Selasa, 06 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Dua Kota Amerika Masuk dalam Retorika Perang Trump

Riskal Arief | | 4 mnt baca
Dua Kota Amerika Masuk dalam Retorika Perang Trump
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

NEBRASKA, BERITANOW — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kontroversi setelah membawa Los Angeles dan San Diego ke dalam retorika perang dengan Iran. Dalam kampanye di Grand Island, Nebraska, Senin (5/10/2026), Trump awalnya membicarakan kenaikan biaya ekonomi akibat perang sebelum mengatakan Iran dapat “menghabisi” sebuah kota dan menyebut dua kota terbesar California tersebut. Ia kemudian menggambarkan situasi itu sebagai harga kecil yang harus dibayar untuk menjaga Amerika dan dunia tetap aman.

Pernyataan tersebut segera mendapat kecaman dari para pemimpin California. Gubernur Gavin Newsom mempertanyakan bagaimana seorang presiden dapat berbicara mengenai serangan musuh terhadap kota-kota di negaranya sendiri, sementara Wali Kota Los Angeles Karen Bass mengingatkan bahwa tugas presiden adalah melindungi warga. Wali Kota San Diego Todd Gloria menegaskan kotanya bukan korban yang dapat diperlakukan sebagai kerugian sampingan perang.

Kritik bahkan datang dari kubu Republik. Jim Desmond, politikus Republik California sekaligus veteran Angkatan Laut, menyatakan tidak sepakat dengan pernyataan Trump meskipun mendukung sikap tegas terhadap Iran. Baginya, tidak ada kota maupun keluarga Amerika yang dapat dianggap sebagai sesuatu yang bisa dikorbankan.

Dari Harga BBM ke Keselamatan Kota
Konteks pernyataan tersebut penting karena Trump sedang membela dampak ekonomi perang dengan Iran. Konflik telah mengganggu pasar energi dan ikut mendorong kenaikan harga bahan bakar, pupuk serta sejumlah komoditas. Trump berusaha meyakinkan pendukungnya bahwa beban ekonomi tersebut merupakan pengorbanan sementara demi memperoleh kemenangan.

Namun, argumentasi mengenai biaya perang berubah ketika contoh yang digunakan bukan lagi dolar, harga bensin atau inflasi, melainkan keselamatan kota Amerika. Los Angeles dan San Diego bukan sekadar dua nama dalam pidato politik. Keduanya merupakan pusat ekonomi besar, sementara San Diego memiliki konsentrasi fasilitas dan personel militer yang sangat penting bagi Amerika Serikat.

Belum jelas mengapa Trump secara khusus memilih kedua kota tersebut. Keduanya berada di California, negara bagian yang selama ini menjadi salah satu pusat pertentangan politik antara Trump dan para pemimpin Demokrat. Tanpa penjelasan lebih lanjut dari Gedung Putih, hubungan antara pemilihan dua kota itu dengan perseteruan politik domestik tidak dapat dipastikan.

Ancaman Iran Perlu Dibedakan dari Retorika
Pernyataan Trump juga menimbulkan pertanyaan lain: apakah Iran memang mampu menghantam Los Angeles atau San Diego secara langsung? Hingga kini, Iran diketahui memiliki arsenal rudal terbesar dan paling beragam di Timur Tengah, tetapi belum pernah menguji atau mengoperasikan rudal yang mampu menjangkau daratan utama Amerika Serikat. Pengembangan teknologi berjangkauan lebih jauh memang terus menjadi perhatian Washington.

Ancaman terhadap wilayah Amerika juga tidak hanya dihitung melalui rudal antarbenua. Pada awal perang, FBI pernah memperingatkan aparat mengenai kemungkinan Iran melakukan serangan balasan menggunakan drone yang diluncurkan dari kapal terhadap sasaran di California. Namun, informasi tersebut tidak menyebut target, waktu maupun pelaku tertentu, dan pemerintah California ketika itu mengatakan tidak mengetahui adanya ancaman yang segera terjadi.

Karena itu, polemik Trump dan Iran kali ini memiliki dua lapisan yang harus dipisahkan. Risiko keamanan akibat perang merupakan persoalan nyata yang harus dinilai berdasarkan kemampuan dan informasi intelijen, sedangkan penyebutan Los Angeles dan San Diego dalam pidato merupakan pilihan retorika politik Trump sendiri. Mencampurkan keduanya justru berisiko mengaburkan pertanyaan terpenting dalam sebuah perang: berapa harga yang harus dibayar, siapa yang menanggungnya, dan sampai di mana negara dapat menyebut pengorbanan itu dapat diterima?

Perang Masuk ke Politik Dalam Negeri
Ucapan tersebut muncul kurang dari sebulan menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November. Trump berada di Nebraska untuk menggalang dukungan bagi Partai Republik di tengah pertarungan mempertahankan kendali Kongres. Perang Iran dan dampaknya terhadap biaya hidup pun ikut masuk ke dalam arena kampanye.

Situasi itu memperlihatkan bagaimana konflik luar negeri dapat berubah menjadi persoalan politik domestik. Pemerintah harus menjelaskan tujuan perang, dampak ekonomi, risiko keamanan, dan hasil yang hendak dicapai kepada masyarakat yang nantinya ikut menanggung konsekuensinya. Semakin panjang konflik berlangsung, semakin besar pula tuntutan publik terhadap jawaban tersebut.

Kontroversi Los Angeles dan San Diego akhirnya menunjukkan bahwa bahasa seorang pemimpin dapat menjadi bagian dari mekanisme perang itu sendiri. Pernyataan mengenai musuh, ancaman dan pengorbanan membentuk cara publik memahami konflik serta menentukan batas biaya yang dianggap wajar. Dalam demokrasi, justru batas itulah yang terus diperdebatkan ketika perang yang jauh dari rumah mulai menyentuh harga kebutuhan—dan bahkan nama kota tempat warga Amerika tinggal.(*)

Informasi ini dihimpun Beritanow dari berbagai sumber.

Komentar (0)