Jumat, 25 September 2026
Breaking News
Daerah

Daratan Baru Seluas 30,3 Hektare Muncul di Dekat Gunung Anak Krakatau, Benarkah Cikal Bakal “Cucu” Krakatau?

Tajusa, M. | | 4 mnt baca
Daratan Baru Seluas 30,3 Hektare Muncul di Dekat Gunung Anak Krakatau, Benarkah Cikal Bakal “Cucu” Krakatau?
Bagikan:

Gabung Di Kanal Whatsapp KLIK DISINI

LAMPUNG SELATAN, BERITANOW.COM – Fenomena vulkanik kembali menjadi perhatian di kawasan Selat Sunda. Sebuah daratan baru dengan luas diperkirakan mencapai 30,3 hektare terlihat di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan.

Daratan tersebut berada di kawasan antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Kemunculannya dikaitkan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Informasi mengenai keberadaan daratan baru itu telah dikonfirmasi oleh Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, pada Rabu, 23 September 2026.

Menurut Suwarno, daratan tersebut bukan terbentuk secara mendadak hanya dalam satu kali kejadian erupsi. Material vulkanik yang dikeluarkan Gunung Anak Krakatau selama periode peningkatan aktivitas kemudian mengalami penumpukan hingga membentuk daratan di sekitar kawasan gunung.

Material tersebut mulai terlihat seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak status aktivitasnya dinaikkan menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026.

Terbentuk dari Material Vulkanik

Daratan baru yang kini menjadi perhatian tersebut pada dasarnya berkaitan dengan proses geologi dan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Material hasil erupsi yang keluar dari pusat aktivitas gunung dapat terakumulasi di wilayah sekitar gunung api. Dalam kasus ini, material tersebut kemudian membentuk permukaan daratan baru di antara kawasan Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung.

Dengan demikian, kemunculan daratan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya gunung api baru.

Sebelumnya, aktivitas Gunung Anak Krakatau memang mengalami peningkatan cukup signifikan. Badan Geologi mencatat gunung api tersebut mengalami 224 kali erupsi hingga 3 September 2026. Selain itu, pada 4 hingga 6 September 2026 terjadi erupsi menerus selama sekitar 25 jam yang menghasilkan aliran lava ke sejumlah arah dari pusat erupsi.

Setelah periode tersebut, aktivitas Gunung Anak Krakatau secara umum menunjukkan kecenderungan menurun. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar evaluasi perubahan status aktivitas gunung api.

Bukan Berarti Muncul “Cucu Krakatau”

Munculnya daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau kemudian menimbulkan berbagai spekulasi. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah apakah daratan tersebut merupakan tanda awal terbentuknya gunung api baru atau yang sering disebut masyarakat sebagai “cucu Krakatau”.

Namun, kemunculan daratan baru tidak dapat langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa pusat erupsi baru akan terbentuk di lokasi tersebut.

Suwarno juga menyampaikan bahwa belum ada kepastian mengenai kemungkinan munculnya pusat aktivitas vulkanik baru di kawasan daratan tersebut.

Kondisi bawah permukaan bumi, termasuk pergerakan magma, tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan adanya material vulkanik yang terlihat di permukaan.

Gunung Anak Krakatau sendiri tetap memiliki sistem vulkanik yang aktif. Pergerakan magma di bawah permukaan dapat mengikuti rekahan atau jalur tertentu, tetapi keberadaan daratan baru belum cukup untuk memastikan bahwa magma sedang bergerak menuju lokasi tersebut.

Karena itu, fenomena tersebut saat ini lebih tepat dipahami sebagai bagian dari proses pembentukan dan penumpukan material vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Status Gunung Anak Krakatau Kini Level II Waspada

Fenomena daratan baru ini muncul tidak lama setelah status aktivitas Gunung Anak Krakatau diturunkan.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan status Gunung Anak Krakatau turun dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada mulai 21 September 2026 pukul 18.30 WIB. Penurunan tersebut dilakukan setelah evaluasi menunjukkan adanya kecenderungan penurunan aktivitas vulkanik dan perubahan data deformasi yang mengarah pada deflasi.

Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau berada pada Level III Siaga sejak 2 Juli 2026 akibat peningkatan aktivitas kegempaan dan deformasi.

Meski status telah turun menjadi Waspada, masyarakat tetap diminta memperhatikan rekomendasi keselamatan yang berlaku.

Pada Level II, masyarakat, wisatawan, maupun pihak lain tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Daratan Baru Masih dalam Pemantauan

Kemunculan daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare tersebut menjadi salah satu fenomena yang perlu terus diamati bersamaan dengan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Para pengamat gunung api masih melakukan pemantauan terhadap aktivitas vulkanik, kegempaan, deformasi, serta kondisi visual kawasan.

Dengan adanya pemantauan tersebut, perkembangan daratan baru dapat diamati dari waktu ke waktu, termasuk apabila terjadi perubahan bentuk maupun penambahan material vulkanik.

Untuk saat ini, belum ada dasar untuk menyebut daratan tersebut sebagai gunung api baru atau “cucu Krakatau”. Kepastian mengenai perkembangan kawasan tersebut membutuhkan pengamatan vulkanologi secara berkelanjutan.

Masyarakat di sekitar Selat Sunda juga diimbau tidak mudah mempercayai spekulasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan tetap mengacu pada informasi resmi dari Badan Geologi, BPBD, serta instansi terkait. Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat agar tidak terpancing isu mengenai potensi tsunami yang tidak didukung informasi resmi.

Komentar (0)