Dari Hustle ke Slow Living, Mengapa Orang Mulai Memilih Hidup Lebih Pelan?
Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW.Com — Hidup cepat pernah menjadi simbol keberhasilan. Kalender penuh, pekerjaan menumpuk, selalu terhubung dengan ponsel, dan memiliki banyak aktivitas kerap dianggap sebagai tanda produktivitas.
Namun, perhatian terhadap cara menjalani hidup mulai berubah. Kesehatan, waktu pribadi, aktivitas fisik, kualitas istirahat, hingga batas penggunaan teknologi semakin masuk dalam pertimbangan sehari-hari.
Fenomena itu salah satunya tercermin dalam meningkatnya pembicaraan mengenai slow living, gaya hidup yang menekankan kesadaran terhadap waktu, keseimbangan, dan kualitas pengalaman dibandingkan sekadar mengejar kecepatan.
Slow living bukan berarti berhenti bekerja atau menghindari kesibukan. Konsep ini lebih dekat dengan upaya mengatur ritme kehidupan agar aktivitas sehari-hari dijalani secara lebih sadar.
Kesehatan Mulai Menjadi Bagian dari Gaya Hidup
Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya perhatian terhadap kesehatan dan kebugaran.
Survei PwC Voice of the Consumer 2026 terhadap 503 responden Indonesia menunjukkan 59 persen konsumen memprioritaskan hidup lebih panjang dan sehat. Sebanyak 51 persen juga memprioritaskan pengurangan stres dan peningkatan kesehatan mental.
Dalam survei yang dilakukan pada Februari-Maret 2026 itu, 58 persen konsumen Indonesia menyatakan rutin melakukan aktivitas kebugaran fisik, sementara 38 persen menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan semakin masuk ke dalam rutinitas sehari-hari, bukan hanya menjadi perhatian ketika seseorang mengalami gangguan kesehatan.
PwC juga mencatat 86 persen konsumen Indonesia telah menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable. Angkanya mencapai 90 persen di kalangan konsumen yang lebih muda.
Ketika Teknologi Membuat Orang Ingin Mengambil Jeda
Di sisi lain, teknologi yang membantu banyak aktivitas juga membuat kehidupan semakin sulit benar-benar terputus dari dunia digital.
Ponsel digunakan untuk bekerja, berkomunikasi, mendapatkan informasi, berbelanja hingga mencari hiburan. Notifikasi pun dapat masuk kapan saja.
Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan pada April 2026 menyoroti fenomena tersebut melalui pembahasan mengenai gaya hidup SloMo dan digital detox. Konsep slow movement ditempatkan sebagai upaya memberikan ruang bagi kualitas, kesadaran, dan jeda di tengah kehidupan yang semakin cepat.
Fenomena digital detox juga menjadi objek penelitian akademik.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Societies pada Februari 2026 meneliti niat melakukan digital detox di kalangan Gen Z Indonesia. Penelitian tersebut menemukan bahwa kelebihan informasi dan nilai-nilai kehidupan tertentu berkaitan dengan niat mengurangi penggunaan media sosial. Kemampuan individu mengendalikan diri juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Artinya, keinginan mengambil jarak dari media sosial tidak selalu berarti menolak teknologi. Justru muncul kebutuhan untuk menentukan kapan teknologi digunakan dan kapan seseorang perlu mengambil jeda.
Hidup Lebih Pelan Tidak Harus Mahal
Gambaran slow living di media sosial terkadang identik dengan rumah estetik, perjalanan ke tempat tenang, kopi spesialti, olahraga tertentu atau liburan panjang.
Padahal, praktiknya tidak harus demikian.
Memasak di rumah, berjalan kaki, membaca buku, berkumpul bersama keluarga, berolahraga di ruang publik, atau menikmati waktu tanpa ponsel dapat menjadi bentuk sederhana dari upaya memperlambat ritme kehidupan.
Faktor ekonomi juga ikut memengaruhi pilihan gaya hidup.
PwC menemukan 77 persen konsumen Indonesia mengutamakan value for money ketika memilih produk atau layanan kesehatan dan wellness. Sebanyak 64 persen menjadikan biaya sebagai faktor penting. Di sisi lain, 50 persen responden menyebut keterbatasan pendapatan sebagai salah satu hambatan mencapai tujuan kesehatan mereka.
Karena itu, gaya hidup sehat dan seimbang tidak selalu harus identik dengan konsumsi mahal.
Thrifting dan Cara Baru Melihat Konsumsi
Perubahan gaya hidup juga terlihat dalam cara sebagian generasi muda membeli pakaian.
Penelitian yang diterbitkan Frontiers in Communication pada September 2026 mengenai praktik thrifting di kalangan Gen Z di kawasan Greater Jakarta menemukan bahwa konsumsi barang bekas berkaitan dengan keterjangkauan harga, kualitas produk, ekspresi identitas, kesadaran lingkungan, serta penggunaan media digital.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap tujuh partisipan. Karena jumlah partisipannya kecil, hasilnya tidak dapat digunakan untuk menggambarkan seluruh Gen Z di Indonesia. Namun, penelitian itu memberikan gambaran mengenai alasan yang muncul di balik praktik thrifting pada kelompok yang diteliti.
Temuan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa membeli barang bekas tidak selalu sekadar persoalan harga.
Bagi sebagian anak muda, thrifting dapat menjadi cara mencari pakaian yang berbeda, mengekspresikan identitas, sekaligus mempertimbangkan aspek lingkungan.
Dari Mengejar Kesibukan ke Mengatur Ritme
Jika sejumlah fenomena tersebut ditempatkan dalam satu konteks, terlihat adanya perubahan cara sebagian masyarakat memandang kualitas hidup.
Olahraga bukan hanya aktivitas sesekali. Kesehatan mulai dipantau menggunakan perangkat digital. Penggunaan media sosial mulai dipertanyakan. Konsumsi barang juga semakin dipertimbangkan dari sisi harga, identitas dan lingkungan.
Namun, semua itu tidak otomatis berarti masyarakat Indonesia sedang beralih secara massal ke slow living.
Istilah tersebut lebih tepat digunakan untuk membaca sejumlah kecenderungan yang muncul bersamaan: keinginan menjalani hidup lebih sehat, kebutuhan mengambil jeda dari teknologi, serta upaya mengatur waktu dan konsumsi secara lebih sadar.
Bukan Berhenti, tetapi Memilih
Pada akhirnya, slow living bukan tentang siapa yang paling sedikit bekerja atau paling jarang menggunakan teknologi.
Ia lebih merupakan pertanyaan tentang bagaimana seseorang menentukan prioritas.
Dalam kehidupan yang semakin cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak, mematikan notifikasi, berjalan kaki, berbicara dengan keluarga, berolahraga, membaca, atau sekadar menikmati waktu tanpa tuntutan produktivitas bisa menjadi bagian dari cara seseorang menjaga keseimbangan.
Hidup lebih pelan bukan berarti meninggalkan ambisi.
Bagi sebagian orang, justru itu adalah cara untuk memastikan bahwa ambisi, pekerjaan, teknologi dan konsumsi tetap berada dalam kendali, bukan sebaliknya. (*)