Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
DEPOK, BERITANOW.COM — Kota Depok terpilih sebagai lokasi pilot project pengelolaan sampah organik yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup. Program ini bertujuan mengurangi beban TPA Cipayung yang kondisinya sudah melebihi kapasitas, dengan cara menyelesaikan persoalan sampah organik sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga.
Sekitar 1.200 ton sampah dikirim ke TPA Cipayung setiap hari, dan lebih dari 50 persen di antaranya merupakan sampah organik berupa sisa makanan dan sayuran . Jika sampah organik bisa dikelola sejak awal, beban yang harus ditanggung TPA akan berkurang secara signifikan.
Mengapa Depok Dipilih
Depok menghadapi persoalan sampah yang kompleks. TPA Cipayung sebagai satu-satunya tempat pemrosesan akhir aktif di kota ini sudah kelebihan kapasitas, dengan ketinggian gunungan sampah mencapai lebih dari 30 meter . Kondisi itu membuat perluasan TPA tidak lagi dimungkinkan, sehingga pemerintah kota harus mencari strategi baru.
Wali Kota Depok Supian Suri menyatakan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya bergantung pada TPA, tetapi harus dimulai dari hulu, yaitu rumah tangga. Menurutnya, pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah menjadi kunci untuk menekan volume sampah yang berakhir di TPA.
"Upaya mengurangi beban TPA harus dimulai dari sumbernya. Salah satunya melalui pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah," kata Supian, seperti dikutip Radar Depok .
Program Ember Biru dan Pengolahan Maggot
Sebelumnya, Pemkot Depok telah menjalankan sejumlah inisiatif pengelolaan sampah organik. Salah satunya adalah Program Ember Biru yang diluncurkan di Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari, pada awal 2026 . Program ini menyediakan ember khusus bagi warga untuk menampung sampah organik dari rumah tangga.
Sampah organik yang telah dipilah kemudian diolah melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Maggot ini mengurai sampah dalam waktu relatif singkat dan menghasilkan biomassa yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak berprotein tinggi. Residunya dapat diolah menjadi pupuk organik .
Supian Suri menyebut pelaksanaan Program Ember Biru di Duren Seribu menunjukkan hasil positif. Tingkat partisipasi masyarakat dinilai tinggi, dengan warga yang mulai terbiasa memilah sampah dari rumah .
"Sampah organik yang telah dipilah juga mulai dimanfaatkan, salah satunya melalui budidaya maggot yang dapat dijadikan pakan ternak," tuturnya .
Dukungan dan Tantangan
Pemkot Depok juga menggandeng sejumlah pihak dalam pengelolaan sampah organik. DLHK Kota Depok bersama Garudafood dan BioMagg meresmikan Rumah Maggot BSF Antakusuma di RW6, Kelurahan Depok Jaya, pada Juli 2026 . Program Kampung Wirausaha Maggot yang dikembangkan Garudafood sejak 2024 kini telah menjangkau tujuh kelurahan di Depok, melibatkan lebih dari 60 kepala keluarga .
Hingga Juni 2026, program tersebut telah mengelola lebih dari 100 ton sampah organik rumah tangga, menghasilkan 9,7 ton maggot BSF, serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon sekitar 325 ton CO2e .
Meski sejumlah inisiatif telah berjalan, tantangan masih ada. Pengelolaan sampah anorganik seperti plastik agar memiliki nilai ekonomis masih menjadi persoalan yang dievaluasi. Supian Suri mengakui hal itu sebagai pekerjaan rumah yang belum tuntas.
"Ini yang masih kami evaluasi, bagaimana sampah anorganik bisa tersalurkan dan tetap memiliki nilai ekonomi," ujarnya .
Dengan terpilihnya Depok sebagai pilot project Kementerian LH, pengelolaan sampah organik berbasis sumber ini diharapkan bisa diperluas dan direplikasi ke kelurahan lain. Pemkot Depok menargetkan program serupa dapat berjalan optimal di seluruh wilayah, sehingga persoalan sampah yang selama ini membebani TPA Cipayung dapat diselesaikan secara lebih menyeluruh.(*)
Informasi ini dihimpun BeritaNow dari berbagai sumber.