Minggu, 18 Oktober 2026
Breaking News
Internasional

Demonstrasi Milan Ricuh, 50 Orang Ditahan dan 25 Terluka

Effra S. Husein | | 4 mnt baca
Demonstrasi Milan Ricuh, 50 Orang Ditahan dan 25 Terluka
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

MILAN, BERITANOW.COM – Demonstrasi Milan menentang kenaikan biaya hidup di Italia berujung kerusuhan pada Sabtu (17/10/2026). Bentrokan antara sejumlah demonstran dan polisi antihuru-hara menyebabkan puluhan orang terluka, perusakan fasilitas umum, kebakaran, hingga penjarahan toko di pusat kota.

Berdasarkan laporan Associated Press (AP), aksi yang awalnya berlangsung damai tersebut kemudian berubah menjadi kekerasan ketika sejumlah orang bertopeng melemparkan batu, bongkahan paving, petasan, dan benda lainnya ke arah polisi.

Aparat keamanan merespons dengan mengerahkan kendaraan penyemprot air dan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa. Situasi memanas di sejumlah titik, termasuk kawasan Piazza del Duomo, pusat aktivitas publik dan wisata di Milan.

Kerusuhan menyebabkan kawasan pusat perbelanjaan dan galeri komersial dikosongkan. Sejumlah toko dijarah, fasilitas umum dirusak, dan barikade yang dibuat menggunakan meja serta perabot jalan dibakar.

Sekitar 50 Orang Diamankan

Laporan kantor berita Italia ANSA pada Sabtu malam menyebutkan sekitar 50 demonstran dibawa ke kantor polisi di Milan setelah kerusuhan. Hampir setengah dari mereka dilaporkan masih berusia di bawah umur.

Sementara itu, Euronews melaporkan sebanyak 25 orang terluka dan dibawa ke sejumlah rumah sakit di Milan. Dari jumlah tersebut, 10 orang merupakan anggota aparat keamanan.

AP melaporkan sedikitnya dua anggota kepolisian mengalami luka akibat bentrokan. Perbedaan angka korban dalam laporan awal menunjukkan pentingnya membedakan data yang dihimpun setiap media dan waktu pembaruannya.

Hingga Minggu (18/10/2026), belum tersedia angka final yang terverifikasi mengenai keseluruhan kerugian material akibat kerusuhan tersebut.

Aparat juga melakukan pengamanan di kawasan wisata dan pusat transportasi untuk mengendalikan situasi. Sejumlah stasiun metro di pusat kota sempat ditutup ketika bentrokan berlangsung.

Pemerintah Italia Kecam Kekerasan

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam kekerasan yang terjadi dalam demonstrasi tersebut.

Meloni menegaskan bahwa menyampaikan pendapat merupakan hak masyarakat. Namun, hak tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan perusakan, membakar fasilitas publik, atau menyerang aparat keamanan.

Wali Kota Milan Giuseppe Sala juga mengakui bahwa keresahan yang melatarbelakangi demonstrasi perlu diperhatikan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kekerasan terhadap petugas dan kerusakan kota tidak dapat dibenarkan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan dua persoalan yang harus ditangani secara bersamaan: tuntutan masyarakat mengenai kondisi ekonomi dan kebutuhan menjaga keamanan publik.

Kerusuhan Juga Terjadi di Turin dan Bologna

Milan bukan satu-satunya kota Italia yang mengalami bentrokan pada akhir pekan tersebut.

Menurut laporan ANSA dan Euronews, kericuhan juga terjadi di Turin dan Bologna. Di Bologna, aparat melaporkan empat orang ditangkap atas dugaan perlawanan berat terhadap petugas. Ketiganya?

ANSA melaporkan empat orang yang ditangkap di Bologna seluruhnya masih di bawah umur. Sebanyak 36 anggota aparat keamanan dilaporkan terluka atau mengalami memar dalam bentrokan di kota tersebut.

Di Turin, ketegangan juga terjadi di tengah rangkaian demonstrasi yang berkaitan dengan keresahan ekonomi.

Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa tekanan sosial tidak hanya terpusat di satu kota. Namun, tingkat kerusuhan, jumlah korban, dan tindakan aparat berbeda di setiap lokasi sehingga data dari masing-masing kota perlu dibaca secara terpisah.

Biaya Hidup Menjadi Sorotan

Demonstrasi di Italia berlangsung di tengah meningkatnya keresahan mengenai biaya hidup. Harga energi, transportasi, kebutuhan sehari-hari, dan persoalan upah menjadi bagian dari perdebatan publik mengenai kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan rumah tangga.

AP melaporkan bahwa demonstrasi di Milan pada 17 Oktober tidak hanya berkaitan dengan kenaikan biaya hidup, tetapi juga membawa tuntutan mengenai perang dan persoalan sosial lainnya.

Karena itu, aksi tersebut tidak tepat jika disederhanakan sebagai demonstrasi yang semata-mata dipicu harga bahan bakar. Latar belakang aksi mencakup beberapa isu yang berkembang di masyarakat.

Kenaikan biaya hidup dapat menekan daya beli, khususnya ketika pengeluaran rumah tangga meningkat lebih cepat daripada pendapatan. Bagi pekerja berupah rendah, tekanan tersebut dapat memunculkan tuntutan terhadap kebijakan pemerintah di bidang ekonomi dan kesejahteraan.

Meski demikian, hubungan antara kondisi ekonomi dan kerusuhan harus dibaca secara hati-hati. Tidak semua peserta demonstrasi terlibat dalam kekerasan, dan tindakan sekelompok orang tidak mewakili seluruh massa.

Perkembangan di Milan kini menjadi perhatian karena mempertemukan dua tantangan besar bagi pemerintah Italia: merespons keresahan masyarakat secara substantif dan memastikan penyampaian aspirasi berlangsung tanpa kekerasan. (*)

 

Komentar (0)