Dugaan Teror di RAF Fairford, Pakar: Ancaman Lebih Luas bagi Pangkalan AS
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
LONDON, BERITANOW.COM — Penangkapan lima pria di dekat Pangkalan RAF Fairford, Inggris, memicu kekhawatiran akan ancaman yang lebih luas terhadap instalasi militer Amerika Serikat di seluruh dunia. Seorang mantan pejabat intelijen AS menilai para tersangka mungkin merencanakan serangan terkoordinasi yang kompleks, bukan aksi tunggal amatir.
Polisi kontraterorisme Inggris masih menyelidiki kemungkinan keterkaitan Iran dengan dugaan plot tersebut. Namun, penyelidik juga mempertimbangkan motif lain, termasuk kelompok ekstremis Islam dan aktor negara lain. Inggris menetapkan tingkat ancaman terorisme pada level "severe", yang berarti serangan sangat mungkin terjadi.
Lima Tersangka dan Tiga Kendaraan
Kelima pria ditangkap pada Minggu (27/9/2026) setelah polisi menerima laporan tentang tiga kendaraan mencurigakan yang bergerak menuju pangkalan. Mereka awalnya ditahan karena dugaan pelanggaran Undang-Undang Bahan Peledak, lalu ditangkap lebih lanjut atas dugaan persiapan tindak pidana terorisme. Berdasarkan hukum terorisme Inggris, para tersangka dapat ditahan hingga 14 hari tanpa dakwaan.
Mantan pejabat Badan Intelijen Pertahanan (DIA) AS, Andrew Badger, menilai jumlah tersangka dan kendaraan yang terlibat mengindikasikan operasi yang canggih. Menurutnya, ini bukan aksi lone wolf biasa, melainkan operasi yang terencana dengan baik dan terkoordinasi.
"Kita akan melihat protokol keamanan yang ditingkatkan di seluruh Eropa, seluruh Inggris, dan seluruh dunia untuk setiap instalasi AS," kata Badger kepada Fox News Digital. "Ini ancaman yang sangat signifikan, dan melihat ada lima individu serta tiga van berbeda di lokasi, ini bisa jadi operasi yang sangat kompleks dan terkoordinasi."
Kemungkinan Serangan VBIED
Badger menjelaskan bahwa potensi serangan itu bisa berupa kendaraan berisi bahan peledak (VBIED). Dalam skenario tersebut, van pertama mungkin diledakkan di gerbang depan, lalu kendaraan lain masuk untuk menyasar pembom strategis yang diparkir di pangkalan.
"Fairford juga menjadi tempat AS menyimpan pembom strategisnya untuk Eropa dan seluruh dunia," ujarnya. Ia menambahkan bahwa serangan semacam itu tidak hanya berdampak pada pangkalan, tetapi juga berisiko merusak area sekitarnya.
Badger juga menyoroti RAF Welford, fasilitas penyimpanan amunisi utama yang mendukung operasi di RAF Fairford. Menurutnya, Welford adalah depot senjata dan amunisi terbesar kedua di seluruh Eropa, sehingga bisa menjadi target lain.
Ia menyebut ada laporan bahwa RAF Fairford sempat dinaikkan ke status Delta, tingkat siaga keamanan tertinggi di sistem pangkalan militer AS, yang menandakan adanya ancaman serangan teroris yang akan datang.
Trump Klaim Sudah Pantau Tersangka
Presiden AS Donald Trump mengklaim pihaknya telah memantau para tersangka sebelum penangkapan. Ia menyebut mereka "ingin menimbulkan kerusakan besar" pada pangkalan AS. Namun, sumber lain menyebut operasi tersebut tidak berbasis intelijen, yang mengindikasikan penyelidik tidak mengetahui rencana tersebut sebelumnya.
Mantan pejabat Gedung Putih era Trump, Morgan Murphy, menyatakan otoritas Inggris memimpin penyelidikan bersama penegak hukum dan intelijen AS. Menurutnya, setiap catatan telepon, bank, dan sewa akan ditelusuri oleh intelijen kedua negara. Jika jejak itu mengarah ke Teheran, maka akan ditemukan.
"Jika bukti konklusif membuktikan Iran berada di balik upaya serangan terhadap pasukan AS, presiden Amerika pada akhirnya akan menentukan bagaimana Teheran membayar," kata Murphy.
Peringatan Iran dan Ketegangan Regional
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya memperingatkan bahwa pangkalan apa pun yang digunakan untuk melancarkan serangan ke wilayah Iran merupakan target sah. Seorang anggota dewan lokal menyebut ada peringatan keamanan spesifik sekitar enam pekan lalu terkait ancaman Iran terhadap pangkalan tersebut, yang membuat pengawasan di sekitar area ditingkatkan.
Badger mengingatkan agar tidak langsung menyimpulkan Iran bertanggung jawab. Menurutnya, ada aktor lain yang juga perlu dipertimbangkan, termasuk Rusia yang gencar melancarkan perang abu-abu di Eropa, serta kelompok ekstremis Islam yang masih menjadi ancaman signifikan di Inggris.
"Apakah ini semacam pembalasan Iran untuk mendapatkan leverage atau menimbulkan biaya bagi AS karena keluar dari negosiasi? Kita belum tahu pasti, tetapi itu adalah kemungkinan," ujarnya.(*)
Informasi ini dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.