Minggu, 18 Oktober 2026
Breaking News
Nasional

Dry Ice Mulai Jadi Senjata Baru Lawan Asap Karhutla

Riskal Arief | | 3 mnt baca
Dry Ice Mulai Jadi Senjata Baru Lawan Asap Karhutla
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

JAKARTA, BERITANOW — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilai penggunaan dry ice atau es kering mulai menunjukkan potensi sebagai metode tambahan untuk mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Teknologi ini berbeda dari operasi modifikasi cuaca yang mengandalkan awan hujan, karena dry ice ditujukan untuk membantu mengurai asap pekat yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer. Setelah diuji di Sumatera Selatan, metode serupa kini disiapkan untuk diterapkan di Kalimantan Tengah.

Uji coba di Sumatera Selatan pada 15–16 Oktober menjadi contoh paling konkret sejauh ini. BNPB menggunakan sekitar 2,4 ton dry ice dalam tiga sortie dengan total waktu terbang lebih dari tujuh jam, setelah kabut asap mengganggu penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dan berdampak pada kesehatan masyarakat. Data BMKG yang dikutip ANTARA menunjukkan jarak pandang meningkat dari sekitar 1.000 meter menjadi 1.500–2.000 meter beberapa jam setelah penyemaian.

Pemerintah juga melaporkan perkembangan lain yang lebih besar dalam dua hari intervensi tersebut. Berdasarkan laporan Gubernur Sumatera Selatan yang disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, jarak pandang disebut meningkat dari sekitar 300 meter menjadi 2.800 meter, sementara angka PM2.5 turun dari 660 menjadi 200. Namun pemerintah dan BMKG menegaskan perubahan itu belum dapat sepenuhnya diklaim sebagai efek dry ice karena faktor atmosfer lain masih perlu dievaluasi.

Dry Ice Bekerja Tanpa Menunggu Awan Hujan
Dry ice pada dasarnya merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat. Dalam operasi penanganan asap, material ini ditebar dari pesawat untuk membantu proses pencampuran atmosfer dan mengganggu lapisan inversi yang membuat asap terperangkap dekat permukaan. Pendekatan ini menjadi menarik karena dapat digunakan ketika kondisi awan hujan tidak mendukung operasi modifikasi cuaca konvensional.

Metode tersebut tidak dimaksudkan menggantikan pemadaman di darat ataupun water bombing. Fungsinya lebih spesifik, yakni mengurangi konsentrasi asap dan memperbaiki jarak pandang ketika kebakaran sudah menghasilkan kabut pekat. Karena itu, dry ice lebih tepat dilihat sebagai alat tambahan dalam satu sistem penanganan karhutla yang tetap membutuhkan pemadaman sumber api, pencegahan, patroli, dan penegakan hukum.

Kebutuhan teknologi seperti ini cukup terasa di Kalimantan Tengah. Kabut asap yang tebal telah mengganggu jarak pandang dan bahkan membuat operasi water bombing tidak selalu dapat dilakukan dengan aman. Pemerintah menyebut enam helikopter BNPB dan satu helikopter Kementerian Kehutanan tersedia di wilayah tersebut, tetapi penerbangan tetap bergantung pada visibilitas yang memadai.

Kalimantan Tengah Jadi Uji Berikutnya
Pemerintah menyiapkan penerapan dry ice di Kalimantan Tengah dengan sasaran awal membantu membuka kembali akses penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya. Menteri Kehutanan menyebut pasokan dry ice telah ditemukan di Kalimantan dan operasi akan dilakukan bersama sejumlah pihak, termasuk BNPB dan TNI. Jika hasil evaluasi menunjukkan efektivitas yang cukup baik, metode tersebut dapat diperluas ke kabupaten lain. 

Langkah ini penting karena kabut asap bukan hanya persoalan kualitas udara. Ketika jarak pandang turun, penerbangan terganggu, distribusi logistik terhambat, aktivitas ekonomi ikut melambat, dan operasi pemadaman udara justru menjadi lebih sulit. Karena itu, kemampuan memperbaiki visibilitas dapat memberi dampak langsung pada penanganan bencana, meski tidak memadamkan api itu sendiri.

Kasus Sumatera Selatan memberi sinyal awal yang menjanjikan, tetapi pemerintah masih berhati-hati menyebutnya sebagai keberhasilan final. Dry ice masih berada dalam tahap pengembangan dan evaluasi, sementara BMKG dan kementerian terkait terus menguji seberapa besar kontribusinya dibanding faktor cuaca lain. Jika hasil di Kalimantan Tengah konsisten, teknologi ini bisa menjadi tambahan penting dalam menghadapi karhutla, terutama ketika asap terlalu tebal dan awan hujan terlalu sedikit untuk mengandalkan cara lama.(*)

Komentar (0)