa diputuskan dalam hitungan menit, perdamaian justru membutuhkan perundingan yang tidak kunjung selesai. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mendorong penyelesaian konflik dengan Iran melalui diplomasi. Namun, di tengah ketegangan militer dan tarik-menarik kepentingan geopolitik, muncul pertanyaan: mampukah percakapan dua presiden mengubah arah konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan?
Erdogan dan Trump berbicara melalui sambungan telepon pada Sabtu (7/11/2026), membahas hubungan bilateral serta perkembangan keamanan regional dan internasional. Dalam percakapan tersebut, Erdogan menekankan pentingnya menghentikan ketegangan Washington–Teheran melalui penyelesaian diplomatik. Pemerintah Turki juga menegaskan komitmennya melanjutkan berbagai upaya untuk mendorong perdamaian.
Seruan tersebut muncul ketika hubungan Amerika dan Iran masih dibayangi kemungkinan meningkatnya kembali operasi militer. Sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, konflik telah berkembang menjadi persoalan keamanan kawasan yang kompleks. Meski intensitas pertempuran sempat mereda, perselisihan mengenai program nuklir, sanksi ekonomi, dan keamanan jalur perdagangan belum terselesaikan.
Erdogan Ingin Damai, tetapi Apa Kepentingan Turki?
Seruan Erdogan tidak dapat dilepaskan dari posisi geografis dan politik Turki. Negara anggota NATO tersebut berbatasan langsung dengan Iran sekaligus memiliki hubungan strategis dengan Washington. Ketegangan berkepanjangan di kawasan berpotensi memengaruhi keamanan perbatasan, perdagangan, dan stabilitas ekonomi Turkiye.
Ankara juga memiliki pengalaman menjalankan komunikasi dengan pihak-pihak yang saling bermusuhan. Dalam konflik Rusia–Ukraina, Turki berupaya mempertahankan hubungan diplomatik dengan Moskow dan Kyiv sekaligus. Pendekatan serupa memberikan ruang bagi Ankara untuk menawarkan komunikasi kepada Washington dan Teheran tanpa harus memutus hubungan dengan salah satu pihak.
Namun, keinginan menjadi penghubung diplomatik bukan berarti Turki sudah memperoleh mandat resmi sebagai mediator utama. Dalam pembicaraan terbaru, Erdogan menyatakan kesiapan melanjutkan upaya perdamaian, tetapi tidak mengumumkan kesepakatan atau mekanisme perundingan baru. Dengan demikian, peluang Ankara memperbesar pengaruh diplomatiknya masih bergantung pada kesediaan Amerika dan Iran untuk berkompromi.
Washington dan Teheran Masih Berebut Syarat
Di balik seruan perdamaian, perbedaan kepentingan Amerika dan Iran tetap menjadi hambatan besar. Washington menghendaki pembatasan program nuklir Iran, sedangkan Teheran menuntut perubahan kebijakan sanksi dan pembatasan aktivitas perdagangan. Perselisihan mengenai Selat Hormuz juga memperumit negosiasi karena jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan energi internasional.
Meski demikian, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Qatar dilaporkan masih melanjutkan mediasi antara kedua negara untuk mencegah eskalasi, sementara Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance disebut terlibat dalam komunikasi tidak langsung mengenai peluang kesepakatan baru. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa perundingan berlangsung melalui beberapa jalur, meskipun belum menghasilkan penyelesaian menyeluruh.
Persoalannya, diplomasi berlangsung ketika ancaman penggunaan kekuatan militer masih ada. Washington belum sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan serangan lanjutan, sementara Iran memperingatkan akan memberikan respons apabila kembali diserang. Situasi tersebut membuat setiap kemajuan perundingan tetap rentan terhadap insiden keamanan yang dapat menggagalkan proses diplomasi.
Dari Iran hingga Ukraina, Erdogan Membuka Dua Pintu
Percakapan Erdogan dan Trump ternyata tidak hanya membahas Iran. Presiden Turki juga menekankan pentingnya meningkatkan komunikasi dengan Rusia dan Ukraina untuk mempercepat penyelesaian perang kedua negara. Ankara menyatakan harapan agar peningkatan aktivitas diplomatik menghasilkan kemajuan yang nyata.
Langkah itu memperlihatkan upaya Turki mempertahankan posisi dalam diplomasi internasional. Dengan terlibat dalam pembahasan dua konflik besar, Ankara memiliki kesempatan memperluas perannya sebagai penghubung berbagai kepentingan keamanan. Namun, kemampuan membuka jalur komunikasi tidak otomatis berarti mampu memaksakan kesepakatan kepada negara-negara yang sedang berkonflik.
Bagi masyarakat sipil di kawasan terdampak, keberhasilan diplomasi memiliki arti jauh lebih penting daripada keberhasilan seorang pemimpin membangun citra internasional. Berkurangnya ancaman serangan dapat membuka ruang pemulihan ekonomi, keamanan transportasi, dan kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, kegagalan negosiasi berisiko memperpanjang ketidakpastian yang selama ini mereka hadapi.
Untuk sementara, pemerintah Turki belum mengungkapkan bagaimana Trump menanggapi seruan Erdogan ataupun apakah percakapan tersebut menghasilkan rencana tindak lanjut yang konkret. Diplomasi memang kembali mendapatkan perhatian, tetapi keputusan menentukan tetap berada di tangan Washington dan Teheran. Erdogan boleh menawarkan jalan damai, tetapi selama kedua pihak masih mempertahankan ancaman militer, perdamaian berisiko menjadi janji yang lebih mudah diucapkan daripada diwujudkan.(*)