Dapatkan Update Berita & Hadiah Menarik Setiap Hari, Gabung Di Whatsapp Channel KLIK DISINI
JAKARTA, BERITANOW — Dani Yogatama, alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pendiri dan CEO Reka AI, terpilih masuk jaringan Endeavor Entrepreneur setelah melewati International Selection Panel (ISP) ke-109 di Montreal, Kanada. Seleksi yang berlangsung pada 15–17 September 2026 itu menetapkan Dani bersama 18 pengusaha lain dari 10 perusahaan. Bagi Reka AI, masuknya Dani ke jejaring tersebut membuka akses lebih luas terhadap mentor, investor, dan pengusaha internasional yang dapat membantu perusahaan berkembang di pasar global.
Dani bukan pendatang baru dalam riset kecerdasan buatan. Setelah menempuh pendidikan di ITB dan University of Tokyo, ia meraih doktor ilmu komputer dari Carnegie Mellon University dengan fokus pada pembelajaran mesin statistik dan linguistik komputasional. Kariernya kemudian membawanya ke Google DeepMind di London, tempat ia bekerja hampir tujuh tahun sebagai peneliti senior dan terlibat dalam riset yang berkaitan dengan pengembangan teknologi seperti LaMDA, Gemini, dan AlphaCode.
Pada 2022, Dani bersama sejumlah peneliti yang memiliki pengalaman di Google DeepMind dan Meta mendirikan Reka AI. Perusahaan itu berfokus mengembangkan model AI multimodal yang mampu mengolah lebih dari satu jenis informasi, termasuk teks, gambar, audio, dan video. Reka kemudian mengembangkan berbagai produk dan model, termasuk Reka Flash dan teknologi analisis visual untuk kebutuhan perusahaan.
Reka AI Tembus Valuasi Unicorn
Perjalanan Reka AI berlangsung cepat di tengah persaingan perusahaan AI global. Pada 2025, perusahaan tersebut memperoleh pendanaan Seri B sebesar 110 juta dolar AS dari investor yang antara lain mencakup NVIDIA dan Snowflake. Pendanaan itu membawa valuasi Reka melampaui 1 miliar dolar AS, sehingga perusahaan masuk kategori unicorn.
Capaian tersebut penting karena Reka bergerak di bidang yang membutuhkan modal sangat besar untuk komputasi, riset, serta pengembangan model. Kompetisinya juga langsung bersinggungan dengan perusahaan dan laboratorium AI dari Amerika Serikat, Eropa, serta China. Sejak awal, Reka memilih menawarkan teknologi AI multimodal bagi perusahaan ketimbang hanya mengandalkan produk konsumen massal.
Hubungan Dani dengan Indonesia juga tetap terlihat dalam perjalanan Reka. Perusahaan tersebut sebelumnya menjalin kerja sama dengan Telkom untuk mengeksplorasi pemanfaatan model AI multimodal dalam layanan digital di Indonesia. Dani menyebut keberagaman bahasa Indonesia dan pertumbuhan ekonomi digital sebagai peluang bagi pengembangan teknologi AI yang dapat digunakan masyarakat serta industri.
Apa Itu Jejaring Global Endeavor?
Endeavor merupakan organisasi global yang berfokus mendukung pengusaha dengan potensi pertumbuhan tinggi. Untuk menjadi Endeavor Entrepreneur, seorang pendiri harus melewati proses seleksi bertahap yang puncaknya berupa International Selection Panel, ketika kandidat diwawancarai dan dinilai oleh pengusaha serta investor dari jaringan internasional Endeavor. Penilaiannya tidak hanya melihat kemampuan perusahaan tumbuh, tetapi juga komitmen pendirinya untuk kembali membantu ekosistem kewirausahaan.
Setelah terpilih, pengusaha memperoleh akses ke jaringan mentor, investor, mitra bisnis, dan sesama pendiri perusahaan dari berbagai negara. Endeavor menggunakan konsep “Multiplier Effect”, yakni ketika pengusaha yang berhasil kemudian membagikan pengetahuan, modal, jaringan, atau pengalaman kepada generasi pengusaha berikutnya. Karena itu, jaringan tersebut bukan sekadar penghargaan atau daftar pengusaha berprestasi, melainkan platform pengembangan bisnis lintas negara.
Dani tercatat sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia ke-120 dan kini masuk dalam daftar komunitas resmi Endeavor Indonesia. Masuknya pendiri Reka AI memperluas representasi Indonesia di jaringan tersebut ke sektor frontier AI, setelah sebelumnya banyak pengusaha Indonesia berasal dari bidang teknologi finansial, logistik, perdagangan, dan layanan konsumen.
Talenta Indonesia di Panggung AI Global
Kisah Dani menunjukkan bahwa keterlibatan talenta Indonesia dalam AI tidak harus berhenti sebagai pengguna teknologi. Jalurnya bergerak dari pendidikan teknik di Indonesia, riset akademik internasional, pengalaman di salah satu laboratorium AI terkemuka dunia, hingga mendirikan perusahaan teknologi sendiri. Reka kemudian tumbuh menjadi perusahaan bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS dengan investor global.
Namun status unicorn dan masuknya Dani ke Endeavor bukan jaminan keberhasilan jangka panjang. Industri AI bergerak sangat cepat dan membutuhkan investasi komputasi, riset, talenta, serta kemampuan mengubah teknologi menjadi produk yang dibutuhkan pasar. Ujian berikutnya bagi Reka adalah apakah teknologi yang dikembangkan dapat bersaing secara berkelanjutan di tengah dominasi perusahaan AI global yang memiliki sumber daya jauh lebih besar.
Bagi Indonesia, nilai strategisnya terletak pada keberadaan talenta yang mampu masuk ke lapisan pencipta teknologi. Jika pengalaman, jejaring, dan pengetahuan seperti yang dimiliki Dani dapat kembali terhubung dengan ekosistem Indonesia, dampaknya dapat melampaui keberhasilan satu perusahaan. Di situlah keanggotaan Endeavor berpotensi menjadi jembatan antara keberhasilan global Reka AI dan pertumbuhan generasi perusahaan teknologi Indonesia berikutnya.(*)