Dobrak Kebiasaan Amerika? Wali Kota New York Mamdani Pasang Bidet
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
NEW YORK, BERITANOW.COM – Kebiasaan menggunakan air untuk membersihkan diri setelah buang air menjadi sorotan di Amerika Serikat. Wali Kota New York, Zohran Mamdani, memasang bidet atau alat penyemprot air di toilet kediaman resminya, Gracie Mansion. Keputusan tersebut menarik perhatian karena berbeda dari kebiasaan mayoritas warga Amerika yang masih mengandalkan tisu toilet.
Wali Kota New York Mamdani pasang bidet bukan sekadar kabar tentang perubahan fasilitas kamar mandi. Langkah ini memunculkan perbincangan mengenai perbedaan kebiasaan sanitasi antara masyarakat Amerika Serikat dan negara-negara yang lebih terbiasa menggunakan air untuk membersihkan diri, termasuk Indonesia.
Bidet Terpasang di Rumah Dinas Wali Kota
Keberadaan bidet di Gracie Mansion menjadi perhatian setelah Katherine Brezler, penasihat strategis Presiden Distrik Queens, menemukan alat penyemprot air tersebut saat menghadiri resepsi budaya Eropa Timur pada 22 Oktober 2026. Brezler kemudian merekam temuannya dan membagikan video melalui media sosial.
Kantor Wali Kota New York mengonfirmasi pemasangan perangkat tersebut. Menurut laporan media, Mamdani membiayai sendiri pembelian bidet yang masing-masing berharga sekitar US$24 atau setara Rp400 ribuan, bergantung pada nilai tukar.
Perangkat itu dipasang pada toilet yang memungkinkan pemasangan, baik di area publik maupun pribadi di Gracie Mansion. Dengan demikian, fasilitas tersebut tersedia di sejumlah toilet di kediaman resmi wali kota, bukan hanya di satu kamar mandi.
Berbeda dari Kebiasaan Mayoritas Warga Amerika
Di Indonesia, membersihkan diri menggunakan air setelah buang air merupakan kebiasaan yang lazim. Sebaliknya, banyak rumah tangga di Amerika Serikat masih menjadikan tisu toilet sebagai perlengkapan utama di kamar mandi.
Perbedaan tersebut membuat keputusan Mamdani menarik perhatian publik. Meski demikian, penggunaan bidet bukan hal yang sepenuhnya asing di negara-negara Barat. Perangkat serupa telah digunakan di sejumlah negara Eropa dan semakin dikenal sebagai alternatif untuk menjaga kebersihan pribadi.
Survei YouGov pada 2023 yang dikutip dalam pemberitaan mengenai kebiasaan sanitasi warga Amerika menunjukkan bahwa 87 persen responden mengaku selalu menggunakan tisu toilet setelah buang air besar. Sementara itu, hanya sekitar 6 persen responden yang memiliki akses terhadap bidet di rumah.
Angka tersebut menggambarkan perbedaan popularitas kedua metode pada saat survei dilakukan. Namun, kebiasaan masyarakat dapat berubah seiring meningkatnya perhatian terhadap kebersihan, kenyamanan, dan pilihan perlengkapan kamar mandi.
Bukan Janji Kampanye, Sudah Direncanakan Sejak Awal
Menariknya, pemasangan bidet bukan bagian dari janji kampanye Mamdani. Ketika mulai menempati Gracie Mansion pada Januari 2026, ia sempat menyampaikan keinginannya untuk memasang perangkat tersebut di kamar mandi kediaman resminya.
Saat itu, Mamdani menggambarkan rencana tersebut sebagai keinginan yang ingin diwujudkan. Beberapa bulan kemudian, pemasangan bidet akhirnya terealisasi.
Gracie Mansion sendiri merupakan kediaman resmi Wali Kota New York sejak 1942. Bangunan bersejarah di Manhattan tersebut menjadi tempat tinggal resmi bagi pemimpin pemerintahan kota selama masa jabatan mereka.
Karena itu, perubahan fasilitas di dalamnya dapat menarik perhatian, meskipun berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari yang bersifat pribadi.
Bidet dan Persoalan Lingkungan
Selain persoalan kebersihan, penggunaan bidet juga berkaitan dengan pembahasan mengenai konsumsi tisu dan pengelolaan limbah. Penggunaan air berpotensi mengurangi kebutuhan terhadap sebagian produk pembersih sekali pakai, meskipun dampak lingkungannya bergantung pada konsumsi air, energi, serta jumlah tisu yang berhasil dihemat.
Persoalan lain muncul dari penggunaan tisu basah yang dibuang melalui toilet. Produk tersebut cenderung lebih sulit terurai dibandingkan tisu toilet yang dirancang untuk mudah hancur dalam air sehingga berisiko menyumbat pipa dan mengganggu sistem pengolahan limbah.
Namun, tidak tepat jika seluruh persoalan saluran pembuangan dikaitkan hanya dengan penggunaan tisu toilet. Jenis produk, kebiasaan pengguna, dan kondisi infrastruktur turut menentukan dampaknya.
Pada akhirnya, keputusan Mamdani memasang bidet memperlihatkan bagaimana kebiasaan yang dianggap biasa di satu negara dapat menjadi bahan perbincangan di negara lain. Meski judul ini menyoroti kemungkinan perubahan kebiasaan Amerika, pemasangan tersebut merupakan pilihan fasilitas pribadi, bukan bukti adanya kebijakan untuk mengubah budaya masyarakat secara luas.(*)