Sabtu, 24 Oktober 2026
Breaking News
Daerah

Dedi Mulyadi Pantau Kebakaran Gunung Ciremai, 30 Hektare Lahan Dilaporkan Terdampak

Tajusa, M. | | 3 mnt baca
Dedi Mulyadi Pantau Kebakaran Gunung Ciremai, 30 Hektare Lahan Dilaporkan Terdampak
Bagikan:

Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI

KUNINGAN, BERITANOW.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM turun langsung memantau penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan. Upaya pemadaman dilakukan secara intensif, termasuk menggunakan helikopter untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.

Pemantauan tersebut berlangsung pada Jumat (23/10). Setelah penanganan selama dua hari, kondisi kebakaran dilaporkan mengalami penurunan dan sebagian besar titik api telah berhasil dikendalikan.

Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa helikopter telah dikerahkan untuk melakukan pemadaman melalui metode water bombing, yakni menjatuhkan air dari udara ke area yang terbakar. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat penanganan, terutama di lokasi dengan kondisi medan yang menyulitkan petugas.

Saat memberikan keterangan di Gedung Pakuan, Bandung, pada Jumat (23/10), KDM menjelaskan bahwa dirinya turut melakukan pemantauan udara guna memastikan titik-titik yang membutuhkan penanganan prioritas.

Menurut hasil pemantauan tersebut, intensitas kebakaran telah berkurang dibandingkan kondisi sebelumnya.

Luas Kebakaran Gunung Ciremai Diperkirakan 30 Hektare

Berdasarkan keterangan Gubernur Jawa Barat, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 30 hektare. Angka tersebut lebih kecil daripada kabar yang menyebutkan area terbakar mencapai hampir 60 hektare.

Dedi menjelaskan bahwa setelah penanganan yang dilakukan sehari sebelumnya, sebagian besar area terdampak telah mendapatkan penanganan. Sisa titik api diperkirakan sekitar 20 persen dari kondisi yang sebelumnya ditangani dan berada di lokasi yang dinilai tidak terlalu rawan.

Meski demikian, upaya pengendalian tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan api kembali meluas. Petugas perlu memastikan bahwa titik-titik yang masih menyala dapat ditangani hingga kondisi dinyatakan aman.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga melibatkan sejumlah unsur untuk mendukung operasi pemadaman. Bantuan helikopter berasal dari Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, TNI Angkatan Udara, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Penggunaan helikopter menjadi salah satu langkah penting karena tidak seluruh lokasi kebakaran dapat dijangkau dengan mudah melalui jalur darat.

Pemadaman Menghadapi Tantangan Medan Gunung Ciremai

KDM menjelaskan bahwa karakteristik medan di kawasan Gunung Ciremai memiliki tantangan tersendiri dalam penanganan kebakaran. Kondisi tersebut berbeda dengan kebakaran hutan yang sering terjadi di Kalimantan.

Menurutnya, api di kawasan Gunung Ciremai cenderung merambat mengikuti kontur lereng ke arah atas. Sementara itu, keterbatasan sumber air di sejumlah titik turut menjadi kendala dalam proses pemadaman.

Untuk mengurangi risiko penyebaran api, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah pengendalian dengan memanfaatkan jalur aliran air alami yang berada di kawasan hutan.

Strategi tersebut dilakukan dengan membersihkan kanal atau aliran sungai alami dari sampah dan material yang dapat menghambat aliran air. Dengan begitu, jalur tersebut diharapkan dapat kembali berfungsi ketika air tersedia dan membantu membatasi pergerakan api.

Dedi menyebutkan bahwa sekitar 500 orang telah dikerahkan untuk membantu membersihkan serta memfungsikan kembali kanal alami tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pencegahan agar kebakaran serupa tidak mudah meluas ke area lain.

Dedi Mulyadi Imbau Warga Tidak Membakar Lahan

Selain memperkuat penanganan kebakaran, Gubernur Jawa Barat mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar.

Imbauan tersebut disampaikan menjelang November, ketika sebagian petani mulai mempersiapkan lahan untuk kegiatan penanaman. Pembakaran rumput dan ilalang yang dianggap sebagai cara praktis membersihkan lahan berpotensi menimbulkan risiko apabila api tidak terkendali.

Kondisi vegetasi yang mudah terbakar serta medan yang sulit dijangkau dapat membuat api menyebar lebih luas dan menyulitkan proses pemadaman.

Karena itu, masyarakat diharapkan menggunakan metode pembukaan lahan yang lebih aman dan tidak memicu kebakaran hutan maupun lahan di sekitar kawasan Gunung Ciremai.

Penanganan kebakaran tidak hanya bergantung pada petugas dan peralatan pemadam, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam mencegah munculnya sumber api baru.

Dengan berkurangnya titik api, pengerahan bantuan udara, serta pembersihan jalur aliran air alami, upaya pengendalian kebakaran di kawasan Gunung Ciremai terus diarahkan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Pemantauan dan kewaspadaan tetap diperlukan agar api tidak kembali muncul di area yang sebelumnya telah ditangani.

Komentar (0)