Dari Juara US Open ke Kekalahan Mengejutkan, Rybakina Memilih Berhenti Sejenak
Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
BEIJING, BERITANOW — Hanya beberapa pekan setelah mengangkat trofi US Open dan merebut peringkat satu dunia, Elena Rybakina mendapatkan pengingat betapa cepat situasi dapat berubah dalam tenis. Laga pertamanya setelah menjadi pemain nomor satu berakhir dengan kekalahan 6-3, 4-6, 3-6 dari Alina Charaeva pada putaran kedua China Open, Sabtu (3/10/2026). Charaeva datang ke Beijing sebagai petenis peringkat 118 dunia dan belum pernah mengalahkan pemain Top 10.
Rybakina sebenarnya memulai pertandingan dengan meyakinkan dan merebut set pertama. Charaeva bertahan, mengubah ritme pertandingan, kemudian memanfaatkan lima dari delapan peluang break point untuk menyelesaikan comeback dalam dua jam 11 menit. Hasil itu menjadikannya pemain berperingkat terendah yang mampu bangkit dari ketertinggalan satu set untuk mengalahkan petenis nomor satu dunia sejak sistem peringkat WTA diperkenalkan pada 1975.
Puncak Karier yang Menguras Energi
Kekalahan tersebut datang pada periode yang seharusnya menjadi perayaan terbesar dalam karier Rybakina. Petenis Kazakhstan berusia 27 tahun itu baru memenangi Grand Slam ketiganya di US Open dengan mengalahkan Aryna Sabalenka di final. Gelar tersebut sekaligus mengantarkannya untuk pertama kali menduduki peringkat satu dunia.
Namun, keberhasilan itu membawa kesibukan di luar lapangan. Rybakina mengatakan banyak hal terjadi setelah US Open sehingga dirinya tidak memiliki cukup kesempatan untuk tidur dan melakukan pemulihan. Ia juga sempat melewatkan Billie Jean King Cup Finals setelah menjalani periode kompetisi yang menguras fisik.
Tubuhnya kemudian memberikan peringatan lain di Beijing. Rybakina melakukan tujuh double fault dalam pertandingan melawan Charaeva dan mengaku kembali merasakan masalah pada kakinya menjelang akhir laga. Cedera pada kaki dan tungkai bawah tersebut sebelumnya juga memaksanya berhenti pada perempat final Cincinnati melawan Iga Swiatek pada Agustus.
Dari Beijing, Rybakina Memilih Mundur
Sehari setelah kekalahan tersebut, Rybakina mengumumkan mundur dari Wuhan Open karena cedera. Turnamen WTA 1000 itu berlangsung 12-18 Oktober dan seharusnya menjadi kesempatan baginya kembali bertanding setelah tersingkir cepat di Beijing. Tahun lalu, Rybakina mencapai perempat final di Wuhan.
Keputusan mundur membuat pemulihan menjadi prioritas dibanding mengejar poin dalam rangkaian turnamen Asia. Rybakina mengatakan akan menggunakan waktunya untuk beristirahat dan memulihkan kondisi sebelum kembali berkompetisi. Jadwal berikutnya saat ini adalah Ningbo Open, tempat ia berstatus sebagai juara bertahan.
Pilihan tersebut juga memperlihatkan persoalan yang lebih besar dalam olahraga individual seperti tenis. Seorang pemain tidak hanya menghadapi lawan di seberang net, tetapi juga perjalanan antarkota, jadwal turnamen, kewajiban setelah kemenangan dan kemampuan tubuh mempertahankan kondisi sepanjang musim. Peringkat satu dunia tidak membuat tuntutan tersebut berkurang.
Beijing Menelan Dua Penguasa Tenis Putri
Kejutan China Open ternyata tidak berhenti pada Rybakina. Sehari kemudian, Sabalenka menyusul keluar setelah dikalahkan petenis Ceko berusia 20 tahun, Nikola Bartunkova, dengan skor 4-6, 3-6. China Open pun kehilangan dua unggulan teratasnya pada pekan pembukaan turnamen.
Nasib keduanya membentuk ironi menarik. Beberapa pekan sebelumnya, Rybakina dan Sabalenka bertarung di final US Open dengan posisi nomor satu dunia ikut dipertaruhkan. Rybakina keluar sebagai juara dan menggantikan rivalnya di puncak peringkat, tetapi keduanya kini sama-sama dihentikan pemain yang jauh berada di bawah mereka dalam ranking.
Bagi Elena Rybakina, kekalahan di Beijing belum mengubah pencapaian luar biasa yang membawanya ke puncak tenis dunia. Namun, mundurnya sang petenis dari Wuhan memperlihatkan bahwa mempertahankan posisi tersebut menghadirkan tantangan berbeda dari merebutnya. Setelah perjalanan cepat menuju nomor satu dunia, pertandingan terpenting Rybakina untuk sementara bukan melawan pemain lain, melainkan memberikan tubuhnya kesempatan untuk pulih.(*)