Dari Krisis Rumah ke Kotak Suara, Spanyol Mencari Mandat Baru
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
MADRID, BERITANOW — Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez memilih mengembalikan pertarungan politik kepada pemilih setelah pemerintahannya semakin sulit mendapatkan dukungan parlemen. Pemilu yang semula baru diperlukan pada 2027 kini akan digelar pada 29 November 2026. Keputusan itu diumumkan hanya beberapa hari setelah dua kebijakan darurat pemerintah untuk mengatasi krisis perumahan kandas di Kongres.
Pemicu terdekatnya memang perumahan, tetapi persoalannya telah bergerak jauh melampaui harga sewa. Pemerintahan Sánchez merupakan pemerintahan minoritas yang bergantung pada dukungan sejumlah partai untuk meloloskan kebijakan. Penolakan terhadap paket perumahan memperlihatkan betapa sempitnya ruang politik yang dimiliki pemerintah untuk menjalankan agenda besarnya.
Rumah Menjadi Titik Ledak
Krisis tersebut memperoleh wajah manusia setelah Maricarmen Abascal, perempuan berusia 87 tahun, terusir dari rumah di Madrid yang telah ditempatinya selama sekitar tujuh dekade. Kasus itu memicu kemarahan publik dan memperbesar tuntutan terhadap pemerintah agar bertindak menghadapi mahalnya biaya tempat tinggal. Puluhan ribu orang kemudian turun ke jalan di Madrid dan berbagai kota lainnya.
Pemerintah merespons dengan dua dekret yang antara lain dirancang memperkuat perlindungan penyewa dan membatasi penggusuran kelompok rentan. Namun, Partido Popular (PP), Vox, dan Junts menolaknya di parlemen. PP berpendapat persoalan perumahan lebih tepat diselesaikan dengan meningkatkan pembangunan daripada memperluas regulasi.
Kekalahan tersebut mengubah persoalan sosial menjadi persoalan kekuasaan. Pemerintah mungkin memiliki rancangan kebijakan, tetapi kebijakan tidak dapat bekerja tanpa kemampuan membangun mayoritas di parlemen. Di titik inilah krisis perumahan sekaligus membuka kelemahan struktural pemerintahan Sánchez.
Pemerintah Masih Berdiri, tetapi Sulit Bergerak
Sánchez sebenarnya telah hidup dengan konfigurasi politik semacam itu sejak kembali membentuk pemerintahan setelah Pemilu 2023. PSOE membutuhkan dukungan partai-partai lain karena tidak menguasai mayoritas kursi. Konsekuensinya, setiap kebijakan penting membutuhkan negosiasi yang dapat berubah sesuai kepentingan masing-masing partai.
Junts memperlihatkan rumitnya hubungan tersebut. Partai separatis Catalonia itu pernah menjadi salah satu kekuatan yang memungkinkan Sánchez mempertahankan pemerintahan, tetapi kali ini bergabung dengan PP dan Vox untuk menolak kebijakan perumahan. Artinya, pembelahan politik Spanyol tidak selalu bergerak sederhana antara pemerintah dan oposisi.
Kegagalan kebijakan perumahan kemudian menjadi indikator persoalan yang lebih besar: kemampuan pemerintah mengubah agenda politik menjadi keputusan negara semakin terbatas. Pemerintahan dapat bertahan secara konstitusional, tetapi efektivitasnya akan dipertanyakan jika parlemen berulang kali tidak memberikan dukungan. Sánchez akhirnya memilih meminta pemilih menyusun kembali peta kekuatan tersebut.
Pemilu Menjadi Jalan Keluar, Bukan Jaminan
Dengan Pemilu Spanyol 2026, Sánchez berharap memperoleh dukungan yang lebih kuat bagi pemerintahan progresif. Sebaliknya, PP melihat pemilu sebagai kesempatan untuk mengganti pemerintahan setelah lebih dari delapan tahun Sánchez menjadi perdana menteri. Vox juga menjadi variabel penting karena konfigurasi kursi berikutnya dapat menentukan kebutuhan pembentukan koalisi.
Karena itu, pertarungan 29 November akan melampaui sosok Sánchez. Pemilih akan berhadapan dengan perbedaan pendekatan terhadap perumahan, migrasi, perlindungan sosial, ekonomi hingga arah politik Spanyol di tengah menguatnya partai-partai kanan di sejumlah negara Eropa. Krisis rumah hanya menjadi pintu yang membawa seluruh pertarungan tersebut menuju kotak suara.
Pemilu dini merupakan mekanisme demokrasi untuk menyelesaikan kebuntuan yang sulit diselesaikan di dalam parlemen. Sánchez menyerahkan kembali mandat kepada pemilih, tetapi hasil pemilu belum tentu menghasilkan pemerintahan yang lebih mudah bergerak apabila parlemen kembali terfragmentasi.
Pertanyaan terbesar Spanyol karena itu bukan sekadar siapa yang memperoleh suara terbanyak, melainkan apakah pemilu dapat menghasilkan kemampuan politik yang cukup untuk mengubah tuntutan masyarakat menjadi kebijakan.(*)