Dua Raksasa, Satu Atap: Modal Teluk dan Kedekatan Kekuasaan di Balik Merger Hollywood
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
BERITANOW - Pada Rabu, 30 September 2026, hakim federal di Oakland mengesahkan kesepakatan yang membuka jalan bagi salah satu merger terbesar dalam sejarah Hollywood. Paramount akan mencaplok Warner Bros. Discovery, sehingga dua gudang film, dua layanan streaming, dan dua jaringan berita bernaung di bawah satu manajemen. Penutupan transaksi diperkirakan terjadi sekitar 6 Oktober.
Angka harga yang beredar di media berbeda-beda, tetapi bukan karena salah hitung. Nilai 81 miliar dolar AS merujuk pada harga saham yang dibayar tunai kepada pemegang saham, sedangkan 110 miliar dolar AS angka yang sudah memasukkan beban utang. Dana pembelinya berupa ekuitas 47 miliar dolar yang dijamin keluarga Ellison dan RedBird Capital, ditambah pinjaman 54 miliar dolar dari Bank of America, Citigroup, dan Apollo.
Merger sebesar ini menyempitkan ruang bagi pembuat film independen, pekerja kreatif, dan anggota komunitas perfilman lain yang ingin menawar agar kesepakatan ini tidak terjadi. Itulah sebabnya 12 jaksa agung negara bagian di AS menggugat sejak Juli, dengan sorotan pada dominasi film rilisan besar dan saluran kabel. Namun perundingan soal pelepasan aset gagal, dan perkara berakhir dengan kesepakatan damai.
Uang Teluk, Hak Suara di Tangan Keluarga
Di balik angka-angka itu mengalir sekitar 24 miliar dolar dari dana kekayaan negara Arab Saudi, Qatar, dan Abu Dhabi. Dana Saudi menyumbang kira-kira sepuluh miliar, sementara dua dana lainnya menutup sisanya. Bagi negara-negara itu, masuk ke industri hiburan Amerika sejalan dengan upaya memperluas portofolio mereka di luar sektor energi.
Strukturnya disusun dengan cermat: dana dari Teluk itu memegang saham tanpa hak suara dan melepas hak tata kelola, termasuk melepas hak duduk di kursi dewan. Dengan susunan itu Paramount berargumen bahwa transaksinya berada di luar jangkauan lembaga peninjau investasi asing Amerika, CFIUS. Regulator komunikasi AS kemudian membolehkan ketiga dana Teluk itu memegang 49,5 persen ekuitas, sementara kendali suara tetap pada Ellison dan RedBird.
Sejumlah senator dari Partai Demokrat mempertanyakan apakah investor "pasif" benar-benar tanpa pengaruh, terlebih dana Saudi dikendalikan putra mahkota Mohammed bin Salman. Paramount sendiri menyebut adanya peluang strategis dan komersial dengan para investor itu, tanpa merinci wujudnya. Dokumen hukum bisa menutup kursi dewan, tetapi pengaruh uang sering bekerja lewat insentif yang tidak tercatat di akta.
Kedekatan Politik dan Taruhan Ruang Redaksi
Faktor ketiga adalah jarak yang pendek antara pemilik baru dan pusat kekuasaan. Larry Ellison, ayah CEO David Ellison, dikenal sebagai sekutu Presiden Trump, dan pemerintah federal menyetujui merger ini pada Juni. Pada Desember 2025 Trump juga berkata bahwa CNN sebaiknya dijual, sementara Paramount pernah membayar 16 juta dolar untuk menutup sengketa "60 Minutes" yang oleh para pengkritik dibaca sebagai upaya menyenangkan sang presiden.
Setelah mengambil alih Paramount, David Ellison menunjuk Bari Weiss memimpin CBS News, dan langkah itu memicu tudingan campur tangan terhadap independensi redaksi. Bagi pembaca berita, taruhan sesungguhnya bukan siapa yang memiliki studio, melainkan siapa yang menentukan apa yang boleh dan tak boleh diberitakan. Kesepakatan damai menjawabnya dengan dewan independen pengawas CNN dan CBS News dalam kerangka lima tahun, meski Colorado dan Washington enggan menandatangani ketentuan itu.
Aktor Mark Ruffalo aktif bersuara dalam gelombang penolakan soal merger ini, dan kritiknya terhadap keluarga Ellison dibalas Paramount dengan tuduhan antisemitisme yang ia tolak keras. Perdebatan itu memperlihatkan betapa mudah soal kepemilikan dan kekuasaan terseret ke medan emosi, padahal pertanyaan utamanya sederhana. Jawabannya baru terlihat ketika pagar lima tahun itu diuji: apakah penjaga ruang redaksi lebih kuat daripada modal dan kekuasaan yang mengelilinginya.(*)